Di Palangka Raya Karhutla Sudah 15 Kali Terjadi, Bukit Tunggal Jadi Titik Terparah

PALANGKA RAYA, PROKALTENG.CO – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kota Palangka Raya terus bertambah selama masa siaga darurat. Sejak status siaga darurat ditetapkan pada 1 Juni 2026 lalu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Palangka Raya mencatat telah terjadi 15 kejadian karhutla dengan Kelurahan Bukit Tunggal menjadi wilayah paling rawan.

Kasus terbaru terjadi di kawasan sekitar Danau Rangas, Kelurahan Bukit Tunggal, Minggu (12/7/2026) siang. Kebakaran lahan gambut tersebut diperkirakan menghanguskan sekitar 2,88 hektare dan semakin menambah daftar kejadian karhutla di wilayah yang selama ini menjadi titik rawan.

Plt. Kepala Pelaksana BPBD Kota Palangka Raya Hendrikus Satria Budi mengatakan, dari total 15 kejadian tersebut, sebanyak 10 kejadian berada di Kelurahan Bukit Tunggal dengan luas lahan terbakar diperkirakan lebih dari 10 hektare. Selain itu, terdapat dua kejadian di Kelurahan Tanjung Pinang, yakni di kawasan Bangaris dan hamparan kegiatan lanjutan, serta masing-masing satu kejadian di Kelurahan Sabaru dan Petuk Katimpun.

Baca Juga :  Mahasiswa Papua di Kalteng Suarakan Keadilan HAM untuk Warga Sipil yang Ditangkap

“Di Kelurahan Bukit Tunggal tercatat 10 kejadian dengan luas lahan yang terbakar diperkirakan lebih dari 10 hektare. Selain itu, di Kelurahan Tanjung Pinang, terdapat dua kejadian di Jalan Bangaris dan hamparan kegiatan lanjutan. Kemudian di Kelurahan Sabaru dan Petuk Katimpun,” ujarnya, Senin (13/7/2026).

Hendrikus menyebut, sebagian besar kejadian karhutla masih dipicu ulah maupun kelalaian manusia saat melakukan pembakaran. Karena itu, masyarakat diminta tidak membuka lahan dengan cara membakar maupun melakukan aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran selama musim kemarau.

Kebakaran lahan terbaru terjadi di Danau Rangas dan sudah berhasil dipadamkan setelah petugas gabungan berjibaku selama sekitar lima jam, mulai pukul 12.00 WIB hingga sekitar pukul 17.00 WIB. Kondisi lahan gambut membuat proses pemadaman berlangsung cukup sulit karena bara api dapat terus menyala di bawah permukaan tanah.

Baca Juga :  Kemenkum Kalteng Masuk DPRD, Bahas Jurus Perda Berkualitas dan Perlindungan KI Daerah

Pemadaman melibatkan personel gabungan dari TNI, Polri, TRC BPBD Kota Palangka Raya, BPBPK Kalimantan Tengah, Dinas Kehutanan Kalimantan Tengah, serta dukungan satu unit helikopter water bombing milik BNPB. Petugas melakukan pemadaman dari darat dan udara agar api tidak meluas ke kawasan vegetasi kering di sekitarnya.

Electronic money exchangers listing

Hendrikus menambahkan, BPBD Kota Palangka Raya bersama TNI, Polri, BPBD Provinsi Kalimantan Tengah, dan Dinas Kehutanan terus memperkuat patroli, pemantauan titik api, serta respons cepat terhadap setiap laporan kebakaran.

Ia berharap masyarakat ikut berperan aktif mencegah karhutla dengan tidak melakukan pembakaran lahan dan segera melaporkan apabila menemukan titik api.

“Dengan dukungan semua pihak, kami berharap Kota Palangka Raya dapat terhindar dari bencana kabut asap selama musim kemarau tahun ini,” tegasnya. (jef)

PALANGKA RAYA, PROKALTENG.CO – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kota Palangka Raya terus bertambah selama masa siaga darurat. Sejak status siaga darurat ditetapkan pada 1 Juni 2026 lalu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Palangka Raya mencatat telah terjadi 15 kejadian karhutla dengan Kelurahan Bukit Tunggal menjadi wilayah paling rawan.

Kasus terbaru terjadi di kawasan sekitar Danau Rangas, Kelurahan Bukit Tunggal, Minggu (12/7/2026) siang. Kebakaran lahan gambut tersebut diperkirakan menghanguskan sekitar 2,88 hektare dan semakin menambah daftar kejadian karhutla di wilayah yang selama ini menjadi titik rawan.

Plt. Kepala Pelaksana BPBD Kota Palangka Raya Hendrikus Satria Budi mengatakan, dari total 15 kejadian tersebut, sebanyak 10 kejadian berada di Kelurahan Bukit Tunggal dengan luas lahan terbakar diperkirakan lebih dari 10 hektare. Selain itu, terdapat dua kejadian di Kelurahan Tanjung Pinang, yakni di kawasan Bangaris dan hamparan kegiatan lanjutan, serta masing-masing satu kejadian di Kelurahan Sabaru dan Petuk Katimpun.

Electronic money exchangers listing
Baca Juga :  Mahasiswa Papua di Kalteng Suarakan Keadilan HAM untuk Warga Sipil yang Ditangkap

“Di Kelurahan Bukit Tunggal tercatat 10 kejadian dengan luas lahan yang terbakar diperkirakan lebih dari 10 hektare. Selain itu, di Kelurahan Tanjung Pinang, terdapat dua kejadian di Jalan Bangaris dan hamparan kegiatan lanjutan. Kemudian di Kelurahan Sabaru dan Petuk Katimpun,” ujarnya, Senin (13/7/2026).

Hendrikus menyebut, sebagian besar kejadian karhutla masih dipicu ulah maupun kelalaian manusia saat melakukan pembakaran. Karena itu, masyarakat diminta tidak membuka lahan dengan cara membakar maupun melakukan aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran selama musim kemarau.

Kebakaran lahan terbaru terjadi di Danau Rangas dan sudah berhasil dipadamkan setelah petugas gabungan berjibaku selama sekitar lima jam, mulai pukul 12.00 WIB hingga sekitar pukul 17.00 WIB. Kondisi lahan gambut membuat proses pemadaman berlangsung cukup sulit karena bara api dapat terus menyala di bawah permukaan tanah.

Baca Juga :  Kemenkum Kalteng Masuk DPRD, Bahas Jurus Perda Berkualitas dan Perlindungan KI Daerah

Pemadaman melibatkan personel gabungan dari TNI, Polri, TRC BPBD Kota Palangka Raya, BPBPK Kalimantan Tengah, Dinas Kehutanan Kalimantan Tengah, serta dukungan satu unit helikopter water bombing milik BNPB. Petugas melakukan pemadaman dari darat dan udara agar api tidak meluas ke kawasan vegetasi kering di sekitarnya.

Hendrikus menambahkan, BPBD Kota Palangka Raya bersama TNI, Polri, BPBD Provinsi Kalimantan Tengah, dan Dinas Kehutanan terus memperkuat patroli, pemantauan titik api, serta respons cepat terhadap setiap laporan kebakaran.

Ia berharap masyarakat ikut berperan aktif mencegah karhutla dengan tidak melakukan pembakaran lahan dan segera melaporkan apabila menemukan titik api.

“Dengan dukungan semua pihak, kami berharap Kota Palangka Raya dapat terhindar dari bencana kabut asap selama musim kemarau tahun ini,” tegasnya. (jef)

Terpopuler

Artikel Terbaru