LAMANDAU, PROKALTENG.CO – Aktivitas pertanian di Desa Kawa, Kecamatan Lamandau, Kabupaten Lamandau, menunjukkan pemandangan yang berbeda dari biasanya.
Jika umumnya padi ditanam di lahan persawahan yang tergenang air, masyarakat di desa ini justru sukses mengembangkan budidaya padi di dataran tanah darat atau lahan kering.
Keunikan ini terlihat jelas di lahan milik Wardino, salah seorang warga setempat yang memelopori penanaman padi di area non-sawah.
Langkah ini diambil sebagai inovasi dalam memanfaatkan karakteristik geografis wilayah pedesaan Lamandau yang didominasi oleh daratan luas.
Wardino menuturkan bahwa metode menanam padi di tanah darat memang memiliki tantangan dan teknik tersendiri yang berbeda dengan daerah lain.
Ia mengaku ingin membuktikan bahwa keterbatasan lahan basah bukan menjadi penghalang bagi masyarakat untuk tetap bisa memproduksi pangan secara mandiri.
“Kami menanam padi ini di tanah darat, berbeda dengan daerah lain yang umumnya menggunakan sawah. Luas lahan yang kami kelola saat ini hanya satu hektar,” ujar Wardino saat memberikan keterangan kepada Prokalteng.co, Rabu (21/1/2026).
Momentum kali ini menjadi sangat spesial bagi Wardino karena merupakan masa panen perdana bagi tanaman padinya.
Ia mengungkapkan rasa syukurnya karena seluruh proses penanaman hingga pemotongan padi di lahan tersebut telah selesai dilaksanakan dengan baik tanpa kendala berarti.
Mengenai produktivitas, Wardino menjelaskan bahwa hasil panen padi per hektar sangat bergantung pada banyak faktor.
Secara umum, kisaran hasil bisa mencapai 3 hingga 8 ton Gabah Kering Panen (GKP), namun hal itu tetap dipengaruhi oleh varietas benih, teknologi pertanian yang digunakan, serta kondisi kesuburan lahan.
“Untuk hasil panen kali ini, perkiraan kami akan mendapatkan sekitar 2,5 sampai 3,5 ton beras bersih setelah proses penggilingan. Meskipun target awal bisa mencapai 10 ton atau lebih jika dilakukan perawatan yang lebih intensif,” tambahnya.
Meski masih dalam tahap pengembangan, keberhasilan panen di lahan darat ini diharapkan mampu menjadi inspirasi bagi petani lain di Kabupaten Lamandau.
“Dengan perawatan yang lebih maksimal di masa mendatang, optimisme untuk mencapai swasembada pangan di tingkat desa pun semakin terbuka lebar,” tandasnya. (bib)


