Sosialisasi Bakal Calon Rektor UPR

Natalina Asi Usung Visi Inovasi Global yang Berintegritas dan Dorong Transformasi Hilirisasi Riset

PALANGKA RAYA, PROKALTENG.CO – Pemilihan Rektor Universitas Palangka Raya (UPR) memasuki tahapan sosialisasi bakal calon. Salah satu kandidat, Dr. Natalina Asi, memaparkan gagasan strategisnya untuk merespons momentum Indonesia Emas 2045.

“Visi saya itu inovasi global yang berintegritas dan berdampak dengan berasaskan falsafah Huma Betang,” tegas Natalina membuka presentasinya pada sosialisasi di Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UPR, Kamis (18/6/2026).

Ia tidak sekadar mengejar standar akademik biasa. Mantan Wakil Rektor Bidang Kerja Sama UPR ini menitikberatkan pada pemanfaatan keunggulan geografis Kalteng untuk bersaing di level internasional.

“UPR berada di tengah kondisi geografis yang seksi untuk dilihat oleh semua mata. Peluang berdiri di kancah global adalah melalui kelebihan geografi yang Tuhan berikan, yaitu lahan gambut,” imbuhnya.

Dr. Natalina secara tajam menyoroti budaya akademik kampus yang kerap berjarak dari realitas. Ia mendorong transformasi hilirisasi riset agar manfaatnya langsung dirasakan publik.

Baca Juga :  Penting! Setiap Program Harus Disosialisasikan Terlebih Dulu

“Perguruan tinggi bukan menara gading yang tidak bisa disentuh, Bapak Ibu. Kita mesti berdampak buat masyarakat karena mereka butuh kita,” ujarnya mengingatkan.

Menurutnya, Tri Dharma Perguruan Tinggi jangan hanya berhenti pada laporan dan kesimpulan riset semata.

Electronic money exchangers listing

“Universitas itu gudangnya orang pintar. Kalau gudang orang pintar, ‘so’ dia mesti kreatif menghasilkan sesuatu sebagai jawaban dari persoalan yang ada di masyarakat,” paparnya.

Guna mewujudkan hal tersebut, ia menggagas program Mall of Expert (etalase pakar). UPR ditargetkan menjadi rujukan utama bagi pihak luar negeri maupun institusi yang membutuhkan keahlian spesifik.

“Kalau orang mencari ahli gambut, mestinya carinya di UPR. Kita harus punya Mall of Expert sehingga saat orang butuh tenaga ahli, kita tinggal menyodorkan,” tambahnya optimis.

Terkait tata kelola Badan Layanan Umum (BLU) di kampus, Natalina menjanjikan transparansi administrasi. Ia menolak keras mentalitas birokrasi yang sekadar mencari muka.

“Kita butuh pengelolaan yang lebih transparan. Yang teman-teman ini tidak hanya mengatakan ‘asal bapak senang’. No!” tegas akademisi yang Berasal Dari Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) tersebut.

Baca Juga :  Perlindungan Perempuan dan Anak Prioritas Utama

Lebih jauh, ia akan menginternalisasi kearifan lokal Huma Betang ke dalam setiap sendi kehidupan kampus. Baginya, harmoni masyarakat Dayak adalah contoh nyata pengelolaan keberagaman yang sukses.

“Masyarakat Dayak keunggulannya adalah toleransi yang tinggi. Saya mau kampus ini memberikan kesempatan, hak, dan kewajiban yang sama kepada siapa pun,” ucap Natalina.

Untuk mengeksekusi visi tersebut, ia merumuskan enam tujuan strategis pembangunan. Beberapa di antaranya meliputi elevasi standar internasional, transformasi tata kelola, dan digitalisasi fasilitas kampus.

Menutup pemaparannya, Natalina menjanjikan kepemimpinan yang berpijak pada realitas dan tanggung jawab.

“Saya tidak berjanji yang muluk-muluk, tetapi saya rasional. Ketika saya menuntut universitas ini unggul, prodi ini unggul, maka saya harus komit untuk memperbaiki fasilitas,” pungkasnya. (her)

PALANGKA RAYA, PROKALTENG.CO – Pemilihan Rektor Universitas Palangka Raya (UPR) memasuki tahapan sosialisasi bakal calon. Salah satu kandidat, Dr. Natalina Asi, memaparkan gagasan strategisnya untuk merespons momentum Indonesia Emas 2045.

“Visi saya itu inovasi global yang berintegritas dan berdampak dengan berasaskan falsafah Huma Betang,” tegas Natalina membuka presentasinya pada sosialisasi di Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UPR, Kamis (18/6/2026).

Ia tidak sekadar mengejar standar akademik biasa. Mantan Wakil Rektor Bidang Kerja Sama UPR ini menitikberatkan pada pemanfaatan keunggulan geografis Kalteng untuk bersaing di level internasional.

Electronic money exchangers listing

“UPR berada di tengah kondisi geografis yang seksi untuk dilihat oleh semua mata. Peluang berdiri di kancah global adalah melalui kelebihan geografi yang Tuhan berikan, yaitu lahan gambut,” imbuhnya.

Dr. Natalina secara tajam menyoroti budaya akademik kampus yang kerap berjarak dari realitas. Ia mendorong transformasi hilirisasi riset agar manfaatnya langsung dirasakan publik.

Baca Juga :  Penting! Setiap Program Harus Disosialisasikan Terlebih Dulu

“Perguruan tinggi bukan menara gading yang tidak bisa disentuh, Bapak Ibu. Kita mesti berdampak buat masyarakat karena mereka butuh kita,” ujarnya mengingatkan.

Menurutnya, Tri Dharma Perguruan Tinggi jangan hanya berhenti pada laporan dan kesimpulan riset semata.

“Universitas itu gudangnya orang pintar. Kalau gudang orang pintar, ‘so’ dia mesti kreatif menghasilkan sesuatu sebagai jawaban dari persoalan yang ada di masyarakat,” paparnya.

Guna mewujudkan hal tersebut, ia menggagas program Mall of Expert (etalase pakar). UPR ditargetkan menjadi rujukan utama bagi pihak luar negeri maupun institusi yang membutuhkan keahlian spesifik.

“Kalau orang mencari ahli gambut, mestinya carinya di UPR. Kita harus punya Mall of Expert sehingga saat orang butuh tenaga ahli, kita tinggal menyodorkan,” tambahnya optimis.

Terkait tata kelola Badan Layanan Umum (BLU) di kampus, Natalina menjanjikan transparansi administrasi. Ia menolak keras mentalitas birokrasi yang sekadar mencari muka.

“Kita butuh pengelolaan yang lebih transparan. Yang teman-teman ini tidak hanya mengatakan ‘asal bapak senang’. No!” tegas akademisi yang Berasal Dari Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) tersebut.

Baca Juga :  Perlindungan Perempuan dan Anak Prioritas Utama

Lebih jauh, ia akan menginternalisasi kearifan lokal Huma Betang ke dalam setiap sendi kehidupan kampus. Baginya, harmoni masyarakat Dayak adalah contoh nyata pengelolaan keberagaman yang sukses.

“Masyarakat Dayak keunggulannya adalah toleransi yang tinggi. Saya mau kampus ini memberikan kesempatan, hak, dan kewajiban yang sama kepada siapa pun,” ucap Natalina.

Untuk mengeksekusi visi tersebut, ia merumuskan enam tujuan strategis pembangunan. Beberapa di antaranya meliputi elevasi standar internasional, transformasi tata kelola, dan digitalisasi fasilitas kampus.

Menutup pemaparannya, Natalina menjanjikan kepemimpinan yang berpijak pada realitas dan tanggung jawab.

“Saya tidak berjanji yang muluk-muluk, tetapi saya rasional. Ketika saya menuntut universitas ini unggul, prodi ini unggul, maka saya harus komit untuk memperbaiki fasilitas,” pungkasnya. (her)

Terpopuler

Artikel Terbaru