Muhasabah di Tengah Musibah dan Bencana

PROKALTENG.CO– Ketika manusia salah memperhitungkan alam, dan harus berhadapan dengan akibat pilihaannya. Alam memiliki hukum dan batasan sendiri . Manusia tidak mampu menghilangkan seluruh risiko, tetapi dapat memperkecil ataupun memperbesar dampak cara membangun, mengelola lingkungan.

Muhasabah (introspeksi diri) tidak selesai pada rasa takut dan penyesalan. Kalau ada yang salah, sesuatu harus diperbaiki . Jika kerusakan lahir dari keserakahan, cara memperlakukan alam perlu untuk berubah. Jika keselamatan dikalahkan kepentingan, prioritas harus ditata ulang.

Demikian disampaikan Wakil Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Selat, H. Sapto Subagio.

”Keimanan kepada takdir tidak menghapus  ikhtiar . Kita memang perlu mencegah seluruh peristiwa alam, tetapi diberi akal dan ilmu untuk mengenali risiko, , mempersiapkan diri, serta mengurangi dampaknya,”kata Sapto Subagio, Jumat (18/9/2026).

Baca Juga :  2.146 Personel Gabungan Siap Amankan Hari Buruh di Kalteng Besok

Diuraikan Sapto. Muhasabah juga tidak hanya berlaku kepada yang tertimpa musibah. Ketika seseorang diuji dengan kehilangan, orang  yang masih memiliki banyak hal yang diuji dengan kepedulian

Menurut Sapto. Iman tidak hanya terlihat dari kemampuan menjelaskan hikmah musibah, tetapi juga dari kesediaan untuk hadir. Ada kalanya bantuan  makanan, bantuan tenaga atau pedampingan jauh lebih dibutuhkan dari pada penjelasan yag panjang tentang mengapa penderitaan terjadi.

”Muhasabah tidak harus menunggu kehidupan mengguncang kita. Hari yang tenang justru memberi ruang terbaik untuk berbenah,”urai Sapto.

Electronic money exchangers listing

Musibah tutur Sapto. Tidak semestinya menjadi kesempatan untuk mengadili mereka yang sedang menderita, musibah dapat dipahami sebagai ujian dan keketapan Allah  yang tetap berada dalam cakupan kasih sayangnya.

Baca Juga :  Kualitas Udara Palangka Raya Masuk Kategori Berbahaya, Warga Diminta Kurangi Aktivitas di Luar

”Musibah bencana alam  kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang berdampak timbulnya asap yang sedang dialami kita saat ini, seharusnya menjadi sebuah muhasabah massal bagi kita semua. Karhutla yang mengakibatkan timbulnya asap tebal, sebagai bagian takdir  yang datang dari Allah, juga merupakan konsekuensi dari perbuatan manusia,”pungkas Sapto. (ind)

 

PROKALTENG.CO– Ketika manusia salah memperhitungkan alam, dan harus berhadapan dengan akibat pilihaannya. Alam memiliki hukum dan batasan sendiri . Manusia tidak mampu menghilangkan seluruh risiko, tetapi dapat memperkecil ataupun memperbesar dampak cara membangun, mengelola lingkungan.

Muhasabah (introspeksi diri) tidak selesai pada rasa takut dan penyesalan. Kalau ada yang salah, sesuatu harus diperbaiki . Jika kerusakan lahir dari keserakahan, cara memperlakukan alam perlu untuk berubah. Jika keselamatan dikalahkan kepentingan, prioritas harus ditata ulang.

Demikian disampaikan Wakil Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Selat, H. Sapto Subagio.

Electronic money exchangers listing

”Keimanan kepada takdir tidak menghapus  ikhtiar . Kita memang perlu mencegah seluruh peristiwa alam, tetapi diberi akal dan ilmu untuk mengenali risiko, , mempersiapkan diri, serta mengurangi dampaknya,”kata Sapto Subagio, Jumat (18/9/2026).

Baca Juga :  2.146 Personel Gabungan Siap Amankan Hari Buruh di Kalteng Besok

Diuraikan Sapto. Muhasabah juga tidak hanya berlaku kepada yang tertimpa musibah. Ketika seseorang diuji dengan kehilangan, orang  yang masih memiliki banyak hal yang diuji dengan kepedulian

Menurut Sapto. Iman tidak hanya terlihat dari kemampuan menjelaskan hikmah musibah, tetapi juga dari kesediaan untuk hadir. Ada kalanya bantuan  makanan, bantuan tenaga atau pedampingan jauh lebih dibutuhkan dari pada penjelasan yag panjang tentang mengapa penderitaan terjadi.

”Muhasabah tidak harus menunggu kehidupan mengguncang kita. Hari yang tenang justru memberi ruang terbaik untuk berbenah,”urai Sapto.

Musibah tutur Sapto. Tidak semestinya menjadi kesempatan untuk mengadili mereka yang sedang menderita, musibah dapat dipahami sebagai ujian dan keketapan Allah  yang tetap berada dalam cakupan kasih sayangnya.

Baca Juga :  Kualitas Udara Palangka Raya Masuk Kategori Berbahaya, Warga Diminta Kurangi Aktivitas di Luar

”Musibah bencana alam  kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang berdampak timbulnya asap yang sedang dialami kita saat ini, seharusnya menjadi sebuah muhasabah massal bagi kita semua. Karhutla yang mengakibatkan timbulnya asap tebal, sebagai bagian takdir  yang datang dari Allah, juga merupakan konsekuensi dari perbuatan manusia,”pungkas Sapto. (ind)

 

Terpopuler

Artikel Terbaru