Kabut Asap Karhutla Kepung Nanga Bulik, Bundaran Rusa Sepi Pengunjung

NANGA BULIK, PROKALTENG.CO – Suasana ikonik di Bundaran Rusa Kota Nanga Bulik tampak sepi dan lengang dari aktivitas warga pada Kamis (17/9/2026).

Kondisi tersebut terjadi akibat dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang memicu munculnya pekatnya kabut asap di wilayah Kabupaten Lamandau dalam beberapa hari terakhir.

Kawasan terbuka publik yang biasanya meriah oleh tempat berkumpulnya warga serta lalu lalang kendaraan kini berubah sunyi.

Paparan kabut asap yang tebal tidak hanya memperpendek jarak pandang pengendara, tetapi juga membuat udara terasa menyengat sehingga mayoritas warga memilih untuk berdiam diri di dalam rumah.

Dampak lengangnya kawasan pusat keramaian tersebut dirasakan langsung oleh para pelaku usaha kecil di sekitar lokasi.

Baca Juga :  Hasil Olah TKP Gedung Kesra Kalteng: Tim Forensik Temukan Dugaan Kebakaran dari Dapur Lantai Atas

Sepinya pembeli yang melintas membuat pendapatan harian para pedagang pedagang kaki lima turun drastis dibandingkan hari-hari biasa.

Salah satu pedagang pentol di kawasan tersebut, Purnomo, menuturkan bahwa kondisi kabut asap pekat ini sangat memukul usaha kecill milik pedagang lokal.

Electronic money exchangers listing

“Sejak kabut asap makin tebal dari pagi tadi, warga yang keluar rumah sedikit sekali, jalanan sepi, dan pembeli pentol saya turun sampai lebih dari separuh,” ungkapnya saat ditemui di lokasi.

Purnomo juga menyampaikan bahwa ia terpaksa mengurangi jumlah porsi dagangannya demi menghindari kerugian yang lebih besar.

Ia mengeluhkan bahwa bau sangit asap yang cukup tajam memicu rasa perih di mata serta membuat tenggorokan terasa tidak nyaman selama berjualan di area terbuka.

Baca Juga :  Kejari Barsel Pulihkan Kerugian Negara Rp407,7 Juta dalam Kasus Korupsi KONI

NANGA BULIK, PROKALTENG.CO – Suasana ikonik di Bundaran Rusa Kota Nanga Bulik tampak sepi dan lengang dari aktivitas warga pada Kamis (17/9/2026).

Kondisi tersebut terjadi akibat dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang memicu munculnya pekatnya kabut asap di wilayah Kabupaten Lamandau dalam beberapa hari terakhir.

Kawasan terbuka publik yang biasanya meriah oleh tempat berkumpulnya warga serta lalu lalang kendaraan kini berubah sunyi.

Electronic money exchangers listing

Paparan kabut asap yang tebal tidak hanya memperpendek jarak pandang pengendara, tetapi juga membuat udara terasa menyengat sehingga mayoritas warga memilih untuk berdiam diri di dalam rumah.

Dampak lengangnya kawasan pusat keramaian tersebut dirasakan langsung oleh para pelaku usaha kecil di sekitar lokasi.

Baca Juga :  Hasil Olah TKP Gedung Kesra Kalteng: Tim Forensik Temukan Dugaan Kebakaran dari Dapur Lantai Atas

Sepinya pembeli yang melintas membuat pendapatan harian para pedagang pedagang kaki lima turun drastis dibandingkan hari-hari biasa.

Salah satu pedagang pentol di kawasan tersebut, Purnomo, menuturkan bahwa kondisi kabut asap pekat ini sangat memukul usaha kecill milik pedagang lokal.

“Sejak kabut asap makin tebal dari pagi tadi, warga yang keluar rumah sedikit sekali, jalanan sepi, dan pembeli pentol saya turun sampai lebih dari separuh,” ungkapnya saat ditemui di lokasi.

Purnomo juga menyampaikan bahwa ia terpaksa mengurangi jumlah porsi dagangannya demi menghindari kerugian yang lebih besar.

Ia mengeluhkan bahwa bau sangit asap yang cukup tajam memicu rasa perih di mata serta membuat tenggorokan terasa tidak nyaman selama berjualan di area terbuka.

Baca Juga :  Kejari Barsel Pulihkan Kerugian Negara Rp407,7 Juta dalam Kasus Korupsi KONI

Terpopuler

Artikel Terbaru