PALANGKA RAYA, PROKALTENG.CO – Langit Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah, tampak menguning dan diselimuti kabut asap pekat pada Rabu (14/10/2026).
Di tengah kualitas udara yang masuk dalam kategori berbahaya dan jarak pandang yang sempat menyusut hingga 50 meter, para pengemudi ojek online (ojol) di jalanan tetap harus berjuang demi menyambung hidup.
Bagi mereka, kabut asap bukan sekadar pemandangan langit yang pekat atau gangguan kenyamanan di jalan. Kondisi ini telah menjelma menjadi dilema berat, memilih melindungi kesehatan dari paparan partikulat halus yang menyesakkan dada, atau tetap turun ke jalan demi memastikan dapur tetap mengebul.
Salah seorang pengemudi ojol di Palangka Raya, Sapriansah (34), merasakan betul bagaimana pekatnya kabut asap menghantam aktivitas kerjanya sehari-hari.
Ia mengaku matanya terasa perih dan dadanya sesak akibat berlama-lama terpapar udara di luar ruangan.
“Sangat berdampak, apalagi ini parah benar,” ungkap Sapriansah.
Meski menyadari risiko kesehatan yang mengancam terutama dengan konsentrasi partikulat halus PM2.5 yang sempat mencatatkan angka ekstrem di wilayah tersebut Sapriansah tak punya banyak pilihan. Berdiam diri di rumah berarti menghentikan aliran pemasukan yang menjadi sandaran hidup keluarganya.
“Ojol mungkin ingin beristirahat di rumah, tapi kami tetap harus mencari penghasilan untuk memenuhi kebutuhan dapur. Walau mata perih dan dada terasa sesak, kalau takut sakit nanti tidak ada kerja,” tuturnya.
Untuk menyiasati situasi ini, Sapriansah terpaksa membatasi waktu kerjanya di lapangan. Jika sebelumnya ia bisa leluasa menarik penumpang seharian penuh, kini durasi kerjanya harus dipangkas demi meminimalkan paparan asap berbahaya.
Dampak kabut asap ini langsung memukul sektor finansial para pekerja harian seperti ojol. Penurunan jam operasional berbanding lurus dengan merosotnya penghasilan yang mereka bawa pulang ke rumah.
Sapriansah menyebutkan, sebelum kabut asap parah melanda, ia bisa mengantongi pendapatan lebih dari Rp200.000 dalam sehari. Namun kini, angka tersebut merosot tajam hingga hanya berkisar Rp100.000 atau bahkan kurang.
Situasi serupa juga dirasakan oleh Fahmi (40), pengemudi ojol lainnya. Baginya, roda ekonomi keluarga tidak bisa berhenti berputar hanya karena udara sedang tidak bersahabat.
“Kalau tidak keluar menarik, kami tidak dapat penghasilan. Kebutuhan sehari-hari tetap harus dipenuhi. Jadi mau tidak mau tetap bekerja meski kabut asap sedang parah,” kata Fahmi.
Bagi para pengemudi ojol di Palangka Raya saat ini, bertahan di jalanan adalah wujud ketahanan ekonomi yang dipaksakan oleh keadaan. Di balik helm dan masker tipis yang mereka kenakan di tengah kabut asap pekat, tersimpan tanggung jawab besar untuk terus berjuang demi keluarga di rumah. (her)


