PALANGKA RAYA, PROKALTENG.CO – Pemilihan Rektor baru di Universitas Palangka Raya (UPR) di Kalimantan Tengah (Kalteng) menjadi momentum krusial bagi arah perkembangan kampus. Merespons dinamika ini, dosen senior UPR, Dr. Sidiq Rahman Usop, membeberkan pandangannya mengenai kriteria ideal sosok yang layak memimpin universitas ke depan.
Menurut Sidiq, tantangan perguruan tinggi saat ini sudah sangat berbeda. Rektor tidak boleh lagi hanya berkutat pada rutinitas administratif, melainkan harus memiliki naluri manajerial yang tajam. Termasuk kemampuan mendatangkan sumber daya.
“Ke depan, universitas itu bukan lagi hanya sekadar menjalankan manajemen pendidikan. Bagaimanapun ada unsur bisnisnya, memanfaatkan fasilitas yang ada untuk mendatangkan sumber uang demi mendorong peningkatan kualitas sumber daya manusia,” ujarnya kepada awak media, Senin (13/4/26).
Lebih lanjut, Dr. Sidiq menekankan pentingnya peran kampus dalam merespons realita sosial dan mendukung pembangunan di Kalteng. Rektor dituntut mampu mendorong dosen dan mahasiswa untuk keluar dari zona nyaman dan melihat langsung persoalan di masyarakat.
Dikatakan Dr. Sidiq, pendidikan harus diorientasikan pada penciptaan keahlian, bukan sekadar teori. Hal ini sangat mendesak dilakukan untuk menghadapi puncak bonus demografi pada tahun 2045 mendatang.
“Jika generasi muda tidak dibekali keterampilan, mereka tidak akan mampu bersaing di pasar kerja dan justru akan menjadi beban bagi keluarga serta pemerintah. Kampus harus menciptakan ide kreatif, bila perlu kembangkan program Diploma 3 yang fokus pada keterampilan praktis,” ujarnya.
Ia mencontohkan berbagai sektor potensial di Kalteng yang membutuhkan sentuhan inovasi kampus, seperti pengembangan desa tertinggal, perikanan laut, hingga megaproyek ‘Food Estate’.
Rektor dan sivitas akademika harus mampu membangun ruang dialog dengan pemerintah daerah maupun pusat untuk memecahkan masalah di sektor-sektor tersebut. Sehingga nilai tambahnya dirasakan masyarakat lokal, bukan hanya dinikmati pemodal luar.
Tokoh pionir FISIP tersebut juga menyoroti beban administratif yang saat ini banyak membelenggu para dosen. Menurutnya, dosen seharusnya lebih didorong untuk mengembangkan pengetahuan dan berinteraksi dengan dunia luar, alih-alih terjebak pada tumpukan birokrasi kampus. Selain itu, ia memberikan catatan khusus terkait budaya literasi dan optimalisasi perpustakaan di lingkungan universitas.
“Kunci dosen itu, ada pada perpustakaan di rumahnya dan juga perpustakaan kampus. Perpustakaan bukan hanya tempat memajang buku, tapi harus terus diperbarui dengan buku elektronik dan literatur jurnal global. Mahasiswa harus didorong ke sana. Kalau perpustakaannya sepi, bagaimana kita mau bersaing?,” pungkasnya. (her)


