AirNav Utamakan Keselamatan Penerbangan di Tengah Ancaman Kabut Asap Karhutla

PALANGKA RAYA, PROKALTENG.CO – AirNav Indonesia, menegaskan keselamatan penerbangan tetap menjadi prioritas utama, dalam operasional layanan navigasi udara di tengah dampak kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla), yang masih melanda sejumlah wilayah di Kalimantan Tengah.

General Manager AirNav Indonesia Cabang Palangka Raya, Hengki Rudianto. Mengatakan, setiap keputusan penerbangan sangat bergantung pada kondisi jarak pandang atau visibility, yang menjadi salah satu faktor utama dalam keselamatan operasional pesawat.

“Dampaknya sangat bergantung pada visibility minima atau batas minimum jarak pandang yang telah ditetapkan dalam prosedur dan regulasi penerbangan. Apabila jarak pandang tidak memenuhi syarat minimum, maka penerbangan tidak dapat dilaksanakan,” ujarnya Sabtu (12/9/2026).

Menurut Hengki, AirNav memiliki tanggung jawab untuk menyampaikan informasi cuaca dan kondisi aktual di lapangan kepada pilot secara real time. Informasi tersebut menjadi bahan pertimbangan pilot dalam menentukan apakah penerbangan dapat dilanjutkan atau harus ditunda demi keselamatan.

Dia menjelaskan, ketika jarak pandang terus menurun hingga mendekati batas minimum yang dipersyaratkan, petugas AirNav akan segera menginformasikan kondisi tersebut kepada pilot.

Baca Juga :  Terjadi 99 Kasus Karhutla di Palangka Raya dengan Total Luas Lahan 32,12 Hektare

“Kalau visibility terus menurun dan mendekati batas minimum, kami akan menyampaikan informasi aktual kepada pilot. Selanjutnya pilot yang menentukan apakah penerbangan tetap dapat dilakukan atau tidak,” katanya.

Hengki mengungkapkan, selama periode kabut asap tahun ini, Bandara Tjilik Riwut Palangka Raya sempat mencatat visibility terendah sekitar 250 meter. Kondisi tersebut membuat aktivitas penerbangan tidak dapat dilaksanakan karena tidak memenuhi persyaratan keselamatan.

Electronic money exchangers listing

“Pada saat visibility mencapai sekitar 250 meter, tidak ada pergerakan penerbangan di Bandara Tjilik Riwut karena kondisi tersebut tidak memenuhi standar keselamatan penerbangan,” jelasnya.

Dia menerangkan, berdasarkan ketentuan yang berlaku, pesawat dengan dua mesin atau kurang memerlukan jarak pandang minimal sekitar 1.600 meter untuk lepas landas. Sementara pesawat dengan lebih dari dua mesin maupun helikopter memerlukan visibility minimal sekitar 800 meter.

Ketika kondisi cuaca memburuk dan tidak memungkinkan pesawat mendarat di bandara tujuan, AirNav juga menyiapkan prosedur pengalihan penerbangan ke bandara alternatif yang telah ditentukan sebelumnya dalam rencana penerbangan.

Baca Juga :  Tetap Eksis dan Kompak, IPMK Palangkaraya Rayakan Hari Jadi ke 23 Tahun

“Dalam beberapa kejadian sebelumnya, ketika kondisi tidak memungkinkan untuk melanjutkan penerbangan demi keselamatan, pesawat akan mengubah rencana penerbangan menuju bandara alternatif seperti Balikpapan atau kembali ke bandara asal,” lanuutnya

Selain di Palangka Raya, dampak kabut asap juga masih dirasakan di sejumlah wilayah lain seperti Muara Teweh, Kuala Kurun, dan Buntok. Bahkan di beberapa lokasi, jarak pandang dilaporkan sempat turun hingga 100–200 meter sehingga penerbangan harus dibatalkan.

Meski demikian, Hengki menegaskan AirNav tetap siap memberikan pelayanan navigasi penerbangan kepada seluruh operator. Namun, aspek keselamatan tidak dapat ditawar dalam setiap operasi penerbangan.

“AirNav Indonesia tetap berkomitmen memberikan pelayanan navigasi penerbangan secara maksimal. Namun yang paling utama adalah keselamatan penerbangan. Jika kondisi tidak aman, maka penerbangan tidak akan dilakukan,” tegasnya.

Dia berharap kondisi cuaca di Kalimantan Tengah segera membaik sehingga konektivitas udara, khususnya menuju wilayah-wilayah pedalaman, dapat kembali berjalan normal dan mendukung mobilitas masyarakat serta distribusi logistik di daerah. (adr)

PALANGKA RAYA, PROKALTENG.CO – AirNav Indonesia, menegaskan keselamatan penerbangan tetap menjadi prioritas utama, dalam operasional layanan navigasi udara di tengah dampak kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla), yang masih melanda sejumlah wilayah di Kalimantan Tengah.

General Manager AirNav Indonesia Cabang Palangka Raya, Hengki Rudianto. Mengatakan, setiap keputusan penerbangan sangat bergantung pada kondisi jarak pandang atau visibility, yang menjadi salah satu faktor utama dalam keselamatan operasional pesawat.

“Dampaknya sangat bergantung pada visibility minima atau batas minimum jarak pandang yang telah ditetapkan dalam prosedur dan regulasi penerbangan. Apabila jarak pandang tidak memenuhi syarat minimum, maka penerbangan tidak dapat dilaksanakan,” ujarnya Sabtu (12/9/2026).

Electronic money exchangers listing

Menurut Hengki, AirNav memiliki tanggung jawab untuk menyampaikan informasi cuaca dan kondisi aktual di lapangan kepada pilot secara real time. Informasi tersebut menjadi bahan pertimbangan pilot dalam menentukan apakah penerbangan dapat dilanjutkan atau harus ditunda demi keselamatan.

Dia menjelaskan, ketika jarak pandang terus menurun hingga mendekati batas minimum yang dipersyaratkan, petugas AirNav akan segera menginformasikan kondisi tersebut kepada pilot.

Baca Juga :  Terjadi 99 Kasus Karhutla di Palangka Raya dengan Total Luas Lahan 32,12 Hektare

“Kalau visibility terus menurun dan mendekati batas minimum, kami akan menyampaikan informasi aktual kepada pilot. Selanjutnya pilot yang menentukan apakah penerbangan tetap dapat dilakukan atau tidak,” katanya.

Hengki mengungkapkan, selama periode kabut asap tahun ini, Bandara Tjilik Riwut Palangka Raya sempat mencatat visibility terendah sekitar 250 meter. Kondisi tersebut membuat aktivitas penerbangan tidak dapat dilaksanakan karena tidak memenuhi persyaratan keselamatan.

“Pada saat visibility mencapai sekitar 250 meter, tidak ada pergerakan penerbangan di Bandara Tjilik Riwut karena kondisi tersebut tidak memenuhi standar keselamatan penerbangan,” jelasnya.

Dia menerangkan, berdasarkan ketentuan yang berlaku, pesawat dengan dua mesin atau kurang memerlukan jarak pandang minimal sekitar 1.600 meter untuk lepas landas. Sementara pesawat dengan lebih dari dua mesin maupun helikopter memerlukan visibility minimal sekitar 800 meter.

Ketika kondisi cuaca memburuk dan tidak memungkinkan pesawat mendarat di bandara tujuan, AirNav juga menyiapkan prosedur pengalihan penerbangan ke bandara alternatif yang telah ditentukan sebelumnya dalam rencana penerbangan.

Baca Juga :  Tetap Eksis dan Kompak, IPMK Palangkaraya Rayakan Hari Jadi ke 23 Tahun

“Dalam beberapa kejadian sebelumnya, ketika kondisi tidak memungkinkan untuk melanjutkan penerbangan demi keselamatan, pesawat akan mengubah rencana penerbangan menuju bandara alternatif seperti Balikpapan atau kembali ke bandara asal,” lanuutnya

Selain di Palangka Raya, dampak kabut asap juga masih dirasakan di sejumlah wilayah lain seperti Muara Teweh, Kuala Kurun, dan Buntok. Bahkan di beberapa lokasi, jarak pandang dilaporkan sempat turun hingga 100–200 meter sehingga penerbangan harus dibatalkan.

Meski demikian, Hengki menegaskan AirNav tetap siap memberikan pelayanan navigasi penerbangan kepada seluruh operator. Namun, aspek keselamatan tidak dapat ditawar dalam setiap operasi penerbangan.

“AirNav Indonesia tetap berkomitmen memberikan pelayanan navigasi penerbangan secara maksimal. Namun yang paling utama adalah keselamatan penerbangan. Jika kondisi tidak aman, maka penerbangan tidak akan dilakukan,” tegasnya.

Dia berharap kondisi cuaca di Kalimantan Tengah segera membaik sehingga konektivitas udara, khususnya menuju wilayah-wilayah pedalaman, dapat kembali berjalan normal dan mendukung mobilitas masyarakat serta distribusi logistik di daerah. (adr)

Terpopuler

Artikel Terbaru