Kenaikan Harga Pertamax Jadi Rp16.000 per Liter Bebani Pengemudi Ojol di Palangka Raya

PALANGKA RAYA, PROKALTENG.CO – Kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Pertamax menjadi Rp16.000 per liter mulai dirasakan dampaknya oleh pelaku ekonomi mikro di Palangka Raya. Pengemudi ojek online (ojol) mengeluhkan membengkaknya biaya operasional harian akibat kebijakan tersebut, meski mereka tetap harus menggunakan Pertamax karena menyesuaikan spesifikasi kendaraan, Rabu (10/6/2026).

Salah satu keluhan disampaikan Khairil (20), mahasiswa yang juga berprofesi sebagai pengemudi ojol Grab. Ditemui usai mengisi bahan bakar, ia mengaku sudah mengetahui kenaikan harga Pertamax dan menyadari kebijakan tersebut akan menambah beban pengeluarannya.

“Ya karena motor Vario ini, makanya isi Pertamax,” ujar Khairil.

Sebagai pengemudi ojol dengan mobilitas tinggi, Khairil mengaku bisa mendatangi Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) hingga dua kali dalam sehari. Setiap kali mengisi, ia memilih mengisi tangki motornya hingga penuh atau full tank.

Baca Juga :  Menguji Kondisi Kejiwaan, Mengukur Tingkat Kecerdasan dan Emosi Para Anggota

Kondisi tersebut membuat biaya operasional hariannya otomatis meningkat setelah tarif baru Pertamax diberlakukan. Namun, Khairil mengaku belum dapat menghitung secara pasti besaran pengurangan pendapatan yang dialaminya karena baru pertama kali mengisi BBM dengan harga terbaru.

“Belum tahu kalau ruginya (secara angka pasti), kan baru naik kali ini aja kan, hari ini,” jelasnya.

Meski belum memiliki perhitungan rinci, Khairil menilai kenaikan harga energi tersebut sangat memberatkan masyarakat kelas menengah ke bawah, terutama mereka yang menggantungkan penghasilan dari aktivitas di jalan.

Electronic money exchangers listing

“Sudah pasti itu rugi,” tutupnya singkat.

Keluhan serupa disampaikan Aspiyannor (23), pengemudi ojol di platform Gojek. Ia mengaku tetap menggunakan Pertamax karena khawatir penggunaan BBM dengan angka oktan lebih rendah akan memengaruhi performa dan kondisi mesin motornya.

Baca Juga :  Upts…! Mau Buang Air Kecil, Seorang Wanita Nyaris Dipatok Ular Cobra

“Motor saya (Aerox) dari awal isinya Pertamax mas, jadi ragu kalau pindah BBM yang lebih rendah RON-nya, takutnya ngaruh ke mesin,” ujarnya.

Aspiyannor berharap pemerintah dapat membenahi kebijakan tarif BBM non-subsidi agar tidak semakin membebani para pencari nafkah yang berprofesi sebagai pengemudi ojol.

“Semoga harga Pertamax segera turun, lumayan mengurangi beban pengeluaran hanya untuk bahan bakar,” pungkasnya. (her)

PALANGKA RAYA, PROKALTENG.CO – Kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Pertamax menjadi Rp16.000 per liter mulai dirasakan dampaknya oleh pelaku ekonomi mikro di Palangka Raya. Pengemudi ojek online (ojol) mengeluhkan membengkaknya biaya operasional harian akibat kebijakan tersebut, meski mereka tetap harus menggunakan Pertamax karena menyesuaikan spesifikasi kendaraan, Rabu (10/6/2026).

Salah satu keluhan disampaikan Khairil (20), mahasiswa yang juga berprofesi sebagai pengemudi ojol Grab. Ditemui usai mengisi bahan bakar, ia mengaku sudah mengetahui kenaikan harga Pertamax dan menyadari kebijakan tersebut akan menambah beban pengeluarannya.

“Ya karena motor Vario ini, makanya isi Pertamax,” ujar Khairil.

Electronic money exchangers listing

Sebagai pengemudi ojol dengan mobilitas tinggi, Khairil mengaku bisa mendatangi Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) hingga dua kali dalam sehari. Setiap kali mengisi, ia memilih mengisi tangki motornya hingga penuh atau full tank.

Baca Juga :  Menguji Kondisi Kejiwaan, Mengukur Tingkat Kecerdasan dan Emosi Para Anggota

Kondisi tersebut membuat biaya operasional hariannya otomatis meningkat setelah tarif baru Pertamax diberlakukan. Namun, Khairil mengaku belum dapat menghitung secara pasti besaran pengurangan pendapatan yang dialaminya karena baru pertama kali mengisi BBM dengan harga terbaru.

“Belum tahu kalau ruginya (secara angka pasti), kan baru naik kali ini aja kan, hari ini,” jelasnya.

Meski belum memiliki perhitungan rinci, Khairil menilai kenaikan harga energi tersebut sangat memberatkan masyarakat kelas menengah ke bawah, terutama mereka yang menggantungkan penghasilan dari aktivitas di jalan.

“Sudah pasti itu rugi,” tutupnya singkat.

Keluhan serupa disampaikan Aspiyannor (23), pengemudi ojol di platform Gojek. Ia mengaku tetap menggunakan Pertamax karena khawatir penggunaan BBM dengan angka oktan lebih rendah akan memengaruhi performa dan kondisi mesin motornya.

Baca Juga :  Upts…! Mau Buang Air Kecil, Seorang Wanita Nyaris Dipatok Ular Cobra

“Motor saya (Aerox) dari awal isinya Pertamax mas, jadi ragu kalau pindah BBM yang lebih rendah RON-nya, takutnya ngaruh ke mesin,” ujarnya.

Aspiyannor berharap pemerintah dapat membenahi kebijakan tarif BBM non-subsidi agar tidak semakin membebani para pencari nafkah yang berprofesi sebagai pengemudi ojol.

“Semoga harga Pertamax segera turun, lumayan mengurangi beban pengeluaran hanya untuk bahan bakar,” pungkasnya. (her)

Terpopuler

Artikel Terbaru