PALANGKA RAYA, PROKALTENG.CO – Peningkatan paparan kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kota Palangka Raya mulai mengancam keselamatan satwa dilindungi di pusat rehabilitasi Yayasan BOS Nyaru Menteng.
Koordinator Dokter Yayasan BOS Nyaru Menteng drh Agus Fahroni mengonfirmasi sebanyak 47 orangutan teridentifikasi terserang Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) akibat memburuknya kualitas udara dalam beberapa waktu terakhir.
“Sekitar 47 orangutan memang teridentifikasi mengalami ISPA. Namun sejauh ini kondisinya masih relatif ringan dan dapat ditangani oleh tim medis kami,” ujarnya, Kamis (8/10/2026).

Paparan asap karhutla yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir dinilai menjadi faktor utama yang memengaruhi kesehatan pernapasan satwa, khususnya orangutan yang sedang menjalani rehabilitasi sebelum dilepasliarkan.
“Kabut asap tentu menjadi hal yang harus kami waspadai karena dapat berdampak terhadap sistem pernapasan orangutan. Karena itu, pemantauan kesehatan dilakukan secara berkala,” katanya.
Untuk mengantisipasi kondisi yang lebih serius, tim medis BOS Nyaru Menteng meningkatkan pengawasan terhadap seluruh orangutan yang berada di kawasan rehabilitasi. Pemeriksaan kesehatan dilakukan secara rutin guna memastikan kondisi satwa tetap stabil.
“Saat ini kami memberikan dukungan perawatan berupa herbal, vitamin, dan memastikan kebutuhan cairan mereka terpenuhi. Langkah tersebut penting untuk membantu proses pemulihan ISPA yang dialami,” jelas Agus.
Selain pemberian suplemen dan perawatan medis, kecukupan konsumsi air minum menjadi perhatian khusus selama musim asap berlangsung. Tim perawat memastikan setiap orangutan memperoleh asupan cairan yang memadai untuk menjaga daya tahan tubuh.
“Kebutuhan air minum harus benar-benar tercukupi karena sangat berpengaruh terhadap kondisi kesehatan mereka ketika terpapar asap dalam jangka waktu tertentu,” ungkapnya.
Meski puluhan orangutan telah terpapar ISPA, pihak yayasan memastikan belum ditemukan gejala berat yang memerlukan penanganan khusus. Seluruh satwa yang terdampak masih berada dalam pengawasan tim dokter dan perawat.


