Sempat Capai 7 Ribu Lebih, Jumlah Titik Panas di Kalteng Berangsur Turun per 7 September 2026

PALANGKA RAYA, PROKALTENG.CO – Jumlah titik panas atau hotspot kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Tengah (Kalteng) tercatat mengalami penurunan signifikan menjadi 1.824 titik pada 7 September 2026.

Data Dinas Kehutanan (Dishut) Provinsi Kalteng menunjukkan jumlah hotspot turun menjadi 1.824 titik, dibandingkan puncak tertinggi yang mencapai 7.081 titik pada 1 September 2026 .

Penurunan ini terjadi di tengah masa Status Tanggap Darurat Karhutla yang berlaku sejak 31 Agustus hingga 29 September 2026.

Berdasarkan data harian per 7 September 2026, persebaran hotspot di wilayah Kalteng sebagai berikut:

– Kota Palangka Raya — 155 titik

– Kotawaringin Timur — 289 titik

– Pulang Pisau — 311 titik

Electronic money exchangers listing
Baca Juga :  DJKI Gratiskan Pencatatan Hak Cipta Lagu dan Musik Mulai 1 Agustus 2026

– Kapuas — 77 titik

– Gunung Mas — 50 titik

– Katingan — 351 titik

– Seruyan — 301 titik

– Sukamara — 120 titik

– Barito Selatan — 7 titik

– Barito Timur — 17 titik

– Barito Utara — 0 titik

– Lamandau — 17 titik

– Murung Raya — 5 titik

– Kotawaringin Barat — 124 titik

Tren fluktuasi selama periode 31 Agustus–7 September 2026 menunjukkan angka tertinggi terjadi pada 1 September dengan 7.081 titik, lalu berangsur turun menjadi 4.861 (2 Sep), 3.552 (3 Sep), 4.436 (4 Sep), 5.357 (5 Sep), 5.746 (6 Sep), dan 1.824 titik pada 7 September.

Kepala Dishut Kalteng, Agustan Saining, menyambut baik penurunan jumlah hotspot tersebut, namun mengingatkan agar tidak terlena .

Baca Juga :  Ketinggian Banjir di Desa Penopa Capai 135 cm, Puluhan Warga Terpaksa Mengungsi

“Hotspot menurun tidak berarti kita menurunkan kewaspadaan. Angka yang turun ini menunjukkan upaya pengendalian berjalan, tetapi potensi api masih ada dan bisa kembali meningkat sewaktu-waktu,”ucapnya Selasa (8/9/2026).

Masa tanggap darurat masih berjalan hingga 29 September 2026, sehingga pemantauan dan pemadaman harus terus diperkuat di seluruh kabupaten dan kota .

“Penurunan ini harus dipertahankan. Kami tetap memantau setiap titik yang terdeteksi, terutama di wilayah yang secara konsisten masih mencatat angka tinggi seperti Kotawaringin Timur, Pulang Pisau, dan Kota Palangka Raya,” tambahnya.

PALANGKA RAYA, PROKALTENG.CO – Jumlah titik panas atau hotspot kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Tengah (Kalteng) tercatat mengalami penurunan signifikan menjadi 1.824 titik pada 7 September 2026.

Data Dinas Kehutanan (Dishut) Provinsi Kalteng menunjukkan jumlah hotspot turun menjadi 1.824 titik, dibandingkan puncak tertinggi yang mencapai 7.081 titik pada 1 September 2026 .

Penurunan ini terjadi di tengah masa Status Tanggap Darurat Karhutla yang berlaku sejak 31 Agustus hingga 29 September 2026.

Electronic money exchangers listing

Berdasarkan data harian per 7 September 2026, persebaran hotspot di wilayah Kalteng sebagai berikut:

– Kota Palangka Raya — 155 titik

– Kotawaringin Timur — 289 titik

– Pulang Pisau — 311 titik

Baca Juga :  DJKI Gratiskan Pencatatan Hak Cipta Lagu dan Musik Mulai 1 Agustus 2026

– Kapuas — 77 titik

– Gunung Mas — 50 titik

– Katingan — 351 titik

– Seruyan — 301 titik

– Sukamara — 120 titik

– Barito Selatan — 7 titik

– Barito Timur — 17 titik

– Barito Utara — 0 titik

– Lamandau — 17 titik

– Murung Raya — 5 titik

– Kotawaringin Barat — 124 titik

Tren fluktuasi selama periode 31 Agustus–7 September 2026 menunjukkan angka tertinggi terjadi pada 1 September dengan 7.081 titik, lalu berangsur turun menjadi 4.861 (2 Sep), 3.552 (3 Sep), 4.436 (4 Sep), 5.357 (5 Sep), 5.746 (6 Sep), dan 1.824 titik pada 7 September.

Kepala Dishut Kalteng, Agustan Saining, menyambut baik penurunan jumlah hotspot tersebut, namun mengingatkan agar tidak terlena .

Baca Juga :  Ketinggian Banjir di Desa Penopa Capai 135 cm, Puluhan Warga Terpaksa Mengungsi

“Hotspot menurun tidak berarti kita menurunkan kewaspadaan. Angka yang turun ini menunjukkan upaya pengendalian berjalan, tetapi potensi api masih ada dan bisa kembali meningkat sewaktu-waktu,”ucapnya Selasa (8/9/2026).

Masa tanggap darurat masih berjalan hingga 29 September 2026, sehingga pemantauan dan pemadaman harus terus diperkuat di seluruh kabupaten dan kota .

“Penurunan ini harus dipertahankan. Kami tetap memantau setiap titik yang terdeteksi, terutama di wilayah yang secara konsisten masih mencatat angka tinggi seperti Kotawaringin Timur, Pulang Pisau, dan Kota Palangka Raya,” tambahnya.

Terpopuler

Artikel Terbaru