25.1 C
Jakarta
Thursday, January 22, 2026

Fenomena Super Flu Masuk di Indonesia, Dinkes Kalteng Minta Masyarakat Waspada!

PALANGKA RAYA, PROKALTENG.CO – Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng) memastikan hingga saat ini belum menemukan kasus Influenza A H3N2 subclade K atau yang dikenal luas sebagai “super flu”.

Meski demikian, masyarakat diminta tetap waspada dan tidak menganggap remeh penyakit tersebut.

Suyuti Syamsul, Kepala Dinas Kesehatan Kalteng, mengatakan dinkes terus melakukan pemantauan terhadap perkembangan kasus influenza, termasuk varian terbaru yang belakangan dilaporkan muncul di sejumlah daerah di Indonesia.

“Di Kalimantan Tengah sampai sekarang belum ditemukan kasus super flu. Namun, kewaspadaan tetap harus dijaga,” ujar Suyuti, Selasa (6/1/26) kemarin.

Menurutnya, secara klinis tidak ada perbedaan mencolok antara flu biasa dengan influenza A H3N2 subclade K.  Gejala yang muncul pada umumnya serupa, seperti demam, batuk, pilek, nyeri tenggorokan, dan badan terasa lemas.

“Perbedaannya ada pada kecepatan penularan. Super flu ini dilaporkan lebih cepat menyebar dibandingkan flu biasa,” jelasnya.

Ia juga menegaskan, langkah pencegahan menjadi kunci utama untuk menghindari penularan penyakit pernapasan, termasuk influenza. Masyarakat diimbau untuk menerapkan pola hidup bersih dan sehat dalam aktivitas sehari-hari.

Electronic money exchangers listing

“Rajin mencuci tangan dengan air mengalir dan sabun sangat penting. Bagi yang mengalami batuk dan pilek, sebaiknya menggunakan masker,” katanya.

Baca Juga :  Secara Legalitas, PT MPP Belum Memenuhi Syarat Beroperasi

Suyuti menambahkan, untuk memastikan seseorang terinfeksi varian tertentu, diperlukan pemeriksaan lanjutan menggunakan metode genomik. Pemeriksaan tersebut tidak bisa dilakukan hanya berdasarkan gejala klinis semata.

“Harus dilakukan pemeriksaan genomik untuk mengetahui jenis virusnya secara pasti,” ucapnya.

Dinkes Kalteng pun mengimbau masyarakat agar tidak panik, namun tetap waspada. Jika mengalami gejala flu yang berat atau berkepanjangan, warga diminta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat untuk mendapatkan penanganan yang tepat.

Di sisi lain, dilansir dari Website resmi Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Republik Indonesia menegaskan bahwa situasi influenza A(H3N2) subclade K di Indonesia hingga akhir Desember 2025 masih dalam kondisi terkendali dan tidak menunjukkan peningkatan tingkat keparahan dibandingkan clade maupun subclade influenza lainnya.

Direktur Penyakit Menular Kemenkes RI, dr. Prima Yosephine, menjelaskan bahwa secara global peningkatan kasus influenza A(H3) mulai terpantau di Amerika Serikat sejak minggu ke-40 tahun 2025, seiring dengan masuknya musim dingin. Subclade K sendiri pertama kali diidentifikasi oleh Centers for Disease Control and Prevention (CDC) Amerika Serikat pada Agustus 2025 dan hingga kini telah dilaporkan di lebih dari 80 negara.

Baca Juga :  Kesal Soal Keputusan Wasit, Shin Tae Yong: Itu Bukan Pertandingan Sepakbola

“Berdasarkan penilaian WHO dan data epidemiologi yang tersedia, influenza A(H3N2) subclade K tidak menunjukkan peningkatan tingkat keparahan. Gejala yang muncul umumnya serupa dengan flu musiman, seperti demam, batuk, pilek, sakit kepala, dan nyeri tenggorokan,” ujar dr. Prima.

Di kawasan Asia, subclade K telah dilaporkan di sejumlah negara, antara lain Tiongkok, Korea Selatan, Jepang, Singapura, dan Thailand sejak Juli 2025. Meskipun influenza A(H3) menjadi varian dominan, tren kasus influenza di negara-negara tersebut menunjukkan penurunan dalam dua bulan terakhir.

Di Indonesia, hasil surveilans juga menunjukkan bahwa influenza A(H3) merupakan varian dominan. Tren kasus influenza nasional tercatat menurun dalam dua bulan terakhir. Berdasarkan pemeriksaan whole genome sequencing (WGS) yang diselesaikan pada 25 Desember 2025, subclade K terdeteksi sejak Agustus 2025 melalui sistem surveilans sentinel ILI-SARI di berbagai fasilitas pelayanan kesehatan.

“Hingga akhir Desember 2025, tercatat 62 kasus influenza A(H3N2) subclade K yang tersebar di delapan provinsi, dengan jumlah terbanyak di Jawa Timur, Kalimantan Selatan, dan Jawa Barat. Mayoritas kasus terjadi pada perempuan dan kelompok usia anak,” jelasnya. (*her)

PALANGKA RAYA, PROKALTENG.CO – Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng) memastikan hingga saat ini belum menemukan kasus Influenza A H3N2 subclade K atau yang dikenal luas sebagai “super flu”.

Meski demikian, masyarakat diminta tetap waspada dan tidak menganggap remeh penyakit tersebut.

Suyuti Syamsul, Kepala Dinas Kesehatan Kalteng, mengatakan dinkes terus melakukan pemantauan terhadap perkembangan kasus influenza, termasuk varian terbaru yang belakangan dilaporkan muncul di sejumlah daerah di Indonesia.

Electronic money exchangers listing

“Di Kalimantan Tengah sampai sekarang belum ditemukan kasus super flu. Namun, kewaspadaan tetap harus dijaga,” ujar Suyuti, Selasa (6/1/26) kemarin.

Menurutnya, secara klinis tidak ada perbedaan mencolok antara flu biasa dengan influenza A H3N2 subclade K.  Gejala yang muncul pada umumnya serupa, seperti demam, batuk, pilek, nyeri tenggorokan, dan badan terasa lemas.

“Perbedaannya ada pada kecepatan penularan. Super flu ini dilaporkan lebih cepat menyebar dibandingkan flu biasa,” jelasnya.

Ia juga menegaskan, langkah pencegahan menjadi kunci utama untuk menghindari penularan penyakit pernapasan, termasuk influenza. Masyarakat diimbau untuk menerapkan pola hidup bersih dan sehat dalam aktivitas sehari-hari.

“Rajin mencuci tangan dengan air mengalir dan sabun sangat penting. Bagi yang mengalami batuk dan pilek, sebaiknya menggunakan masker,” katanya.

Baca Juga :  Secara Legalitas, PT MPP Belum Memenuhi Syarat Beroperasi

Suyuti menambahkan, untuk memastikan seseorang terinfeksi varian tertentu, diperlukan pemeriksaan lanjutan menggunakan metode genomik. Pemeriksaan tersebut tidak bisa dilakukan hanya berdasarkan gejala klinis semata.

“Harus dilakukan pemeriksaan genomik untuk mengetahui jenis virusnya secara pasti,” ucapnya.

Dinkes Kalteng pun mengimbau masyarakat agar tidak panik, namun tetap waspada. Jika mengalami gejala flu yang berat atau berkepanjangan, warga diminta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat untuk mendapatkan penanganan yang tepat.

Di sisi lain, dilansir dari Website resmi Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Republik Indonesia menegaskan bahwa situasi influenza A(H3N2) subclade K di Indonesia hingga akhir Desember 2025 masih dalam kondisi terkendali dan tidak menunjukkan peningkatan tingkat keparahan dibandingkan clade maupun subclade influenza lainnya.

Direktur Penyakit Menular Kemenkes RI, dr. Prima Yosephine, menjelaskan bahwa secara global peningkatan kasus influenza A(H3) mulai terpantau di Amerika Serikat sejak minggu ke-40 tahun 2025, seiring dengan masuknya musim dingin. Subclade K sendiri pertama kali diidentifikasi oleh Centers for Disease Control and Prevention (CDC) Amerika Serikat pada Agustus 2025 dan hingga kini telah dilaporkan di lebih dari 80 negara.

Baca Juga :  Kesal Soal Keputusan Wasit, Shin Tae Yong: Itu Bukan Pertandingan Sepakbola

“Berdasarkan penilaian WHO dan data epidemiologi yang tersedia, influenza A(H3N2) subclade K tidak menunjukkan peningkatan tingkat keparahan. Gejala yang muncul umumnya serupa dengan flu musiman, seperti demam, batuk, pilek, sakit kepala, dan nyeri tenggorokan,” ujar dr. Prima.

Di kawasan Asia, subclade K telah dilaporkan di sejumlah negara, antara lain Tiongkok, Korea Selatan, Jepang, Singapura, dan Thailand sejak Juli 2025. Meskipun influenza A(H3) menjadi varian dominan, tren kasus influenza di negara-negara tersebut menunjukkan penurunan dalam dua bulan terakhir.

Di Indonesia, hasil surveilans juga menunjukkan bahwa influenza A(H3) merupakan varian dominan. Tren kasus influenza nasional tercatat menurun dalam dua bulan terakhir. Berdasarkan pemeriksaan whole genome sequencing (WGS) yang diselesaikan pada 25 Desember 2025, subclade K terdeteksi sejak Agustus 2025 melalui sistem surveilans sentinel ILI-SARI di berbagai fasilitas pelayanan kesehatan.

“Hingga akhir Desember 2025, tercatat 62 kasus influenza A(H3N2) subclade K yang tersebar di delapan provinsi, dengan jumlah terbanyak di Jawa Timur, Kalimantan Selatan, dan Jawa Barat. Mayoritas kasus terjadi pada perempuan dan kelompok usia anak,” jelasnya. (*her)

Terpopuler

Artikel Terbaru