PALANGKA RAYA, PROKALTENG.CO – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah kawasan Palangka Raya mulai berdampak terhadap satwa liar, termasuk orangutan yang berada di pusat rehabilitasi Borneo Orangutan Survival Foundation (BOSF). Sejumlah orangutan dilaporkan mengalami gangguan kesehatan seperti batuk dan flu yang diduga akibat paparan asap karhutla.
Co-BOS Borneo Orangutan Survival Foundation (BOSF), Jamartin Sihite, mengatakan karhutla tidak hanya mengancam kesehatan manusia, tetapi juga memberikan dampak langsung terhadap habitat orangutan. Api dapat menghancurkan pepohonan yang menjadi tempat tinggal, bermain hingga mencari makanan bagi satwa liar.
“Di tempat api membuat pohon hancur, rumah satwa liar hancur, tempat dia bermain hancur, tempat dia cari makan hancur,” kata Jamartin saat ditemui di kawasan hutan Universitas Palangka Raya (UPR), di belakang Gedung PPIIG.
Menurutnya, dampak yang lebih serius dapat terjadi ketika asap dari kebakaran menyebar ke berbagai wilayah. Satwa yang terpapar asap bisa mengalami kepanikan hingga keluar dari habitat alaminya.
“Nah yang paling parah sebenarnya ketika asap melebar ke mana-mana, satwa akan terpapar. Itu bisa membuat mereka panik dan kemudian bisa keluar dari habitatnya dan itu mulai terjadi konflik,” jelasnya.
Karena itu, Jamartin berharap kebakaran dapat segera dikendalikan sehingga api tidak meluas dan memicu dampak yang lebih besar terhadap satwa liar maupun masyarakat.
Sementara untuk orangutan yang berada di pusat rehabilitasi, pihaknya melakukan pemantauan kesehatan secara berkala. Selain memberikan vitamin untuk membantu menjaga kondisi tubuh, setiap orangutan juga diperiksa untuk melihat gejala gangguan pernapasan akibat asap.
“Kita pantau orangutan supaya kita tahu berapa yang sudah kena ISPA, apakah dia sudah batuk-batuk, apakah dia sudah flu, apakah dia sudah sesak napas. Satu-satu kita lihat dan treatment-nya beda-beda,” ungkapnya.
Ia menyebut, sejauh ini belum ada orangutan dari alam yang masuk ke pusat rehabilitasi akibat terdampak karhutla. Namun, beberapa orangutan yang sudah berada di pusat rehabilitasi mulai menunjukkan gejala gangguan kesehatan.
“Yang dari alam masuk ke pusat rehabilitasi belum ada dan semoga tidak ada. Kalau yang di rehabilitasi ada yang mulai batuk-batuk, yang mulai flu, itu biasanya karena asap,” ujarnya.
Untuk orangutan yang terdampak asap di pusat rehabilitasi, jumlahnya disebut masih kurang dari lima ekor.
Sementara itu, secara keseluruhan BOSF menangani hampir 400 orangutan yang tersebar di pusat rehabilitasi, termasuk di Kalimantan Timur. Khusus di wilayah ini, terdapat sekitar 200 orangutan dalam penanganan.
Selain dampak terhadap kesehatan orangutan, Jamartin juga menyoroti sulitnya pemadaman karhutla di kawasan gambut. Menurutnya, pengalaman kebakaran pada 2015 dan 2019 menjadi gambaran bahwa api di lahan gambut, terutama gambut dalam, membutuhkan penanganan yang tidak mudah.
“Pemadaman gambut bukan persoalan yang mudah. Pengalaman kita 2015, 2019 dan sekarang menunjukkan susah sekali pemadaman gambut, apalagi gambut dalam,” katanya.
Karena itu, salah satu langkah yang dilakukan adalah melokalisasi api agar tidak semakin meluas. Di kawasan hutan UPR, tim melakukan pembukaan jalur dengan membongkar pepohonan untuk menghambat penyebaran api.
Selain itu, tim juga mencoba metode pemadaman menggunakan air yang dicampur bahan khusus berupa sabun. Metode tersebut telah melalui riset dan saat ini masih diuji untuk melihat efektivitasnya dalam menangani kebakaran lahan gambut.
“Teman-teman di sini mencoba metode yang sudah lewat riset dengan menggunakan air sabun, tapi sabunnya khusus. Jadi ketika disemprotkan ke alam itu akan terdegradasi,” pungkasnya. (mg2)


