PROKALTENG.CO-Hujan deras yang mengguyur sejak Minggu (18/5) dini hari, membuat Sungai Barabai meluap. Akibatnya, sejumlah wilayah di pusat Kota Barabai, Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST), terendam banjir dengan ketinggian air mencapai di atas mata kaki orang dewasa.
Wilayah yang terdampak meliputi Simpang Ulama, Sarigading, Kampung Kadi, Pasar Murakata, Bungur, Munti Raya, hingga Jalan P.M Nor. Luapan sungai juga membawa tumpukan sampah berupa ranting pohon dan bambu yang sempat menyumbat aliran air di bawah Jembatan Darma.
Bupati HST, Samsul Rizal, turun langsung ke lapangan untuk memantau kondisi. Ia mengerahkan jajaran terkait membersihkan tumpukan ranting agar aliran sungai kembali lancar. “Secepatnya kita selesaikan sampah pohon menumpuk ini. Kalau aliran sungai tertutup, air melambat dan daerah perkotaan terendam,” ujarnya.
Pantauan terakhir menunjukkan aliran sungai sudah kembali normal setelah pembersihan. Cuaca pun berangsur cerah. Namun, banjir tetap menyisakan genangan di sejumlah permukiman.
Seorang warga Bungur, Hendra Ansari, menyebut rumahnya di RT 3 RW 9, Kelurahan Barabai Timur, terendam hingga 10 cm. “Di luar rumah air setinggi pinggang orang dewasa. Air naik sejak subuh, kami belum mengungsi, hanya mengamankan barang ke tempat lebih tinggi,” katanya.
BPBD HST mencatat, banjir melanda tiga kecamatan. Yakni Pandawan, Barabai, dan Batu Benawa. Sebanyak 8 desa dan 5 kelurahan terdampak, dengan data sementara 2.489 rumah terdampak, 441 rumah terendam, 7.204 jiwa terdampak, serta satu warga mengungsi ke rumah kerabat.
Kasi Kedaruratan BPBD HST, Fitriadinor, menjelaskan banjir dipicu hujan berintensitas tinggi sejak dini hari. “Mengakibatkan air naik menggenangi jalan, pekarangan rumah dan merendam rumah warga dengan ketinggian air bervariasi. Paling terdampak warga yang tinggal dibantaran sungai,” jelasnya.
Kandangan Dapat Banjir Kiriman, Masyarakat Diminta Waspada
SEMENTARA. Luapan air kiriman dari Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST) merendam kawasan Lok Nyiur, Desa Bamban, RT 002, RW 001, Kecamatan Angkinang, Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS), Senin (18/5).
Banjir dengan ketinggian air sekitar 30-40 cm merendam rumah warga, sementara ruas jalan aspal di kawasan tersebut turut tergenang dengan ketinggian sekitar 4-5 cm. Data sementara mencatat, sebanyak 21 rumah dari 21 kepala keluarga terdampak akibat luapan air tersebut.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten HSS, Ika Aguspiannor mengatakan informasi banjir diterima saat tim BPBD HSS tengah melakukan pemantauan debit air di Bendungan Amandit dan Bendungan Telaga Langsat. “Lokasi terdampak banjir di Lok Nyiur, Desa Bamban,” ujar Ika.
Selain melakukan pemantauan dan pendataan, BPBD HSS bersama Pemerintah Daerah juga menyalurkan bantuan bahan makanan kepada warga terdampak banjir. Bantuan tersebut diserahkan langsung oleh Wakil Bupati Kabupaten HSS, Suriani.
Pihaknya meminta masyarakat tetap waspada terhadap potensi kenaikan debit air. BPBD memasitkan terus melakukan pemantauan terhadap perkembangan debit air, terutama di wilayah rawan terdampak banjir kiriman. Warga di bantaran sungai juga diimbau tetap meningkatkan kewaspadaan apabila curah hujan kembali tinggi dalam beberapa hari ke depan.
Sejumlah Kebun Tergenang Air, Cemas Ancaman Gagal Panen
Tingginya intensitas curah hujan yang mengguyur wilayah Kabupaten Balangan sejak Minggu (17/5) malam hingga Senin (18/5) pagi, berdampak pada lahan warga. Di Kecamatan Awayan, sejumlah kebun warga dilaporkan sempat tergenang air, memicu kecemasan ancaman gagal panen
Kondisi tanah yang lembek dan tergenang membuat sebagian tanaman hortikultura milik warga terdampak langsung. Komoditas sensitif seperti cabai banyak yang ditemukan rebah, sementara sebagian lainnya mulai menunjukkan gejala layu.
Salah seorang petani sayur asal Awayan, Khairullah, mengungkapkan bahwa genangan air paling rawan muncul di area lahan yang memiliki sistem drainase kurang optimal. Jika kondisi lembap ini terus bertahan selama beberapa hari ke depan, para petani harus bersiap menghadapi serangan hama penyakit.
“Kondisi tanaman setelah diguyur hujan deras ada yang mulai layu, dan beberapa batang cabai terlihat rebah karena tanah terlalu lembek. Yang paling kami khawatirkan saat ini adalah pembusukan akar dan serangan jamur,” katanya.
Pria yang mengelola lahan cabai, terong, dan sayuran ini menambahkan, cuaca ekstrem seperti sekarang menjadi momok menakutkan bagi petani hortikultura maupun perkebunan. Selain menurunkan kualitas buah dan membuat daun menguning, hujan lebat juga melumpuhkan aktivitas ekonomi sektor lainnya di Awayan.
“Untuk petani karet, cuaca seperti ini otomatis membuat aktivitas menyadap harus berhenti sementara, karena batang pohon basah dan hasil getah tidak akan maksimal. Petani sayur juga terpaksa menunda panen karena lahan becek,” tambahnya.
Jika intensitas hujan tidak kunjung turun dalam beberapa hari ke depan, penurunan omset secara drastis tidak dapat dihindari. Kerugian material akibat kerusakan tanaman diproyeksikan bisa menembus angka jutaan rupiah, tergantung dari luas bentangan lahan.
Menyikapi kondisi darurat tersebut, para petani setempat berupaya melakukan langkah penyelamatan mandiri. Mereka bergotong-royong membersihkan dan memperdalam saluran drainase agar air tidak mengendap di perakaran, menegakkan kembali batang yang roboh, serta bersiap melakukan penyemprotan fungisida secara berkala.
Kendati demikian, keterbatasan modal dan sarana membuat para petani menaruh harapan besar pada intervensi pemerintah daerah melalui instansi terkait.
“Harapan kami kepada pemerintah dan Dinas Pertanian, semoga ada perhatian lebih untuk petani saat cuaca ekstrem seperti sekarang. Baik itu bantuan obat-obatan pertanian, pendampingan teknis di lapangan, hingga stimulan bantuan bibit jika sampai terjadi gagal panen,” harapnya.(jpg)


