Memanfaatkan waktu sepulang kerja sebagai ASN, dengan cekatan tangan Isma Sari memproduksi kue Lebaran di dapur rumahnya. Usahanya itu kini kebanjiran pesanan.
****
Hangatnya oven yang menyala dan aroma kue yang baru matang semerbak memenuhi dapur rumah Isma Sari di Jalan Kelapa Gading 1, Kelurahan Sungai Besar, Banjarbaru.
Di atas meja dapur, tumpukan toples berisi kue kering tampak tersusun rapi menunggu untuk dikemas.
Pemandangan seperti itu hampir setiap hari terlihat di rumah perempuan 40 tahun tersebut selama Ramadan.
Padahal, pada siang hari Isma menjalankan tugasnya sebagai aparatur sipil negara (ASN) di Pemerintah Kota Banjarbaru.
Ia menjabat sebagai Kepala Seksi Penataan Lingkungan Permukiman di Dinas Perumahan dan Permukiman (Disperkim) Banjarbaru.
Sepulang bekerja, Isma langsung berganti peran. Dari balik meja kantor, ia kembali mengenakan celemek dapur untuk memproduksi berbagai kue Lebaran. “Kalau hari kerja biasanya mulai produksi dari jam empat sore setelah pulang kantor sampai sekitar jam 12 malam,” ujarnya.
Kesibukan bahkan lebih terasa saat akhir pekan. Sejak pukul 8 pagi hingga tengah malam, dapur rumahnya nyaris tak pernah sepi dari aktivitas membuat kue.
Usaha kue yang diberi nama Si Jenk Snack and Cookies itu mulai dijalankan secara serius sejak Mei 2020, tepat saat pandemi Covid-19 melanda.
Saat itu, kebijakan bekerja dari rumah membuatnya memiliki lebih banyak waktu untuk mencoba menjual kue secara daring. “Awalnya hanya dijual secara online,” kata ibu dua anak ini.
Pinggang Sampai Encok, Terpaksa Close Order
Seiring waktu, pesanan terus meningkat dari tahun ke tahun. Terlebih menjelang Idulfitri. Ramadan tahun ini menjadi salah satu musim tersibuk bagi Isma.
Pesanan yang datang dari pelanggan bahkan hampir mencapai 1.000 toples, mulai dari ukuran kecil hingga toples bersekat yang biasa dijadikan hampers Lebaran.
Beberapa kue yang paling banyak diminati pelanggan di antaranya nastar, putri salju, sus buah, dan macaroni schotel.
Selain itu, Isma juga membuat berbagai kue kering lain seperti monde susu, thumbprint, palm cheese, kue mede, kue kacang hingga kue almond.
Membeludaknya pesanan membuat Isma sempat kewalahan. Ia bahkan harus memasang pemberitahuan close order melalui status WhatsApp karena tak lagi sanggup menerima tambahan pesanan.
“Semakin mendekati Lebaran, semakin banyak permintaan. Karena saya juga bekerja sebagai ASN, produksi hanya bisa dilakukan sore sampai malam atau saat hari libur,” jelasnya.
Padatnya aktivitas di dapur tak jarang membuat tubuhnya kelelahan. “Memang sampai encok karena berdiri lama dan prosesnya cukup panjang. Tapi tetap menyenangkan,” ujarnya sambil tersenyum.
Dalam menjalankan usahanya, Isma dibantu seorang asisten di dapur produksi. Meski demikian, sebagian besar proses pembuatan kue tetap ia kerjakan sendiri.
Di tengah kesibukannya sebagai ASN sekaligus ibu rumah tangga, Isma mengaku harus disiplin mengatur waktu agar semua kegiatan bisa berjalan seimbang.
“Saya membuat jadwal setiap hari dan berusaha konsisten supaya pekerjaan kantor, rumah tangga, dan usaha kue ini bisa berjalan beriringan,” katanya.(jpg)


