PROKALTENG.CO-Banjarmasin sedang mengalami fase pasang banjir rob. Tak ayal, banjir jadi ujian rutin, sebagian masyarakat berdamai hidup berdampingan genangan, sebagian pula ada yang resah.
Di bulan Desember 2025, pemandangan banjir rob bisa ditemui dalam kondisi dan waktu tertentu.
Kedalamannya banjir rob pun beragam, pengaruh air pasang disebut-sebut datang dari Sungai Martapura dan Sungai Barito, adapula yang diperparah oleh intensitas hujan yang tinggi saat memasuki cuaca ekstrem.
Pemko Banjarmasin sudah merilis imbauan. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) juga sudah disiagakan.
Genangan rob juga kerap menyelimuti salah satunya akses jalan protokol seperti Jalan Ahmad Yani.
Pengamat tata kota, Nanda Febryan Pratamajaya menggarisbawahi fenomena banjir rob di Ahmad Yani.
Menurut Nanda, rob yang menggenangi lintasan jalan menuju kabupaten tetangga itu berasal dari Sungai Martapura yang menyusup melalui sungai-sungai kecil hingga muncul ke badan jalan.
Jaraknya pun sejauh 3,7 kilometer jika dihitung mulai dari sungai kecil dekat Duta Mall Banjarmasin hingga ke Gang Marina di kilometer 6.
“Rob yang masuk ke Jalan Ahmad Yani diduga berasal dari sungai samping DM, samping BPJS Kesehatan, pasar di Jalan Pandu hingga sungai di Gang Marina,” ujarnya. Senin (15/12).
Ketua Ikatan Ahli Teknik Indonesia (IKATINDO) Kalsel ini menyebut rob di Banjarmasin memang sangat sulit dihilangkan, sebab geografis kota di bawah tinggi permukaan air laut.
Namun, langkah paling masuk akal adalah membuat air rob cepat turun melalui sejumlah penanganan teknis. Pertama, pembuatan pintu air di sejumlah titik pintu masuk ke sungai kecil di wilayah Jalan Ahmad Yani.
Kedua, membangun sistem pompanisasi dari Jalan Ahmad Yani saat air di Sungai Barito dan Sungai Martapura dalam keadaan mulai surut.
“Ini mempercepat turunnya air yang menggenang jalanan,” ucap Nanda.
Ketiga, meninggikan tanggul di hadapan sungai kecil di sekitar Jalan Ahmad Yani.
“Cukup di bagian depan air banjirnya yang berpotensi melampaui sisi sungai eksisting,” tambahnya.
Keempat, pintu klep atau satu arah pada inlet trotoar di Jalan Ahmad Yani. Ini diklaim mencegah air dari sungai kecil masuk ke jalan.
Terakhir, peningkatan daya tampung sungai di wilayah Jalan Ahmad Yani hingga tembus ke kilometer 1 Jembatan Dewi dengan normalisasi, ini masih menjadi pekerjaan rumah pemerintah di mata pengamat.
Dikonfirmasi soal ini, Kepala Dinas PUPR Banjarmasin, Suri Sudarmadiyah belum merespons pesan dan panggilan telepon Radar Banjarmasin.(jpg)


