PALANGKA RAYA, PROKALTENG.CO – Kepergian Bripda Novandri Ramadhana (24), personel Satresnarkoba Polres Katingan yang gugur usai operasi penggerebekan terduga bandar narkoba, menyisakan duka mendalam bagi keluarga.
Sebelum berangkat menjalankan tugas ke wilayah pedalaman, almarhum sempat memberi kabar kepada kedua orang tuanya. Kabar gugurnya polisi muda itu kemudian membuat sang ayah mengalami shock hingga terjatuh dan harus menjalani perawatan di rumah sakit.
Kakak kandung korban, Santri Sutrisno (39), mengungkapkan bahwa adiknya memiliki kebiasaan selalu berpamitan kepada keluarga setiap kali mendapat penugasan operasi. Sebelum berangkat, Bripda Novandri sempat mengabarkan kepada kedua orang tuanya bahwa dirinya akan bertugas ke wilayah hulu Kabupaten Katingan.
“Iya, dia ada ngabarin ke bapak ibu. Memang kemarin bilang adik ke hulu untuk tugas,” ujar Santri saat ditemui di RS Bhayangkara Polda Kalteng, Palangka Raya, Minggu (5/7/2026) dini hari.
Menurut Santri, saat mendengar adiknya mendapat tugas ke wilayah pedalaman, keluarga sama sekali tidak memiliki firasat buruk. Mereka menganggap penugasan tersebut sebagai rutinitas yang biasa dijalani seorang anggota kepolisian.
“Saya kira kan biasa-biasa saja, tidak menyangka akan ada musibah. Tapi intinya memang pasti setiap adik ada tugas, dia ngabarin ibu, ngabarin bapak. Kebetulan orang tua juga ngabarin ke saya lagi,” jelasnya.
Bripda Novandri dikenal sangat dekat dengan keluarganya. Polisi muda yang dikenal mandiri dan humoris itu sehari-hari tinggal bersama kedua orang tuanya di Kasongan. Rumah mereka bahkan berdampingan dengan kediaman Santri.
Namun, pesan terakhir itu menjadi pamitan terakhir. Bripda Novandri dilaporkan hilang dan hanyut di Sungai Katingan setelah timnya diserang keluarga terduga bandar sabu saat operasi penggerebekan di Desa Tumbang Kalamei pada Kamis (2/7/2026) dini hari.
Setelah dilakukan pencarian intensif selama tiga hari oleh tim gabungan, jasad Bripda Novandri akhirnya ditemukan warga mengapung di aliran Sungai Katingan, Desa Tumbang Lahang, pada Sabtu (4/7/2026) sore.
Kabar ditemukannya Bripda Novandri dalam kondisi meninggal dunia menjadi pukulan berat bagi keluarga, terutama sang ayah. Santri menuturkan ayahnya mengalami guncangan batin setelah menerima kabar duka tersebut pada Jumat sore. Kondisinya memuncak keesokan harinya saat hendak menuju kamar mandi.
“Kejadiannya dia mau ke WC dari tempat tidur. Langsung linglung, jatuh begitu saja. Jatuh dan dijahit ada tujuh kalau tidak salah,” ungkap Santri.
Akibat terjatuh, ayah korban membentur sebuah perabotan rumah yang diduga lemari hingga mengalami luka dan harus mendapat tujuh jahitan.
Santri menjelaskan, kondisi ayahnya diduga semakin memburuk karena memiliki riwayat penyakit Parkinson yang telah lama diderita.
“Beliau kan ada penyakit tertentu karena Parkinson, jadi agak susah, mungkin antara otak dan sarafnya agak lama (merespons). Mungkin dia shock juga mendengar kabar ini, sehingga penyakit lamanya kambuh,” tambahnya.
Saat ini, ayah Bripda Novandri masih menjalani perawatan di Rumah Sakit Kasongan, Kabupaten Katingan. Perawatannya turut didampingi istri Santri yang berprofesi sebagai perawat di rumah sakit tersebut.
Karena kondisi sang ayah belum memungkinkan untuk bepergian, keluarga membagi tugas. Santri berangkat ke Palangka Raya untuk mengurus jenazah adiknya sekaligus mengikuti proses autopsi, sementara kedua orang tuanya tetap berada di Kasongan.
Seperti diketahui, Bripda Novandri Ramadhana dilaporkan hilang dan hanyut usai terlibat bentrok dalam operasi penggerebekan terduga bandar sabu di Desa Tumbang Kalamei pada Kamis (2/7/2026) dini hari. Setelah tiga hari pencarian, polisi berusia 24 tahun itu ditemukan warga mengapung di aliran Sungai Katingan pada Sabtu (4/7/2026). (her)


