33.5 C
Jakarta
Tuesday, April 14, 2026

Imunisasi Campak di Kalteng Turun ke 70 Persen, Dinkes Waspadai Ancaman KLB

PALANGKA RAYA, PROKALTENG.CO – Penurunan cakupan imunisasi campak di Kalimantan Tengah menjadi perhatian serius pemerintah daerah. Dinas Kesehatan (Dinkes) Kalteng mencatat, tingkat imunisasi campak kini hanya sekitar 70 persen, jauh dari target ideal 95 persen yang selama ini menjadi standar untuk mencegah potensi Kejadian Luar Biasa (KLB).

Kepala Dinas Kesehatan Kalteng, Suyuti Syamsul, menyebut merosotnya partisipasi imunisasi campak ini salah satunya dipicu maraknya kampanye anti-vaksin di masyarakat. Informasi yang keliru membuat sebagian orang tua ragu membawa anaknya ke fasilitas kesehatan untuk mendapatkan imunisasi.

“Dulu kita selalu bisa mencapai angka 95 persen untuk imunisasi campak. Tapi sekarang kampanye anti-vaksin itu luar biasa, sehingga terjadi penurunan orang yang mau mengimunisasi anaknya,” ujarnya, Senin (9/3/26).

Akibat penurunan tersebut, saat ini terdapat sekitar 30 persen kelompok masyarakat yang tidak memiliki kekebalan terhadap virus campak. Kondisi ini dinilai cukup berisiko karena kelompok tersebut dapat menjadi mata rantai penularan di lingkungan sekitar.

Baca Juga :  Pelatihan Kader Posyandu Perkuat Layanan Kesehatan di Kalteng

Meski demikian, Pemprov Kalteng memastikan hingga awal 2026 belum ada laporan resmi terkait KLB campak di wilayahnya. Namun kewaspadaan tetap ditingkatkan, mengingat penyakit endemis ini sempat memicu KLB di beberapa daerah Kalteng pada tahun lalu, salah satunya di Kabupaten Seruyan.

Secara medis, campak sebenarnya termasuk penyakit yang bisa sembuh dengan sendirinya. Namun virus ini dapat menimbulkan dampak serius pada individu dengan daya tahan tubuh lemah, terutama anak-anak dan lansia.

“Sebetulnya penyakit ini bisa sembuh sendiri. Tapi pada orang-orang tertentu dengan daya tahan tubuh kurang bagus, bisa berdampak fatal, terutama anak-anak dan orang tua,” kata Suyuti.

Electronic money exchangers listing

Dalam penanganan medis, sebagian besar pasien campak tidak memerlukan perawatan intensif di rumah sakit besar. Kasus umumnya dapat ditangani di puskesmas pada tingkat kecamatan. Karena itu, rumah sakit rujukan seperti RSUD dr. Doris Sylvanus Palangkaraya relatif jarang menerima pasien dengan diagnosis campak.

Baca Juga :  Dinas Kesehatan Kalteng Terima Tenaga Kesehatan Penugasan Khusus

Ke depan, Dinkes Kalteng menegaskan upaya pencegahan paling efektif adalah meningkatkan kembali cakupan imunisasi hingga mencapai 95 persen. Seluruh puskesmas dan posyandu kini diminta menggencarkan promosi kesehatan serta edukasi langsung kepada masyarakat.

“Kuncinya ada di imunisasi. Kita mendorong puskesmas memaksimalkan kembali promosi kesehatan agar masyarakat yakin bahwa vaksinasi itu penting untuk perlindungan dan kesehatan anak,” pungkasnya. (her)

PALANGKA RAYA, PROKALTENG.CO – Penurunan cakupan imunisasi campak di Kalimantan Tengah menjadi perhatian serius pemerintah daerah. Dinas Kesehatan (Dinkes) Kalteng mencatat, tingkat imunisasi campak kini hanya sekitar 70 persen, jauh dari target ideal 95 persen yang selama ini menjadi standar untuk mencegah potensi Kejadian Luar Biasa (KLB).

Kepala Dinas Kesehatan Kalteng, Suyuti Syamsul, menyebut merosotnya partisipasi imunisasi campak ini salah satunya dipicu maraknya kampanye anti-vaksin di masyarakat. Informasi yang keliru membuat sebagian orang tua ragu membawa anaknya ke fasilitas kesehatan untuk mendapatkan imunisasi.

“Dulu kita selalu bisa mencapai angka 95 persen untuk imunisasi campak. Tapi sekarang kampanye anti-vaksin itu luar biasa, sehingga terjadi penurunan orang yang mau mengimunisasi anaknya,” ujarnya, Senin (9/3/26).

Electronic money exchangers listing

Akibat penurunan tersebut, saat ini terdapat sekitar 30 persen kelompok masyarakat yang tidak memiliki kekebalan terhadap virus campak. Kondisi ini dinilai cukup berisiko karena kelompok tersebut dapat menjadi mata rantai penularan di lingkungan sekitar.

Baca Juga :  Pelatihan Kader Posyandu Perkuat Layanan Kesehatan di Kalteng

Meski demikian, Pemprov Kalteng memastikan hingga awal 2026 belum ada laporan resmi terkait KLB campak di wilayahnya. Namun kewaspadaan tetap ditingkatkan, mengingat penyakit endemis ini sempat memicu KLB di beberapa daerah Kalteng pada tahun lalu, salah satunya di Kabupaten Seruyan.

Secara medis, campak sebenarnya termasuk penyakit yang bisa sembuh dengan sendirinya. Namun virus ini dapat menimbulkan dampak serius pada individu dengan daya tahan tubuh lemah, terutama anak-anak dan lansia.

“Sebetulnya penyakit ini bisa sembuh sendiri. Tapi pada orang-orang tertentu dengan daya tahan tubuh kurang bagus, bisa berdampak fatal, terutama anak-anak dan orang tua,” kata Suyuti.

Dalam penanganan medis, sebagian besar pasien campak tidak memerlukan perawatan intensif di rumah sakit besar. Kasus umumnya dapat ditangani di puskesmas pada tingkat kecamatan. Karena itu, rumah sakit rujukan seperti RSUD dr. Doris Sylvanus Palangkaraya relatif jarang menerima pasien dengan diagnosis campak.

Baca Juga :  Dinas Kesehatan Kalteng Terima Tenaga Kesehatan Penugasan Khusus

Ke depan, Dinkes Kalteng menegaskan upaya pencegahan paling efektif adalah meningkatkan kembali cakupan imunisasi hingga mencapai 95 persen. Seluruh puskesmas dan posyandu kini diminta menggencarkan promosi kesehatan serta edukasi langsung kepada masyarakat.

“Kuncinya ada di imunisasi. Kita mendorong puskesmas memaksimalkan kembali promosi kesehatan agar masyarakat yakin bahwa vaksinasi itu penting untuk perlindungan dan kesehatan anak,” pungkasnya. (her)

Terpopuler

Artikel Terbaru