“Kalau ada penyakit penyerta biasanya ada asma, nah itu yang memperparah. Kalau kasus asma biasanya kita rujuk ke rumah sakit karena penanganannya memerlukan waktu dua sampai tiga hari,” jelasnya.
Untuk membantu masyarakat yang terdampak kabut asap, Pemerintah Kota Palangka Raya juga menyediakan rumah oksigen yang dapat dimanfaatkan warga yang mengalami gangguan pernapasan akibat hirupan partikel asap.
“Rumah oksigen dimanfaatkan untuk warga yang ada batuk, pilek, dan sesak. Tapi sesaknya karena hirupan partikel asap. Jadi begitu diberikan oksigen biasanya sesaknya berkurang,” tuturnya.
Meski jumlah kasus ISPA cukup tinggi selama musim karhutla, Riduan memastikan hingga saat ini belum terdapat korban jiwa yang disebabkan oleh ISPA maupun dampak langsung kabut asap di Kota Palangka Raya.
“Sampai hari ini tidak ada korban,” tegasnya.
Berdasarkan data Dinkes, sebaran kasus ISPA terjadi hampir merata pada seluruh kelompok usia. Sekitar 30 persen kasus terjadi pada bayi dan balita, 40 persen pada kelompok usia dewasa, serta 30 persen pada kelompok lanjut usia (lansia).
“Kelihatan penyakit itu tidak di satu usia, merata,” pungkasnya.
Dinkes Kota Palangka Raya terus mengimbau masyarakat untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan saat kualitas udara memburuk, menggunakan masker, memperbanyak konsumsi air putih dan vitamin, serta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami gangguan pernapasan. (adr)
“Kalau ada penyakit penyerta biasanya ada asma, nah itu yang memperparah. Kalau kasus asma biasanya kita rujuk ke rumah sakit karena penanganannya memerlukan waktu dua sampai tiga hari,” jelasnya.
Untuk membantu masyarakat yang terdampak kabut asap, Pemerintah Kota Palangka Raya juga menyediakan rumah oksigen yang dapat dimanfaatkan warga yang mengalami gangguan pernapasan akibat hirupan partikel asap.
“Rumah oksigen dimanfaatkan untuk warga yang ada batuk, pilek, dan sesak. Tapi sesaknya karena hirupan partikel asap. Jadi begitu diberikan oksigen biasanya sesaknya berkurang,” tuturnya.
Meski jumlah kasus ISPA cukup tinggi selama musim karhutla, Riduan memastikan hingga saat ini belum terdapat korban jiwa yang disebabkan oleh ISPA maupun dampak langsung kabut asap di Kota Palangka Raya.
“Sampai hari ini tidak ada korban,” tegasnya.
Berdasarkan data Dinkes, sebaran kasus ISPA terjadi hampir merata pada seluruh kelompok usia. Sekitar 30 persen kasus terjadi pada bayi dan balita, 40 persen pada kelompok usia dewasa, serta 30 persen pada kelompok lanjut usia (lansia).
“Kelihatan penyakit itu tidak di satu usia, merata,” pungkasnya.
Dinkes Kota Palangka Raya terus mengimbau masyarakat untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan saat kualitas udara memburuk, menggunakan masker, memperbanyak konsumsi air putih dan vitamin, serta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami gangguan pernapasan. (adr)