NANGA BULIK, PROKALTENG.CO – Musim kemarau yang berkepanjangan mulai memukul sektor pertanian di Kabupaten Lamandau. Banyak petani mengalami gagal tanam dan gagal panen akibat kekeringan, sehingga pasokan sayur lokal di Pasar Subuh dan Pasar Induk Nanga Bulik menurun drastis. Dampaknya, harga berbagai komoditas hortikultura melonjak tajam.
Kenaikan harga terjadi pada hampir seluruh jenis sayuran lokal. Salah satu yang paling mencolok adalah daun bawang yang kini menembus Rp110 ribu per kilogram. Selain mahal, stok komoditas tersebut juga mulai sulit ditemukan di pasaran.
Pedagang sayur di Pasar Nanga Bulik, Madi, mengatakan pasokan dari petani terus berkurang dalam beberapa pekan terakhir. Menurutnya, banyak petani mengeluhkan sumur dan sumber air yang mulai mengering sehingga harus membeli air untuk menyiram tanaman.
“Daun bawang biasanya Rp65 ribu per kilogram, kemarin naik menjadi Rp95 ribu, dan hari ini naik lagi menjadi Rp110 ribu per kilogram. Itu pun barangnya banyak kosong meski harganya mahal,” ujar Madi saat ditemui di Pasar Nanga Bulik, Rabu (5/8).
Dia menjelaskan, harga kacang panjang naik dari Rp10 ribu menjadi Rp18 ribu per kilogram, timun dari Rp13 ribu menjadi Rp18 ribu per kilogram, terong dari Rp20 ribu menjadi Rp25 ribu per kilogram, cabai dari Rp60 ribu menjadi Rp75 ribu per kilogram, buncis dari Rp25 ribu menjadi Rp30 ribu per kilogram, dan pare dari Rp10 ribu menjadi Rp18 ribu per kilogram. Sementara itu, kangkung yang sebelumnya dijual Rp10 ribu untuk tiga ikat kini menjadi Rp5 ribu per ikat dengan stok yang sangat terbatas.
Di sisi lain, sejumlah sayuran yang dipasok dari Pulau Jawa justru mengalami penurunan harga. Kol turun dari Rp15 ribu menjadi Rp13 ribu per kilogram, sawi putih dari Rp18 ribu menjadi Rp15 ribu per kilogram, serta kentang dari Rp23 ribu menjadi Rp20 ribu per kilogram. Hanya bawang putih yang mengalami kenaikan tipis sebesar Rp5 ribu per kilogram.
Lonjakan harga tersebut mulai dirasakan masyarakat. Salah seorang warga Nanga Bulik, Gofrun, mengaku harus mengurangi jumlah belanja sayur agar pengeluaran rumah tangganya tidak semakin membengkak.
“Sekarang belanja sayur terasa lebih mahal. Mau tidak mau tetap beli karena kebutuhan sehari-hari, hanya saja jumlahnya dikurangi agar pengeluaran tidak terlalu besar,” tuturnya.
Para pedagang berharap pemerintah daerah segera membantu petani mengatasi dampak musim kemarau, terutama melalui penyediaan sarana air bersih untuk irigasi. Masyarakat juga berharap harga sayur dan komoditas hortikultura kembali stabil agar tidak semakin membebani ekonomi keluarga. (bib)


