SAMPIT, PROKALTENG.CO– Musim kemarau di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) yang sudah terjadi pada pertengahan tahun lalu hingga sekarang. Berdampak pada beberap sektor krusial. Salah satunya adalah sektor pangan. Musim kemarau membuat beberapa lahan mengalami kekeringan. Hal itu membuat ratusan hektar lahan pangan di Kotim rusak.
Badai El Nino (pemanasan suhu permukaan laut, red) diyakini menjadi biang kerok kemarau berkepanjangan. Yang terjadi di beberapa wilayah. Cuaca panas dapat menyebabkan kekeringan bahkan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla). Hal itu mempunyai dampak langsung kepada lahan pangan. Di Kabupaten Kotim sendiri bahkan titik panas paling besar terdapat di wilayah sentra produksi pangan.
“Kalau kemarau dan musim Karhutla seperti sekarang sektor pangan jadi terdampak. El Nino ini akan berdampak pada pertanian. Bahkan titik panas yang paling besar ada di wilayah sentra produksi pangan,”ujar Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Kotim, Sepnita, Rabu (27/9).
Menurut laporan yang diterima Dinas Pertanian Kabupaten Kotim, hingga akhir Agustus lalu ada sebanyak 272 hektare lahan yang mengalami kerusakan. Kerusakan itu berada di sentra produksi pangan yang terletak di Kecamatan Pulau Hanaut dan Kecamatan Teluk Sampit. Selain itu titik panas yang besar juga terdapat di Kecamatan Mentaya Hilir Selatan, Teluk Sampit, Kota Besi, dan Mentawa Baru Ketapang.
“Sentra pangan di dua wilayah yaitu Kecamatan Teluk Sampit dan Pulau Hanaut mengalami kerusakan. Hingga akhir Agustus, ada 150 hektar tanaman pangan rusak berat, 48 hektar rusak sedang, dan 74 hektare rusak ringan,” sampai Sepnita.
Meski begitu, sektor pangan tidak mengalami puso (tidak mengeluarkan hasil, red). Pihak pemerintah juga telah memberikan bantuan berupa embung, pompa air dan sumber air dalam untuk para petani. Diharapkan kelompok tani bisa memanfaatkan bantuan tersebut.
“Kita sudah menyurati kelompok tani agar bisa mengoptimalkan bantuan yang diberikan pemerintah daerah,” ujar Sepnita.
Dirinya juga menghimbau kepada para kelompok tani. Agar siap dalam kondisi apapun. Mengingat, kemarau panjang yang berlangsung lebih dari enam bulan. Dapat berpotensi menimbulkan hama penyakit yang bisa mengganggu tanaman.
“Meski prakiraan BMKG musim penghujan terjadi di bulan November, tapi kita harus mewaspadai dampak dari kemarau ini. Diantaranya hama yang dapat merusak tanaman,”pungkasnya.(sli/kpg/ind)