28.8 C
Jakarta
Thursday, May 23, 2024
spot_img

‘Bersahabat’ dengan Gempa Bumi

Agustinus Agus Setiawan *)

BELUM hilang dari ingatan akan musibah gempa di Cianjur pada 21 November 2022, dengan kekuatan magnitudo 5,6 dan menelan korban jiwa sejumlah 327 orang. Minggu lalu, tepatnya 23 Maret 2024, Indonesia kembali diguncang gempa dengan magnitudo cukup besar. Tercatat 158 kali gerakan gempa di sekitar Pulau Bawean, dengan magnitudo terbesar adalah 6,5 sejarak 132 km dari Timur Laut Tuban, Jawa Timur.

Kejadian Gempa Bawean ini mengakibatkan 331 rumah rusak berat, 706 rumah rusak sedang, dan 1.356 rumah rusak ringan. Selain itu turut terdampak pula fasilitas-fasilitas umum seperti fasilitas pendidikan, fasilitas Kesehatan, rumah ibadah, kantor desa, hingga ke beberapa gedung bertingkat.

Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) sendiri mencatat bahwa sepanjang tahun 2023 di seluruh wilayah Indonesia diguncang gempa bumi sebanyak 10.789 kali dengan berbagai intensitas.

Anehkah hal ini? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, maka kita perlu menggali kembali letak negara kita Indonesia. Secara geografis Indonesia terletak di antara Benua Asia dan Benua Australia, serta di antara Samudera Hindia dan Samudera Pasifik.

Jika ditelisik lebih jauh, Wilayah Indonesia merupakan gugusan kepulauan terbesar di dunia yang memiliki 129 gunung api aktif, atau dikenal dengan ring of fire, serta terletak berada pada pertemuan empat lempeng tektonik aktif yang bergerak, yaitu lempeng Eurasia, lempeng Indo-Australia, lempeng Pasifik dan lempeng Filipina.

Kebanyakan lempeng tektonik ini bergerak kurang dari satu milimeter per hari; gerakan ini hampir sering tidak terlihat atau dirasakan oleh indra manusia. Namun, pergerakan harian ini berarti pergerakan 1-10 sentimeter selama setahun, dan pergerakan tahunan tersebut berarti pergerakan 10-50 kilometer selama satu juta tahun.

Pergerakan pelat tektonik sendiri terbagi menjadi 3 jenis, yaitu konvergen, divergen dan transform. Pergerakan konvergen terjadi apabila dua lempeng pelat bergerak saling mendekati di mana salah satunya bergerak menghunjam hingga masuk di bawah lempeng lainnya. Pergerakan divergen terjadi manakala dua lempeng pelat tektonik bergerak saling menjauh.

Sedangkan pergerakan transform terjadi jika pertemuan dua pelat tektonik saling bergerak menggeser ke samping satu sama lain. Gerakan-gerakan pelat yang umumnya lambat namun tanpa henti ini mampu mengakibatkan tersimpannya energi di bawah kulit bumi.

Gempa bumi sendiri timbul sebagai akibat dari pergerakan tiba-tiba sepanjang patahan di dalam bumi. Pergerakan tersebut melepaskan simpanan energi dalam bentuk gelombang seismik, yang merambat ke seluruh bumi dan menyebabkan permukaan tanah berguncang.

Berkaca dari hal tersebut, maka tidaklah aneh apabila wilayah Indonesia ini cukup sering diguncangkan oleh gempa bumi, baik yang berkuatan kecil, sedang hingga besar.

Kerugian Akibat Gempa Bumi

Gempa bumi dapat menimbulkan dampak bencana terhadap lingkungan, bahkan dalam skala kekuatan yang cukup besar tidak jarang suatu kejadian gempa dapat menimbulkan akibat yang serius.

Kerusakan-kerusakan yang sering terjadi berupa kerusakan infrastruktur. Beberapa contoh kegagalan infrastruktur antara lain runtuhnya bangunan, kegagalan jembatan, jebolnya saluran air, pecahnya pipa gas, bendungan kegagalan bendungan, ledakan pipa uap, hingga kegagalan dalam sektor komunikasi.

Dampak dari kerusakan atau kegagalan infrastruktur ini tidak jarang berdampak pada manusia atau sistem lain. Kerusakan pada infrastruktur dapat menciptakan kondisi yang semakin rentan bagi masyarakat karena kerusakan infrastruktur dapat mengurangi akses terhadap sumber daya tertentu atau kegiatan yang menghasilkan pendapatan, sehingga membuat daya tahan masyarakat pasca kejadian gempa menjadi rentan terhadap risiko-risiko baru yang muncul.

Baca Juga :  Hasil Monitoring BMKG, Belum Menunjukkan Adanya Aktivitas Gempa Susulan

Pelajaran yang diambil dari kejadian ini adalah penyediaan infrastuktur yang handal, yang memiliki kinerja baik di saat terjadi gempa, tentunya merupakan suatu tuntutan mutlak. Sudah selayaknya bangunan-bangunan di Indonesia harus didesain dan dilaksanakan dengan profesional sesuai kaidah-kaidah yang benar dan handal.

Di Indonesia sendiri, kaidah perencanaan struktur bangunan gedung diatur dalam beberapa dokumen Standar Nasional Indonesia seperti SNI 2847:2019 tentang Persyaratan Beton Struktural untuk Bangunan Gedung, SNI 1726:2019 tentang Tata Cara Perencanaan Ketahanan Gempa untuk Struktur Bangunan Gedung dan Non Gedung, dan Panduan Kementerian PUPR Dirjen Bina Marga No.02/M/BM/2021 tentang Panduan Praktis Perencanaan Teknis Jembatan.

Peraturan-peraturan yang memuat hal teknis perencanaan struktur bangunan sudah cukup lengkap tersedia. Para calon insinyur kita pun telah dibekali dengan ilmu yang cukup di bangku perkuliahan, bahkan pengalaman Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) mahasiswa, sangat memungkinkan bagi mahasiswa belajar langsung di kantor-kantor konsultan perencana struktur terkemuka.

Proses perijinan bangunan bertingkat tinggi di kota-kota besar pun sudah melalui berbagai tahapan pemeriksaan oleh tim ahli bangunan gedung. Selain itu, proses konstruksi pun telah dilakukan pengawasan yang cukup baik oleh konsultan manajemen proyek. Jadi, pada dasarnya gedung-gedung bertingkat tinggi di kota-kota besar di Indonesia secara kaidah sudah cukup aman dihuni atau ditempati pada saat kejadian gempa.

Yang justru cukup sering dijumpai adalah kerusakan-kerusakan pada bangunan sederhana/rumah tinggal, atau bangunan-bangunan bertingkat di daerah-daerah yang masih cukup minim dari segi pengetahuan konstruksi bangunan maupun dari aspek pengawasan pelaksanaan bangunan. Rumah-rumah sederhana di kota-kota kecil maupun di pedesaan, tidak jarang dibangun tanpa dasar pengetahuan yang cukup.

Tenaga mandor, tukang atau pelaksana umumnya bekerja hanya dengan bekal pengetahuan seadanya, tanpa memahami kaidah-kaidah dalam pembuatan struktur tahan gempa. Selain itu, sering juga kita baca informasi bangunan-bangunan yang dibangun tidak sesuai spesfikasi yang sudah ditentukan konsultan perencana. Penyimpangan-penyimpangan yang terjadi baik disengaja maupun tidak disengaja, turut menyumbang angka korban dalam setiap kejadian gempa bumi.

Langkah Antisipasi

Melihat urgensi yang ada, maka mau tidak mau diperlukan langkah-langkah yang komprehensif dari mulai pemerintah daerah, kota hingga pusat untuk memberikan pendampingan-pendampingan dalam setiap kegiatan konstruksi yang berlangsung di daerah-daerah. Tenaga-tenaga ahli sangat dibutuhkan untuk memantau kondisi-kondisi perumahan sederhana milik penduduk di daerah-daerah.

Selain itu mahasiswa khususnya yang memilih jurusan di bidang konstruksi, seperti teknik sipil dan arsitektur, juga bisa bergerak melalui kegiatan MBKM Proyek di Desa khususnya di daerah rawan gempa.

Selain dari sudut pandang konstruksi, upaya penyuluhan mengenai langkah-langkah preventif saat bahaya gempa juga bisa dilakukan sejak dini, melalui kegiatan-kegiatan di tingkat Kelurahan, Kecamatan maupun dimulai dari bangku sekolah. Beberapa tips yang dapat dilakukan saat kejadian gempa bumi antara lain, jangan berlari ke luar atau ke ruangan lain saat terjadi gempa, karena kecil kemungkinan kita mengalami luka jika kita tetap berada di tempat.

Baca Juga :  Prakiraan BMKG: Selama Sepekan Hujan Merata di Wilayah Kalteng

Jika memungkinkan sebelum guncangan semakin hebat, segera menjauh dari benda-benda yang rawan rusak atau terjatuh seperti kaca, benda gantung, rak buku, lemari, porselen, atau perabotan besar lainnya. Perhatikan unsur bangunan yang kemungkinan runtuh seperti batu bata, lampu, hiasan dinding, rak tinggi dan lainnya.

Segera ambil sesuatu untuk melindungi kepala dan wajah kita dari serpihan yang berjatuhan dan pecahan kaca, berlindung di bawah meja yang kokoh merupakan salah satu langkah yang paling mudah dan aman dilakukan. Segera matikan kompor dan listrik, waspada terhadap pecahan kaca di lantai yang mungkin dapat menyebabkan cedera jika kita berjalan atau berguling ke lantai.

Dengan adanya upaya-upaya yang kontinu dan tersistematis ini tentunya masyarakat kita akan lebih tanggap terhadap setiap kejadian gempa bumi.

Pasca Kejadian Gempa

Hanya karena guncangan telah berhenti bukan berarti bahaya sudah berakhir. Kebakaran pasca gempa, putusnya saluran gas, jatuhnya puing-puing, dan banyak bahaya lainnya akan terus mengancam masyarakat di wilayah gempa. Selain itu pasca kejadian gempa bumi kerap kali masih terjadi rentetan kejadian gempa susulan yang disebut dengan istilah aftershock.

Bahkan kejadian di Gempa Bawean, setelah gempa pertama terjadi, justru gempa susulan muncul dengan magnitudo yang lebih besar. Sebagian besar kejadian cedera akibat gempa disebabkan oleh kepanikan; tetap diam di tempat sementara waktu merupakan pilihan cerdas, dengan tetap waspada dan berlindung di tempat yang tepat, berpikirlah sebelum bergerak.

Pasca gempa ada orang yang merasa sedikit pusing karena getaran yang terjadi, namun beberapa orang tetap merasakan pusing berkepanjangan, dalam istilah medis kondisi ini dikenal dengan post earthquake syndrome.

Selain kerugian-kerugian material di atas, yang lebih mendesak ditangani adalah psikologis para korban gempa. Mereka membutuhkan pertolongan darurat baik berupa tempat tinggal sementara, kebutuhan makan, minum dan tentunya obat-obatan. Padahal umumnya setelah gempa bumi besar, layanan darurat seperti pemadam kebakaran, polisi, dan personel medis mungkin tidak tersedia untuk jangka waktu tertentu.

Pada tahap ini sangat diperlukan koordinasi bersama dari pihak pemerintah, BNPB maupun masyarakat yang tidak terdampak, sehingga langkah-langkah penanganan pasca gempa dapat terkoordinasi dengan baik.

Indonesia adalah negara rawan gempa yang disebabkan oleh letak atau posisinya. Kejadian gempa hingga saat ini belum dapat diramalkan dengan akurasi yang tinggi. Bahkan perkembangan terakhir justru ditemukan sesar-sesar aktif baru di Indonesia yang masih menyimpan potensi mengeluarkan energi besarnya mengguncang bumi Indonesia.

Kita tidak menolak datangnya gempa bumi, kita hanya bisa melakukan upaya-upaya perlidungan sedini mungkin. Mulai dari tahap pelaksanaan konstruksi, pemeriksaan kelayakan bangunan eksisting, tahap edukasi untuk kesadaran masyarakat, membentuk masyarakat yang tanggap bencana hingga tahap penanganan pasca kejadian. Jadi mau tidak mau kita tidak boleh bermusuhan dengan gempa bumi, mulailah ’bersahabat’ dengan gempa bumi.

*) Pengajar pada Program Studi Teknik Sipil Universitas Pembangunan Jaya

Agustinus Agus Setiawan *)

BELUM hilang dari ingatan akan musibah gempa di Cianjur pada 21 November 2022, dengan kekuatan magnitudo 5,6 dan menelan korban jiwa sejumlah 327 orang. Minggu lalu, tepatnya 23 Maret 2024, Indonesia kembali diguncang gempa dengan magnitudo cukup besar. Tercatat 158 kali gerakan gempa di sekitar Pulau Bawean, dengan magnitudo terbesar adalah 6,5 sejarak 132 km dari Timur Laut Tuban, Jawa Timur.

Kejadian Gempa Bawean ini mengakibatkan 331 rumah rusak berat, 706 rumah rusak sedang, dan 1.356 rumah rusak ringan. Selain itu turut terdampak pula fasilitas-fasilitas umum seperti fasilitas pendidikan, fasilitas Kesehatan, rumah ibadah, kantor desa, hingga ke beberapa gedung bertingkat.

Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) sendiri mencatat bahwa sepanjang tahun 2023 di seluruh wilayah Indonesia diguncang gempa bumi sebanyak 10.789 kali dengan berbagai intensitas.

Anehkah hal ini? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, maka kita perlu menggali kembali letak negara kita Indonesia. Secara geografis Indonesia terletak di antara Benua Asia dan Benua Australia, serta di antara Samudera Hindia dan Samudera Pasifik.

Jika ditelisik lebih jauh, Wilayah Indonesia merupakan gugusan kepulauan terbesar di dunia yang memiliki 129 gunung api aktif, atau dikenal dengan ring of fire, serta terletak berada pada pertemuan empat lempeng tektonik aktif yang bergerak, yaitu lempeng Eurasia, lempeng Indo-Australia, lempeng Pasifik dan lempeng Filipina.

Kebanyakan lempeng tektonik ini bergerak kurang dari satu milimeter per hari; gerakan ini hampir sering tidak terlihat atau dirasakan oleh indra manusia. Namun, pergerakan harian ini berarti pergerakan 1-10 sentimeter selama setahun, dan pergerakan tahunan tersebut berarti pergerakan 10-50 kilometer selama satu juta tahun.

Pergerakan pelat tektonik sendiri terbagi menjadi 3 jenis, yaitu konvergen, divergen dan transform. Pergerakan konvergen terjadi apabila dua lempeng pelat bergerak saling mendekati di mana salah satunya bergerak menghunjam hingga masuk di bawah lempeng lainnya. Pergerakan divergen terjadi manakala dua lempeng pelat tektonik bergerak saling menjauh.

Sedangkan pergerakan transform terjadi jika pertemuan dua pelat tektonik saling bergerak menggeser ke samping satu sama lain. Gerakan-gerakan pelat yang umumnya lambat namun tanpa henti ini mampu mengakibatkan tersimpannya energi di bawah kulit bumi.

Gempa bumi sendiri timbul sebagai akibat dari pergerakan tiba-tiba sepanjang patahan di dalam bumi. Pergerakan tersebut melepaskan simpanan energi dalam bentuk gelombang seismik, yang merambat ke seluruh bumi dan menyebabkan permukaan tanah berguncang.

Berkaca dari hal tersebut, maka tidaklah aneh apabila wilayah Indonesia ini cukup sering diguncangkan oleh gempa bumi, baik yang berkuatan kecil, sedang hingga besar.

Kerugian Akibat Gempa Bumi

Gempa bumi dapat menimbulkan dampak bencana terhadap lingkungan, bahkan dalam skala kekuatan yang cukup besar tidak jarang suatu kejadian gempa dapat menimbulkan akibat yang serius.

Kerusakan-kerusakan yang sering terjadi berupa kerusakan infrastruktur. Beberapa contoh kegagalan infrastruktur antara lain runtuhnya bangunan, kegagalan jembatan, jebolnya saluran air, pecahnya pipa gas, bendungan kegagalan bendungan, ledakan pipa uap, hingga kegagalan dalam sektor komunikasi.

Dampak dari kerusakan atau kegagalan infrastruktur ini tidak jarang berdampak pada manusia atau sistem lain. Kerusakan pada infrastruktur dapat menciptakan kondisi yang semakin rentan bagi masyarakat karena kerusakan infrastruktur dapat mengurangi akses terhadap sumber daya tertentu atau kegiatan yang menghasilkan pendapatan, sehingga membuat daya tahan masyarakat pasca kejadian gempa menjadi rentan terhadap risiko-risiko baru yang muncul.

Baca Juga :  Hasil Monitoring BMKG, Belum Menunjukkan Adanya Aktivitas Gempa Susulan

Pelajaran yang diambil dari kejadian ini adalah penyediaan infrastuktur yang handal, yang memiliki kinerja baik di saat terjadi gempa, tentunya merupakan suatu tuntutan mutlak. Sudah selayaknya bangunan-bangunan di Indonesia harus didesain dan dilaksanakan dengan profesional sesuai kaidah-kaidah yang benar dan handal.

Di Indonesia sendiri, kaidah perencanaan struktur bangunan gedung diatur dalam beberapa dokumen Standar Nasional Indonesia seperti SNI 2847:2019 tentang Persyaratan Beton Struktural untuk Bangunan Gedung, SNI 1726:2019 tentang Tata Cara Perencanaan Ketahanan Gempa untuk Struktur Bangunan Gedung dan Non Gedung, dan Panduan Kementerian PUPR Dirjen Bina Marga No.02/M/BM/2021 tentang Panduan Praktis Perencanaan Teknis Jembatan.

Peraturan-peraturan yang memuat hal teknis perencanaan struktur bangunan sudah cukup lengkap tersedia. Para calon insinyur kita pun telah dibekali dengan ilmu yang cukup di bangku perkuliahan, bahkan pengalaman Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) mahasiswa, sangat memungkinkan bagi mahasiswa belajar langsung di kantor-kantor konsultan perencana struktur terkemuka.

Proses perijinan bangunan bertingkat tinggi di kota-kota besar pun sudah melalui berbagai tahapan pemeriksaan oleh tim ahli bangunan gedung. Selain itu, proses konstruksi pun telah dilakukan pengawasan yang cukup baik oleh konsultan manajemen proyek. Jadi, pada dasarnya gedung-gedung bertingkat tinggi di kota-kota besar di Indonesia secara kaidah sudah cukup aman dihuni atau ditempati pada saat kejadian gempa.

Yang justru cukup sering dijumpai adalah kerusakan-kerusakan pada bangunan sederhana/rumah tinggal, atau bangunan-bangunan bertingkat di daerah-daerah yang masih cukup minim dari segi pengetahuan konstruksi bangunan maupun dari aspek pengawasan pelaksanaan bangunan. Rumah-rumah sederhana di kota-kota kecil maupun di pedesaan, tidak jarang dibangun tanpa dasar pengetahuan yang cukup.

Tenaga mandor, tukang atau pelaksana umumnya bekerja hanya dengan bekal pengetahuan seadanya, tanpa memahami kaidah-kaidah dalam pembuatan struktur tahan gempa. Selain itu, sering juga kita baca informasi bangunan-bangunan yang dibangun tidak sesuai spesfikasi yang sudah ditentukan konsultan perencana. Penyimpangan-penyimpangan yang terjadi baik disengaja maupun tidak disengaja, turut menyumbang angka korban dalam setiap kejadian gempa bumi.

Langkah Antisipasi

Melihat urgensi yang ada, maka mau tidak mau diperlukan langkah-langkah yang komprehensif dari mulai pemerintah daerah, kota hingga pusat untuk memberikan pendampingan-pendampingan dalam setiap kegiatan konstruksi yang berlangsung di daerah-daerah. Tenaga-tenaga ahli sangat dibutuhkan untuk memantau kondisi-kondisi perumahan sederhana milik penduduk di daerah-daerah.

Selain itu mahasiswa khususnya yang memilih jurusan di bidang konstruksi, seperti teknik sipil dan arsitektur, juga bisa bergerak melalui kegiatan MBKM Proyek di Desa khususnya di daerah rawan gempa.

Selain dari sudut pandang konstruksi, upaya penyuluhan mengenai langkah-langkah preventif saat bahaya gempa juga bisa dilakukan sejak dini, melalui kegiatan-kegiatan di tingkat Kelurahan, Kecamatan maupun dimulai dari bangku sekolah. Beberapa tips yang dapat dilakukan saat kejadian gempa bumi antara lain, jangan berlari ke luar atau ke ruangan lain saat terjadi gempa, karena kecil kemungkinan kita mengalami luka jika kita tetap berada di tempat.

Baca Juga :  Prakiraan BMKG: Selama Sepekan Hujan Merata di Wilayah Kalteng

Jika memungkinkan sebelum guncangan semakin hebat, segera menjauh dari benda-benda yang rawan rusak atau terjatuh seperti kaca, benda gantung, rak buku, lemari, porselen, atau perabotan besar lainnya. Perhatikan unsur bangunan yang kemungkinan runtuh seperti batu bata, lampu, hiasan dinding, rak tinggi dan lainnya.

Segera ambil sesuatu untuk melindungi kepala dan wajah kita dari serpihan yang berjatuhan dan pecahan kaca, berlindung di bawah meja yang kokoh merupakan salah satu langkah yang paling mudah dan aman dilakukan. Segera matikan kompor dan listrik, waspada terhadap pecahan kaca di lantai yang mungkin dapat menyebabkan cedera jika kita berjalan atau berguling ke lantai.

Dengan adanya upaya-upaya yang kontinu dan tersistematis ini tentunya masyarakat kita akan lebih tanggap terhadap setiap kejadian gempa bumi.

Pasca Kejadian Gempa

Hanya karena guncangan telah berhenti bukan berarti bahaya sudah berakhir. Kebakaran pasca gempa, putusnya saluran gas, jatuhnya puing-puing, dan banyak bahaya lainnya akan terus mengancam masyarakat di wilayah gempa. Selain itu pasca kejadian gempa bumi kerap kali masih terjadi rentetan kejadian gempa susulan yang disebut dengan istilah aftershock.

Bahkan kejadian di Gempa Bawean, setelah gempa pertama terjadi, justru gempa susulan muncul dengan magnitudo yang lebih besar. Sebagian besar kejadian cedera akibat gempa disebabkan oleh kepanikan; tetap diam di tempat sementara waktu merupakan pilihan cerdas, dengan tetap waspada dan berlindung di tempat yang tepat, berpikirlah sebelum bergerak.

Pasca gempa ada orang yang merasa sedikit pusing karena getaran yang terjadi, namun beberapa orang tetap merasakan pusing berkepanjangan, dalam istilah medis kondisi ini dikenal dengan post earthquake syndrome.

Selain kerugian-kerugian material di atas, yang lebih mendesak ditangani adalah psikologis para korban gempa. Mereka membutuhkan pertolongan darurat baik berupa tempat tinggal sementara, kebutuhan makan, minum dan tentunya obat-obatan. Padahal umumnya setelah gempa bumi besar, layanan darurat seperti pemadam kebakaran, polisi, dan personel medis mungkin tidak tersedia untuk jangka waktu tertentu.

Pada tahap ini sangat diperlukan koordinasi bersama dari pihak pemerintah, BNPB maupun masyarakat yang tidak terdampak, sehingga langkah-langkah penanganan pasca gempa dapat terkoordinasi dengan baik.

Indonesia adalah negara rawan gempa yang disebabkan oleh letak atau posisinya. Kejadian gempa hingga saat ini belum dapat diramalkan dengan akurasi yang tinggi. Bahkan perkembangan terakhir justru ditemukan sesar-sesar aktif baru di Indonesia yang masih menyimpan potensi mengeluarkan energi besarnya mengguncang bumi Indonesia.

Kita tidak menolak datangnya gempa bumi, kita hanya bisa melakukan upaya-upaya perlidungan sedini mungkin. Mulai dari tahap pelaksanaan konstruksi, pemeriksaan kelayakan bangunan eksisting, tahap edukasi untuk kesadaran masyarakat, membentuk masyarakat yang tanggap bencana hingga tahap penanganan pasca kejadian. Jadi mau tidak mau kita tidak boleh bermusuhan dengan gempa bumi, mulailah ’bersahabat’ dengan gempa bumi.

*) Pengajar pada Program Studi Teknik Sipil Universitas Pembangunan Jaya

spot_img
spot_img

Terpopuler

spot_img

Artikel Terbaru