Oleh: Dr. Miar, S.E., M.Si.
DI tengah ketidakpastian ekonomi global, perang dagang, dan ancaman perubahan iklim, dunia sedang mencari model pembangunan baru yang mampu menciptakan pertumbuhan ekonomi tanpa merusak lingkungan.
Salah satu jawabannya adalah ekonomi hijau (green economy), yaitu sistem ekonomi yang mendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat sekaligus menjaga keberlanjutan sumber daya alam.
Dalam konteks ini, perdagangan karbon muncul sebagai instrumen ekonomi yang semakin strategis.
Bagi Kalimantan Tengah, isu perdagangan karbon bukan sekadar wacana lingkungan.
Ini adalah peluang ekonomi baru yang berpotensi menjadi sumber pertumbuhan daerah pada masa depan.
Provinsi ini memiliki salah satu kawasan hutan tropis dan lahan gambut terluas di Indonesia yang berfungsi sebagai penyerap karbon alami.
Ketika dunia semakin serius mengurangi emisi gas rumah kaca, kemampuan hutan menyerap karbon memiliki nilai ekonomi yang dapat diperjualbelikan melalui pasar karbon.
Selama ini pembangunan daerah sering kali bergantung pada eksploitasi sumber daya alam melalui pertambangan, pembukaan lahan, atau ekstraksi komoditas primer.
Model tersebut memang mampu menghasilkan pertumbuhan ekonomi dalam jangka pendek, tetapi sering kali meninggalkan persoalan lingkungan dan sosial dalam jangka panjang.
Oleh: Dr. Miar, S.E., M.Si.
DI tengah ketidakpastian ekonomi global, perang dagang, dan ancaman perubahan iklim, dunia sedang mencari model pembangunan baru yang mampu menciptakan pertumbuhan ekonomi tanpa merusak lingkungan.
Salah satu jawabannya adalah ekonomi hijau (green economy), yaitu sistem ekonomi yang mendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat sekaligus menjaga keberlanjutan sumber daya alam.
Dalam konteks ini, perdagangan karbon muncul sebagai instrumen ekonomi yang semakin strategis.
Bagi Kalimantan Tengah, isu perdagangan karbon bukan sekadar wacana lingkungan.
Ini adalah peluang ekonomi baru yang berpotensi menjadi sumber pertumbuhan daerah pada masa depan.
Provinsi ini memiliki salah satu kawasan hutan tropis dan lahan gambut terluas di Indonesia yang berfungsi sebagai penyerap karbon alami.
Ketika dunia semakin serius mengurangi emisi gas rumah kaca, kemampuan hutan menyerap karbon memiliki nilai ekonomi yang dapat diperjualbelikan melalui pasar karbon.
Selama ini pembangunan daerah sering kali bergantung pada eksploitasi sumber daya alam melalui pertambangan, pembukaan lahan, atau ekstraksi komoditas primer.
Model tersebut memang mampu menghasilkan pertumbuhan ekonomi dalam jangka pendek, tetapi sering kali meninggalkan persoalan lingkungan dan sosial dalam jangka panjang.