Prof Susanto: Alihkan Anak dari Gawai dengan Cara Inspiratif, Bukan Larangan Semata

PROKALTENG.CO – Guru Besar Universitas Perguruan Tinggi Ilmu Al Quran Jakarta, Prof Susanto, menekankan pentingnya mengalihkan kebiasaan anak dari kegiatan yang terlalu banyak menggunakan gawai ke aktivitas yang lebih produktif. Menurutnya, kunci keberhasilan bukan sekadar melarang, tetapi memberikan arahan dan inspirasi yang membangun minat serta kreativitas anak.

“Pengalihan kebiasaan anak ke arah yang lebih produktif tidak bisa hanya dengan larangan. Pendekatannya harus mengarahkan dan menginspirasi,” ujar Susanto saat dihubungi di Jakarta, Senin (30/3).

Pernyataan itu disampaikannya merespon penerapan Peraturan Menteri Komunikasi dan Digital Nomor 9 Tahun 2026 sebagai aturan pelaksana dari Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Pelindungan Anak (PP Tunas) yang berlaku efektif mulai 28 Maret 2026.

Baca Juga :  Pemkab Mura Kirim Perwakilan Peserta Ikrar Anak Bangsa Tingkat Kalteng

Menurut Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) periode 2017-2022 itu, salah satu langkah positif yang bisa dilakukan adalah mendorong aktivitas berbasis minat dan bakat, seperti olahraga, seni, sains, atau kewirausahaan kecil sejak dini.

“Anak perlu merasakan kepuasan nyata di dunia offline,” ujar Susanto. Ia menambahkan, kegiatan berbasis proyek (project-based learning), seperti membuat karya, menanam, atau melakukan aksi sosial di lingkungan sekitar, juga efektif membangun kreativitas dan tanggung jawab.

Orang tua disarankan membatasi sekaligus mendampingi penggunaan teknologi melalui dialog dan kesepakatan, bukan kontrol ketat semata. Dengan menjadi role model digital, anak belajar dari teladan, bukan hanya nasihat.

Di sisi lain, teknologi tetap bisa diintegrasikan secara positif, misalnya internet digunakan untuk belajar keterampilan baru, bukan hanya konsumsi hiburan. Keberhasilan upaya ini menurut Susanto juga bergantung pada kolaborasi antara keluarga, sekolah, masyarakat, dan negara.

Electronic money exchangers listing
Baca Juga :  Ngeri! Politikus Israel Bilang Setiap Anak dan Bayi di Gaza Adalah Musuh

“Kita tidak menjauhkan anak dari teknologi, tetapi membekali mereka agar mampu menguasainya tanpa kehilangan jati diri. Semoga langkah ini menjadi fondasi kuat lahirnya generasi Indonesia unggul, berkarakter, dan berdaya saing global,” tutup Susanto. (antara)

PROKALTENG.CO – Guru Besar Universitas Perguruan Tinggi Ilmu Al Quran Jakarta, Prof Susanto, menekankan pentingnya mengalihkan kebiasaan anak dari kegiatan yang terlalu banyak menggunakan gawai ke aktivitas yang lebih produktif. Menurutnya, kunci keberhasilan bukan sekadar melarang, tetapi memberikan arahan dan inspirasi yang membangun minat serta kreativitas anak.

“Pengalihan kebiasaan anak ke arah yang lebih produktif tidak bisa hanya dengan larangan. Pendekatannya harus mengarahkan dan menginspirasi,” ujar Susanto saat dihubungi di Jakarta, Senin (30/3).

Pernyataan itu disampaikannya merespon penerapan Peraturan Menteri Komunikasi dan Digital Nomor 9 Tahun 2026 sebagai aturan pelaksana dari Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Pelindungan Anak (PP Tunas) yang berlaku efektif mulai 28 Maret 2026.

Electronic money exchangers listing
Baca Juga :  Pemkab Mura Kirim Perwakilan Peserta Ikrar Anak Bangsa Tingkat Kalteng

Menurut Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) periode 2017-2022 itu, salah satu langkah positif yang bisa dilakukan adalah mendorong aktivitas berbasis minat dan bakat, seperti olahraga, seni, sains, atau kewirausahaan kecil sejak dini.

“Anak perlu merasakan kepuasan nyata di dunia offline,” ujar Susanto. Ia menambahkan, kegiatan berbasis proyek (project-based learning), seperti membuat karya, menanam, atau melakukan aksi sosial di lingkungan sekitar, juga efektif membangun kreativitas dan tanggung jawab.

Orang tua disarankan membatasi sekaligus mendampingi penggunaan teknologi melalui dialog dan kesepakatan, bukan kontrol ketat semata. Dengan menjadi role model digital, anak belajar dari teladan, bukan hanya nasihat.

Di sisi lain, teknologi tetap bisa diintegrasikan secara positif, misalnya internet digunakan untuk belajar keterampilan baru, bukan hanya konsumsi hiburan. Keberhasilan upaya ini menurut Susanto juga bergantung pada kolaborasi antara keluarga, sekolah, masyarakat, dan negara.

Baca Juga :  Ngeri! Politikus Israel Bilang Setiap Anak dan Bayi di Gaza Adalah Musuh

“Kita tidak menjauhkan anak dari teknologi, tetapi membekali mereka agar mampu menguasainya tanpa kehilangan jati diri. Semoga langkah ini menjadi fondasi kuat lahirnya generasi Indonesia unggul, berkarakter, dan berdaya saing global,” tutup Susanto. (antara)

Terpopuler

Artikel Terbaru