PROKALTENG.CO-Tiga organisasi mahasiswa dari perguruan tinggi nasional ,SEMA UGM, BEM UI, dan KM ITB, resmi menyepakati rencana untuk menggelar aksi gerakan bersama dalam waktu dekat.
Kesepakatan ini diambil setelah perwakilan ketiga kampus menggelar pertemuan dan merilis pernyataan sikap bersama terkait situasi politik serta sosial ekonomi nasional saat ini.
Ketua BEM UI, Yatalathof, membenarkan adanya rencana konsolidasi dan gerakan turun ke jalan tersebut usai pertemuan digelar.
“Tentu itu disepakati. Rencana kita akan bergerak dalam waktu dekat,” ujar Athof saat dikonfirmasi JawaPos.com, Senin (28/9).
Kritik Mundurnya Demokrasi dan Beban Rakyat
Dalam pernyataan bersama bertajuk “Nestapa Indonesia” yang disepakati di Yogyakarta pada 26 September 2026, aliansi mahasiswa ini menyoroti iklim demokrasi nasional yang dinilai terus mengalami kemunduran.
Mereka menilai suara kritis masyarakat maupun mahasiswa kerap diabaikan dan dicurigai oleh penyelenggara negara.
Athof menekankan pentingnya menjaga kedaulatan rakyat dan menolak penguasaan negara oleh kepentingan kelompok tertentu.
Menurutnya, hukum tidak boleh tunduk pada kekuasaan dan negara harus mempertanggungjawabkan kebijakannya kepada rakyat.
“Jika pemerintah terus menutup telinga, rakyat akan memperkeras suara. Jika kekuasaan terus menutup ruang demokrasi, rakyat akan memenuhi ruang-ruang publik,” tegas Athof.
Ketua Umum SEMAÂ UGMÂ Mesa menegaskan, kehadiran mereka bukan sekadar membawa nama besar institusi, melainkan menyuarakan kegelisahan rakyat atas tata kelola negara.
“Realitas bangsa saat ini sudah terlalu kompleks untuk terus ditutupi oleh pidato, seremoni, pencitraan, ataupun propaganda kekuasaan. Indonesia sedang tidak baik-baik saja,” kata Mesa.
Selain isu kebebasan berpendapat, aliansi ini juga menyoroti tingginya beban hidup masyarakat yang terhimpit pajak dan biaya hidup, sementara belanja negara dinilai minim transparansi serta akuntabilitas.
Senada, Ketua Kabinet KMÂ ITB, Nahdah, menyerukan kepada seluruh mahasiswa di berbagai daerah, mulai dari Yogyakarta, Bandung, hingga Jakarta, untuk membangun konsolidasi yang solid di setiap kampus.
Nahdah mengimbau agar ruang-ruang diskusi di setiap kota kembali dihidupkan serta membangun solidaritas lintas kelompok, mulai dari elemen buruh, petani, nelayan, pekerja informal, akademisi, hingga jurnalis.
“Jangan biarkan ketakutan memisahkan kita, jangan biarkan propaganda penguasa memecah belah. Turunlah bersama dalam gerakan yang damai, disiplin, terorganisasi, dan berpihak kepada rakyat,” imbuh Nahdah.(jpg)


