Dari sekitar 100 hektare lahan yang terbakar dalam sehari, sekitar 80 hingga 85 persen berhasil dipadamkan oleh petugas di lapangan.
“Yang sekarang jadi masalah bukan pemadamannya, tetapi karena belum turun hujan. Kalau bukan lahan gambut, begitu dipadamkan hari ini, besok sudah selesai. Tetapi lahan gambut tidak seperti itu, hari ini dipadamkan, besok bisa muncul lagi titik api baru,” jelasnya.
BNPB menargetkan luas lahan yang berhasil dipadamkan setiap hari lebih besar dibandingkan luas kebakaran baru yang muncul.
Strategi tersebut diterapkan tidak hanya di Kalteng, tetapi juga pada penanganan karhutla secara nasional.
Suharyanto menambahkan, apabila kondisi cuaca membaik dan Bandara Tjilik Riwut kembali beroperasi normal, armada udara yang saat ini berada di Palangka Raya akan kembali diterjunkan untuk memperkuat penanganan karhutla.
“Apabila nanti Bandara Tjilik Riwut sudah terbuka, heli water bombing dan OMC yang ada di sana bisa membantu. Jadi ada tiga pesawat OMC yang bekerja,” tuturnya.
Saat ini BNPB juga mengerahkan sejumlah armada udara untuk mendukung pemadaman karhutla. Satu helikopter water bombing beroperasi dari Pangkalan Bun, satu unit dari Sampit, dan satu unit lainnya diperbantukan dari Kalimantan Selatan untuk membantu penanganan kebakaran di wilayah Pulang Pisau.
Dia berharap operasi modifikasi cuaca yang mulai dilaksanakan dalam waktu dekat dapat mempercepat turunnya hujan di Kalteng sehingga penanganan karhutla dan kabut asap dapat dilakukan lebih efektif.
“Sementara Kalbar dan Kalsel pesawat komersialnya sudah bisa turun dan mendarat. Mudah-mudahan dalam minggu-minggu ini kondisi Kalteng bisa sama dengan Kalbar dan Kalsel,” tutupnya. (adr)
Dari sekitar 100 hektare lahan yang terbakar dalam sehari, sekitar 80 hingga 85 persen berhasil dipadamkan oleh petugas di lapangan.
“Yang sekarang jadi masalah bukan pemadamannya, tetapi karena belum turun hujan. Kalau bukan lahan gambut, begitu dipadamkan hari ini, besok sudah selesai. Tetapi lahan gambut tidak seperti itu, hari ini dipadamkan, besok bisa muncul lagi titik api baru,” jelasnya.
BNPB menargetkan luas lahan yang berhasil dipadamkan setiap hari lebih besar dibandingkan luas kebakaran baru yang muncul.
Strategi tersebut diterapkan tidak hanya di Kalteng, tetapi juga pada penanganan karhutla secara nasional.
Suharyanto menambahkan, apabila kondisi cuaca membaik dan Bandara Tjilik Riwut kembali beroperasi normal, armada udara yang saat ini berada di Palangka Raya akan kembali diterjunkan untuk memperkuat penanganan karhutla.
“Apabila nanti Bandara Tjilik Riwut sudah terbuka, heli water bombing dan OMC yang ada di sana bisa membantu. Jadi ada tiga pesawat OMC yang bekerja,” tuturnya.
Saat ini BNPB juga mengerahkan sejumlah armada udara untuk mendukung pemadaman karhutla. Satu helikopter water bombing beroperasi dari Pangkalan Bun, satu unit dari Sampit, dan satu unit lainnya diperbantukan dari Kalimantan Selatan untuk membantu penanganan kebakaran di wilayah Pulang Pisau.
Dia berharap operasi modifikasi cuaca yang mulai dilaksanakan dalam waktu dekat dapat mempercepat turunnya hujan di Kalteng sehingga penanganan karhutla dan kabut asap dapat dilakukan lebih efektif.
“Sementara Kalbar dan Kalsel pesawat komersialnya sudah bisa turun dan mendarat. Mudah-mudahan dalam minggu-minggu ini kondisi Kalteng bisa sama dengan Kalbar dan Kalsel,” tutupnya. (adr)