PROKALTENG.CO – Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni mengakui kondisi Kalimantan saat ini sedang tidak baik-baik saja akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang masih meluas.
Di tengah desakan publik dan sorotan atas situasi tersebut, ia menegaskan pemerintah tidak lepas tangan dalam mengendalikan api.
“Di samping kita menyadari bahwa Kalimantan kita tidak sedang baik-baik saja, saya juga ingin memastikan bahwa pemerintah tidak cuci tangan atau lepas tangan,” kata Raja Juli saat berkunjung ke Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur, Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng), Sabtu (18/10/2026).
Ia menegaskan pemerintah terus berupaya memadamkan titik api untuk mencegah memburuknya kualitas udara.
“Sebaliknya, pemerintah hadir semaksimal mungkin untuk memastikan api padam dan asap tidak membuat lebih banyak masyarakat kita terkena ISPA,” ujarnya.
Raja Juli menjelaskan penanganan karhutla menghadapi tantangan berat akibat faktor cuaca. Berdasarkan data BMKG, hujan alami di sejumlah wilayah Kalimantan Tengah diperkirakan baru akan turun pada dasarian kedua atau ketiga November.
Untuk mengatasi minimnya curah hujan alami, pemerintah mengandalkan operasi modifikasi cuaca (OMC). Operasi ini digarap oleh BMKG dengan sokongan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) serta Kementerian Kehutanan.
Raja Juli menyebutkan hujan yang sempat mengguyur Palangka Raya dan Kotawaringin Barat beberapa hari terakhir merupakan hasil teknologi modifikasi cuaca, bukan hujan alami. Namun, pelaksanaan OMC kerap terbentur minimnya bibit awan di langit Kalteng.
“Repotnya, operasi modifikasi cuaca ini baru bisa dilaksanakan apabila ada bibit awan semai. Bibit awan ini jarang hadir di saat El Nino, terutama di Kalimantan Tengah,” jelas Raja Juli.
Ia memaparkan kondisi di Kalimantan Barat relatif memiliki lebih banyak potensi bibit awan dibanding Kalteng. Keterbatasan kondisi atmosfer ini membuat teknologi modifikasi cuaca belum bisa bekerja secara mandiri tanpa ketersediaan awan alami.


