Detik-detik Penumpang Virgo Transport 8 Lompat ke Laut Sebelum Karam

Sejumlah korban selamat Kapal Virgo Transport 8 mengaku lompat ke Laut saat kapal mulai miring, lalu bertahan menggunakan life jacket.

Upaya mereka menyelamatkan diri Bak Adegan di film Titanic. Dalam kepanikan, para penumpang berupaya menjauh dari kapal sebelum terbalik, karena khawatir ikut karam.

Salah seorang korban, Rinto Ararap (33), warga Betung, Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan, mengaku naik Kapal Virgo Transport 8 bersama 14 rekannya.

Mereka hendak menuju Kalimantan Tengah untuk bekerja di perkebunan kelapa sawit.

Saat kejadian, Rinto belum tidur. Ia dan sejumlah rekannya berada di lantai tiga kapal.

Dilansir dari Radar Banjarmasin (Jawa Pos Group), Sebelum kapal mulai oleng, Rinto mendengar suara seperti benda retak. Mereka sempat mencari sumber suara tersebut, tetapi tidak menemukannya.

“Kejadiannya singkat. Tidak lama setelah terdengar bunyi itu, kapal langsung oleng dan miring. Setelah itu perlahan-lahan karam,” terang Rinto.

Electronic money exchangers listing

Kepanikan langsung terjadi. Para penumpang berusaha mencari jalan keluar dan perlengkapan untuk menyelamatkan diri.

Mereka kemudian mendapatkan rompi pelampung atau life jacket. Saat itu, menurut Rinto, sebagian besar penumpang sedang tertidur.

“Kejadiannya sekitar pukul 01.00 WITA dini hari. Sesaat begitu saja kapal berangsur karam setelah oleng ke kiri,” ujarnya.

Rinto mengaku tidak mendengar pemberitahuan dari kapten maupun awak kapal sebelum kapal semakin miring.

“Bahkan kapten kapal dan awak kapal tidak ada memberikan informasi atau pemberitahuan. Itu yang membuat semua penumpang panik,” katanya.

Dalam hitungan menit posisi kapal semakin miring. Para penumpang kemudian berusaha menyelamatkan diri dengan kemampuan masing-masing.

Baca Juga :  Bahlil Bantah Pencabutan Izin Tambang Raja Ampat karena Tekanan Publik

Penumpang Terjun ke Laut Bermodal Life Jacket

Dalam kondisi tersebut, Rinto memutuskan untuk terjun ke laut dan bertahan hanya dengan life jacket.

Ia menyaksikan kapal Virgo Transport akhirnya rebah kek kiri dan perlahan terbalik, sebagaimana posisi saat kapal itu ditemukan pada Minggu (13/9) sore.

“Berjam-jam saya terombang-ambing di laut hanya bermodalkan life jacket. Setelah kapal tenggelam, kami pasrah dan terus berdoa, berzikir, yakin ada pertolongan dari Allah agar saya dan teman-teman bisa selamat,” ucapnya.

Para korban, termasuk Rinto kemudian terpisah dan terapung di tengah laut dalam kondisi gelap.

Pertolongan yang ditunggu akhirnya datang beberapa jam kemudian. Sebuah kapal pengangkut batu bara yang melintas menemukan mereka terombang-ambing di laut.

“Sekitar pukul 04.00 kami mendapatkan pertolongan. Selama (hampir) empat jam itu saya terus berdoa agar kami semua selamat. Alhamdulillah, pertolongan Allah datang dan kami selamat,” tuturnya lirih.

Rinto bersyukur 14 rekannya yang berangkat bersamanya dari Sumsel juga selamat.

“Saya bersyukur teman-teman saya yang merantau ke Kalimantan semuanya selamat,” sambungnya.

Ia menduga masih terdapat penumpang yang terjebak di dalam kapal. Terutama mereka yang berada di kelas ekonomi dan sedang tidur ketika kapal mulai miring.

“Cukup banyak. Kemungkinan mereka terjebak di dalam dan tidak bisa keluar karena sedang tidur,” bebernya.

Pernyataan tersebut merupakan dugaan Rinto berdasarkan situasi yang dialaminya saat kejadian.

Belum ada keterangan pihak berwenang dalam naskah ini yang memastikan adanya korban terjebak di dalam kapal.

Baca Juga :  Capaian Vaksinasi Tentukan Level, PPKM Berlanjut Hingga 6 Desember

Penumpang Mengaku Tak Dapat Peringatan

Kesaksian serupa disampaikan Salihin (57), salah seorang penumpang yang bekerja sebagai kernet.

Salihin sedang tidur ketika kapal mulai mengalami masalah. Ia baru terbangun setelah dibangunkan rekannya.

“Kami kaget ketika dibangunkan. Kapal sudah dalam posisi miring. Pokoknya tiba-tiba saja, tidak ada pemberitahuan atau informasi melalui pengeras suara. Kejadiannya begitu cepat,” katanya.

Sebagaimana Rinto, salihin dan rekannya juga memutuskan terjun ke laut agar tidak ikut karam bersama kapal.

Tas selempang Salihin masih melekat di tubuhnya. Dompet dan telepon genggamnya juga masih berada di dalam tas tersebut.

“Uang dan identitas masih melekat di badan saya, handphone juga, tapi kemungkinan rusak karena terendam,” ujarnya.

Salah seorang kru kapal asal Jawa Barat, Akmal (28), juga mengaku sedang tidur saat kejadian.

Ia baru mengetahui kapal dalam kondisi miring setelah dibangunkan rekan-rekannya.

“Tidak dengar ada bunyi apa-apa karena saya tidur. Begitu bangun, langsung kami masing-masing berusaha menyelamatkan diri,” ujarnya.

Akmal menyebut terdapat sekitar 30 kru di Kapal Virgo Transport 8. Menurut dia, seorang rekannya meninggal dunia dalam musibah tersebut.

“Satu orang teman kami meninggal dunia. Dia juga kru kapal,” imbuhnya.

Kesaksian para korban menggambarkan situasi ketika mengalami kecelakaan hingga mereka berusaha menyelamatkan diri di Laut Jawa.

Namun, keterangan mengenai suara retakan, tidak adanya pemberitahuan sebelum kapal miring, maupun dugaan penumpang terjebak merupakan kesaksian korban. Penyebab pasti kecelakaan serta rangkaian kejadian masih memerlukan keterangan dan hasil pemeriksaan pihak berwenang.(jpc)

Sejumlah korban selamat Kapal Virgo Transport 8 mengaku lompat ke Laut saat kapal mulai miring, lalu bertahan menggunakan life jacket.

Upaya mereka menyelamatkan diri Bak Adegan di film Titanic. Dalam kepanikan, para penumpang berupaya menjauh dari kapal sebelum terbalik, karena khawatir ikut karam.

Salah seorang korban, Rinto Ararap (33), warga Betung, Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan, mengaku naik Kapal Virgo Transport 8 bersama 14 rekannya.

Electronic money exchangers listing

Mereka hendak menuju Kalimantan Tengah untuk bekerja di perkebunan kelapa sawit.

Saat kejadian, Rinto belum tidur. Ia dan sejumlah rekannya berada di lantai tiga kapal.

Dilansir dari Radar Banjarmasin (Jawa Pos Group), Sebelum kapal mulai oleng, Rinto mendengar suara seperti benda retak. Mereka sempat mencari sumber suara tersebut, tetapi tidak menemukannya.

“Kejadiannya singkat. Tidak lama setelah terdengar bunyi itu, kapal langsung oleng dan miring. Setelah itu perlahan-lahan karam,” terang Rinto.

Kepanikan langsung terjadi. Para penumpang berusaha mencari jalan keluar dan perlengkapan untuk menyelamatkan diri.

Mereka kemudian mendapatkan rompi pelampung atau life jacket. Saat itu, menurut Rinto, sebagian besar penumpang sedang tertidur.

“Kejadiannya sekitar pukul 01.00 WITA dini hari. Sesaat begitu saja kapal berangsur karam setelah oleng ke kiri,” ujarnya.

Rinto mengaku tidak mendengar pemberitahuan dari kapten maupun awak kapal sebelum kapal semakin miring.

“Bahkan kapten kapal dan awak kapal tidak ada memberikan informasi atau pemberitahuan. Itu yang membuat semua penumpang panik,” katanya.

Dalam hitungan menit posisi kapal semakin miring. Para penumpang kemudian berusaha menyelamatkan diri dengan kemampuan masing-masing.

Baca Juga :  Bahlil Bantah Pencabutan Izin Tambang Raja Ampat karena Tekanan Publik

Penumpang Terjun ke Laut Bermodal Life Jacket

Dalam kondisi tersebut, Rinto memutuskan untuk terjun ke laut dan bertahan hanya dengan life jacket.

Ia menyaksikan kapal Virgo Transport akhirnya rebah kek kiri dan perlahan terbalik, sebagaimana posisi saat kapal itu ditemukan pada Minggu (13/9) sore.

“Berjam-jam saya terombang-ambing di laut hanya bermodalkan life jacket. Setelah kapal tenggelam, kami pasrah dan terus berdoa, berzikir, yakin ada pertolongan dari Allah agar saya dan teman-teman bisa selamat,” ucapnya.

Para korban, termasuk Rinto kemudian terpisah dan terapung di tengah laut dalam kondisi gelap.

Pertolongan yang ditunggu akhirnya datang beberapa jam kemudian. Sebuah kapal pengangkut batu bara yang melintas menemukan mereka terombang-ambing di laut.

“Sekitar pukul 04.00 kami mendapatkan pertolongan. Selama (hampir) empat jam itu saya terus berdoa agar kami semua selamat. Alhamdulillah, pertolongan Allah datang dan kami selamat,” tuturnya lirih.

Rinto bersyukur 14 rekannya yang berangkat bersamanya dari Sumsel juga selamat.

“Saya bersyukur teman-teman saya yang merantau ke Kalimantan semuanya selamat,” sambungnya.

Ia menduga masih terdapat penumpang yang terjebak di dalam kapal. Terutama mereka yang berada di kelas ekonomi dan sedang tidur ketika kapal mulai miring.

“Cukup banyak. Kemungkinan mereka terjebak di dalam dan tidak bisa keluar karena sedang tidur,” bebernya.

Pernyataan tersebut merupakan dugaan Rinto berdasarkan situasi yang dialaminya saat kejadian.

Belum ada keterangan pihak berwenang dalam naskah ini yang memastikan adanya korban terjebak di dalam kapal.

Baca Juga :  Capaian Vaksinasi Tentukan Level, PPKM Berlanjut Hingga 6 Desember

Penumpang Mengaku Tak Dapat Peringatan

Kesaksian serupa disampaikan Salihin (57), salah seorang penumpang yang bekerja sebagai kernet.

Salihin sedang tidur ketika kapal mulai mengalami masalah. Ia baru terbangun setelah dibangunkan rekannya.

“Kami kaget ketika dibangunkan. Kapal sudah dalam posisi miring. Pokoknya tiba-tiba saja, tidak ada pemberitahuan atau informasi melalui pengeras suara. Kejadiannya begitu cepat,” katanya.

Sebagaimana Rinto, salihin dan rekannya juga memutuskan terjun ke laut agar tidak ikut karam bersama kapal.

Tas selempang Salihin masih melekat di tubuhnya. Dompet dan telepon genggamnya juga masih berada di dalam tas tersebut.

“Uang dan identitas masih melekat di badan saya, handphone juga, tapi kemungkinan rusak karena terendam,” ujarnya.

Salah seorang kru kapal asal Jawa Barat, Akmal (28), juga mengaku sedang tidur saat kejadian.

Ia baru mengetahui kapal dalam kondisi miring setelah dibangunkan rekan-rekannya.

“Tidak dengar ada bunyi apa-apa karena saya tidur. Begitu bangun, langsung kami masing-masing berusaha menyelamatkan diri,” ujarnya.

Akmal menyebut terdapat sekitar 30 kru di Kapal Virgo Transport 8. Menurut dia, seorang rekannya meninggal dunia dalam musibah tersebut.

“Satu orang teman kami meninggal dunia. Dia juga kru kapal,” imbuhnya.

Kesaksian para korban menggambarkan situasi ketika mengalami kecelakaan hingga mereka berusaha menyelamatkan diri di Laut Jawa.

Namun, keterangan mengenai suara retakan, tidak adanya pemberitahuan sebelum kapal miring, maupun dugaan penumpang terjebak merupakan kesaksian korban. Penyebab pasti kecelakaan serta rangkaian kejadian masih memerlukan keterangan dan hasil pemeriksaan pihak berwenang.(jpc)

Terpopuler

Artikel Terbaru