“Saya punya prinsip, hidup itu lebih baik saya merasa bodoh di tengah orang pintar daripada merasa pintar di tengah orang bodoh. Kalau kita merasa paling pintar, kita tidak akan maju,” imbuh Menteri Mukhtarudin.
Karena itu, Menteri Mukhtarudin mendorong para siswa untuk membangun pergaulan yang positif dengan orang-orang yang memiliki pengalaman dan pengetahuan lebih luas.
Menurut Menteri P2MI, bergaul dengan profesor, doktor, maupun orang-orang yang memiliki kompetensi di bidang tertentu dapat menjadi ruang pembelajaran.
Pengetahuan tidak hanya diperoleh melalui membaca buku atau proses belajar-mengajar, tetapi juga dari cara seseorang mendengar, melihat, menganalisis, dan memahami pengalaman orang lain.
“Jadi sebenarnya kita tidak tahu anak-anak kita akan menjadi apa nanti ke depan. Yang penting persiapkan diri,” cetus Menteri Mukhtarudin.
Mukhtarudin menekankan sedikitnya ada sejumlah modal penting yang harus dimiliki generasi muda untuk menghadapi masa depan, yakni ilmu pengetahuan, keterampilan, mental yang kuat, dan sikap atau attitude yang baik.
Ia menjelaskan ilmu pengetahuan diperoleh melalui pendidikan dan kemauan untuk terus belajar.
Sementara keterampilan perlu diasah agar seseorang memiliki kemampuan teknis yang dapat diterapkan dalam kehidupan maupun dunia kerja.
“Yang pertama tentu intelektual, ilmu. Ilmu pengetahuan itu melalui belajar. Kedua, kembangkan keterampilan. Ketiga, mental harus kuat,” ujar Menteri.
Bagi politisi Partai Golkar, mental generasi muda juga harus dibentuk menjadi pribadi yang disiplin, ulet, tangguh, dan tahan menghadapi tantangan.


