Di era digital yang serba cepat, kebiasaan scrolling tanpa henti di media sosial semakin sulit dihindari. Namun, ketika yang dikonsumsi adalah berita negatif secara terus-menerus, perilaku ini dikenal sebagai doomscrolling.
Melansir dari Journal of Family Life Education (2024), kebiasaan doomscrolling terbukti memiliki hubungan signifikan dengan meningkatnya kecemasan mental pada mahasiswa Gen Z. Sementara itu, laman Hello Sehat dan Alodokter juga menyebutkan bahwa doomscrolling dapat memicu stres, gangguan tidur, hingga menurunkan kualitas hidup secara keseluruhan.
Banyak orang masih menganggap kebiasaan ini sepele, padahal dampaknya bisa sangat serius, terutama terhadap kualitas tidur dan kesehatan mental. Paparan informasi negatif yang berulang tanpa disadari dapat memicu kecemasan, meningkatkan stres, hingga menyebabkan gangguan tidur berkepanjangan.
Jika dibiarkan, kondisi ini tidak hanya mempengaruhi suasana hati, tetapi juga produktivitas dan keseimbangan emosi dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, penting untuk memahami dampak nyata doomscrolling agar kita bisa lebih bijak dalam menggunakan media sosial.
Berikut delapan dampak nyata doomscrolling terhadap kualitas tidur dan kesehatan mental yang jarang disadari:
- Sulit Tidur Meski Tubuh Sudah Lelah
Salah satu dampak paling umum dari doomscrolling adalah kesulitan tidur. Banyak orang terbiasa membuka media sosial sebelum tidur dengan alasan ingin refreshing, tetapi justru berakhir dengan membaca berbagai berita negatif. Hal ini membuat otak tetap aktif dan sulit beristirahat.
Paparan informasi yang memicu emosi, seperti rasa takut atau cemas, menyebabkan otak terus bekerja bahkan ketika tubuh sudah merasa lelah. Akibatnya, waktu tidur menjadi mundur dan kualitas istirahat pun terganggu.
- Kualitas Tidur Menjadi Buruk dan Tidak Nyenyak
Tidak hanya sulit tidur, doomscrolling juga membuat kualitas tidur menjadi tidak optimal. Seseorang mungkin tetap tidur, tetapi tidurnya tidak dalam atau sering terbangun di tengah malam. Kondisi ini membuat tubuh tidak mendapatkan istirahat yang cukup.
Dalam jangka panjang, kualitas tidur yang buruk dapat berdampak pada kesehatan fisik dan mental, seperti mudah lelah, sulit berkonsentrasi, hingga menurunnya daya tahan tubuh.
- Meningkatkan Kecemasan secara Signifikan
Doomscrolling membuat seseorang terus terpapar berita negatif, seperti bencana, krisis, atau konflik sosial. Paparan ini dapat memperkuat persepsi bahwa dunia adalah tempat yang penuh ancaman.
Akibatnya, rasa cemas meningkat, bahkan terhadap hal-hal yang sebenarnya tidak terjadi secara langsung dalam kehidupan sehari-hari. Kondisi ini juga dapat memicu overthinking dan membuat seseorang sulit merasa tenang.
- Memicu Stres Berkepanjangan
Ketika tubuh terus-menerus terpapar informasi yang memicu emosi negatif, hormon stres seperti kortisol akan meningkat. Jika kondisi ini berlangsung dalam waktu lama, seseorang bisa mengalami stres kronis.
Stres yang tidak terkelola dengan baik dapat berdampak pada kesehatan secara keseluruhan, mulai dari gangguan tidur hingga masalah kesehatan fisik lainnya.
- Menurunkan Fokus dan Produktivitas Harian
Kurangnya kualitas tidur akibat doomscrolling berdampak langsung pada kemampuan kognitif. Seseorang akan lebih sulit fokus, mudah terdistraksi, dan tidak maksimal dalam menyelesaikan tugas.
Hal ini tentu berpengaruh pada produktivitas, baik dalam kegiatan akademik maupun pekerjaan. Dalam jangka panjang, kondisi ini bisa menghambat pencapaian tujuan pribadi.
- Munculnya Perasaan Tidak Berdaya (Helplessness)
Terlalu sering mengonsumsi berita negatif dapat membuat seseorang merasa tidak berdaya terhadap keadaan dunia. Perasaan ini muncul karena individu merasa tidak memiliki kontrol terhadap masalah yang terjadi.
Jika dibiarkan, kondisi ini bisa menurunkan motivasi dan membuat seseorang kehilangan semangat dalam menjalani aktivitas sehari-hari.
- Menimbulkan Kebiasaan Adiktif terhadap Media Sosial
Doomscrolling juga dapat berkembang menjadi kebiasaan yang bersifat adiktif. Rasa penasaran terhadap informasi terbaru membuat seseorang terus ingin membuka media sosial, meskipun sadar bahwa hal itu berdampak buruk. Pola ini mirip dengan kecanduan, di mana seseorang sulit mengontrol durasi penggunaan media sosial.
- Mengganggu Keseimbangan Emosi
Dalam jangka panjang, doomscrolling dapat mempengaruhi stabilitas emosi. Seseorang menjadi lebih mudah marah, gelisah, atau merasa sedih tanpa alasan yang jelas.
Hal ini terjadi karena otak terus terpapar emosi negatif, sehingga sulit untuk kembali ke kondisi emosional yang stabil. Jika tidak ditangani, kondisi ini bisa berkembang menjadi gangguan kesehatan mental yang lebih serius.(jpc)


