alexametrics
25.6 C
Palangkaraya
Tuesday, August 16, 2022

Musang King Tirto

Saya berjanji ke kebun durian di Cianjur,
Jawa Barat. Kok nyasar ke kebun durian di Trawas, Jawa Timur.

Itu Sabtu siang kemarin. Nyasar yang terlalu
jauh.

Sejak ada virus Corona saya memang membatasi
diri pergi jauh. Saya menghindari berdesakan
di bandara. Saya termasuk orang yang mudah tertular virus –karena tiap hari
minum obat untuk menekan imunitas saya.

Padahal, saya
sudah berjanji melihat kebun durian seluas 600 hektare di Cianjur itu. Itulah
kebun durian yang hancur. Milik PTPN 8. Yang berhasil diselamatkan oleh seorang
mantan pengacara.

”Pak Dahlan harus ke sini. Mumpung mulai
panen,” ujar I Gusti Ngurah Wisnawa.

Virus Corona membelokkan saya ke Trawas,
daerah pegunungan di Mojokerto Selatan.

Di Trawas itu ada teman yang memiliki kebun
durian 10 ha. Namanya Tirto Santoso.

Yang membuat saya menyadarkan diri ke
kebunnya adalah: ia lagi panen durian jenis Musang King.

Itulah jenis durian termahal. Yang selama ini
menjadi unggulan Malaysia. Musang King-lah yang membuat kehebatan durian
Thailand klepek-klepek. Musang King-lah yang membuat semua
durian seperti bukan durian.

Di Singapura praktis tidak ada yang menjual
durian selain Musang King. Yang didatangkan dari Malaysia. Biasanya saya diajak
Robert Lai nongkrong di kawasan Whampoa. Di situlah Musang King dijual. Setelah
jam 5 sore.

Kalau kangen Musang King, di Jakarta pun ada.
Dijual secara online. Saya beberapa kali membeli. Saya lihat merknya: Sindy.
Sama dengan nama toko durian di Singapura itu.

Ternyata pedagang durian di Jakarta tadi
memang kepanjangan jaringan dari yang di Singapura itu. Bukan langsung dari
Malaysia.

Di Jakarta harga satu pack Musang
King –isi empat hapat– Rp 800.000. Satu biji durian Musang King biasanya
berisi empat hapat. Berarti harga Rp 800.000 itu sama dengan satu biji durian.

Saya terpaksa meminjam kata ”hapat” dari
bahasa Banjar. Saya belum tahu bahasa Indonesia-nya ”hapat” itu apa.

Dan sekarang saya bisa makan Musang King di
Trawas –gratis pula. Warna dagingnya sama: kekuningan. Bijinya sama: gepeng
tipis sekali. Rasanya sama: tidak bisa menggambarkannya –saking enaknya.

Sebelum memulai saya memberi tahu istri
bagaimana cara makannya: setengah disedot pelan-pelan. Kalau bisa sambil
memejamkan mata. Agar tidak ingat mertua.

Baca Juga :  Sebanyak 469 Kecamatan Masuk Rencana Tata Ruang di Laut Lepas

 

Mirip cara menikmati es krim terlezat dari
ujung sendok.

Itulah cara yang benar makan durian Musang
King. Setidaknya menurut teman saya Robert Lai itu.

Itu agar makannya pelan-pelan sekali. Sesuai
dengan harganya. Tapi belakangan ia baru mengaku: ia tidak boleh makan banyak
durian.

Setelah tahu rahasianya itu saya tidak sabar
lagi makan Musang King dengan memejamkan mata.

Tapi saya tetap mengajarkannya ke istri
dengan tujuan yang sama: agar jangan banyak-banyak makan durian. Cukuplah kalau
jatahnyi diwakilkan ke suaminyi.

Apalagi saat saya di Melaka. Yang harga Musang
Kingnya
hanya separo harga di Singapura. Tanpa memejamkan mata pun tidak ingat mertua.

Juga ketika saya di Kuala Pilah, Negeri
Sembilan, Malaysia. Di kampungnya Rosma Mansor itu. Saya sengaja ke kampung
asal Rosma di pedalaman Malaysia itu untuk bertemu teman-teman lama istri
mantan Perdana Menteri Malaysia Najib Razak itu. Yakni ketika saya akan menulis
cerita panjang tentang wanita itu tahun lalu.

Kini, Pak Tirto di Trawas pun sudah panen
durian Malaysia. ”Saya punya sekitar 100 pohon Musang King,” ujarnya.

Ke mana Pak Tirto menjual Musang Kingnya?

Ia belum sempat jualan. Masih habis dimakan
sendiri –bersama teman-temannya.

Ini memang baru tahun-tahun pertama berbuah.
Umur pohonnya baru 4 tahun. Satu pohon baru bisa memberikan 4 atau 5 buah.

Kelak, tiga tahun lagi, satu pohon bisa 20-30
buah.

Teman Pak Tirto memang banyak. Ia salah satu
pengurus FBM –paguyuban antar tokoh agama di Jatim. FBM adalah singkatan dari
Forum Beda (tapi) Mesra. Ia sendiri pimpinan umat Budha di Surabaya.

Dan lagi untuk apa ia cari uang dengan jualan
durian. Pabrik kecap dan bumbu-bumbu masaknya kian tahun kian besar –dengan
merk AAA.

Saya pun bergurau dengannya: mestinya sayalah
yang berhak pakai merk itu. Sayalah yang punya cucu dengan nama AAA – -Ayrton,
Alesi dan Andretti.

Tapi Tirto memang sangat hoki dengan merk
itu. Apalagi kecap dan bumbu saus tiramnya.

Setelah terbukti Musang King bisa hidup di
Indonesia, Tirto punya keinginan ini: membagi bibit Musang King ke petani
durian di Trawas. Agar memperoleh nilai tambah yang tinggi.

Baca Juga :  Untuk Pangkas Pengangguran, Ben-Ujang Siapkan 50 Ribu Lapangan Kerja B

Cuma saja Tirto tidak sampai hati minta
petani durian menebang pohon lamanya. Agar bisa diganti dengan Musang King.
”Selama menunggu Musang King berbuah mereka makan apa?” ujar Tirto.

Ia masih mencari ide untuk bisa melaksanakan
niatnya itu. Ia sendiri adalah anggota tim Durian Nusantara. Yang diketuai
Prof. Dr. Moh Reza dari IPB.

Misi paguyuban Durian Nusantara adalah untuk
menginventarisasi durian-durian unggulan dari seluruh daerah di Indonesia.

Di negara kita itu jenis duriannya terlalu
banyak. Konsumen durian justru bingung. Tidak bisa memilih mana yang baik.
Tidak ada jaminan dan standar mutu.

Beda dengan di Malaysia. Yang hanya
mengembangkan Musang King, Duri Hitam, D24, dan
D168.

Konsumen tinggal pilih: suka yang mana.

Di Indonesia jenis durian bisa lebih dari 100
macam. Benar-benar kelemahan dari segi strategi marketing.

Sementara ini Durian Nusantara baru menemukan
beberapa durian unggulan.

Di Kalbar-lah yang paling hebat. Yakni durian
Serombut. Adanya di hutan-hutan pedalaman Kalbar. Tidak jauh dari Entekong
–perbatasan dengan Sarawak, Malaysia.

Yang juga unggul adalah durian dari Bangka
dan Belitung. Namanya Super Tembaga –karena warnanya yang agak mirip tembaga.

Orang sana menyebutnya durian Tahi Babi.

Satu lagi ditemukan: belum ada namanya. Juga
di Kalbar.

Berita gembiranya: seorang pengusaha di
Bangka sudah mulai menanam Super Tembaga seluas 600 hektare. Saya pun ingin
sekali melihatnya.

Diperkirakan Bangka-lah yang akan jadi pioner
ekspor durian terstandar dari Indonesia.

Selebihnya masih terlalu lama bagi kita untuk
bisa berubah menjadi negara unggulan durian.

Proses berubah dari durian aneka-ria menjadi
hanya beberapa yang terstandar saja kelihatannya belum menemukan jalannya.

”Saya juga sudah mulai menanam Musang King di
Cianjur ini,” ujar I Gusti Ngurah Wisnawa kemarin.

Saya merasa masih punya hutang untuk ke kebun
Pak Gusti. Sekaligus agar bisa menulis mengapa dari pengacara ia bisa sampai ke
durian dengan skala raksasa.

Politik durian ternyata tidak kalah ruwetnya.
(dahlan iskan)

 

Saya berjanji ke kebun durian di Cianjur,
Jawa Barat. Kok nyasar ke kebun durian di Trawas, Jawa Timur.

Itu Sabtu siang kemarin. Nyasar yang terlalu
jauh.

Sejak ada virus Corona saya memang membatasi
diri pergi jauh. Saya menghindari berdesakan
di bandara. Saya termasuk orang yang mudah tertular virus –karena tiap hari
minum obat untuk menekan imunitas saya.

Padahal, saya
sudah berjanji melihat kebun durian seluas 600 hektare di Cianjur itu. Itulah
kebun durian yang hancur. Milik PTPN 8. Yang berhasil diselamatkan oleh seorang
mantan pengacara.

”Pak Dahlan harus ke sini. Mumpung mulai
panen,” ujar I Gusti Ngurah Wisnawa.

Virus Corona membelokkan saya ke Trawas,
daerah pegunungan di Mojokerto Selatan.

Di Trawas itu ada teman yang memiliki kebun
durian 10 ha. Namanya Tirto Santoso.

Yang membuat saya menyadarkan diri ke
kebunnya adalah: ia lagi panen durian jenis Musang King.

Itulah jenis durian termahal. Yang selama ini
menjadi unggulan Malaysia. Musang King-lah yang membuat kehebatan durian
Thailand klepek-klepek. Musang King-lah yang membuat semua
durian seperti bukan durian.

Di Singapura praktis tidak ada yang menjual
durian selain Musang King. Yang didatangkan dari Malaysia. Biasanya saya diajak
Robert Lai nongkrong di kawasan Whampoa. Di situlah Musang King dijual. Setelah
jam 5 sore.

Kalau kangen Musang King, di Jakarta pun ada.
Dijual secara online. Saya beberapa kali membeli. Saya lihat merknya: Sindy.
Sama dengan nama toko durian di Singapura itu.

Ternyata pedagang durian di Jakarta tadi
memang kepanjangan jaringan dari yang di Singapura itu. Bukan langsung dari
Malaysia.

Di Jakarta harga satu pack Musang
King –isi empat hapat– Rp 800.000. Satu biji durian Musang King biasanya
berisi empat hapat. Berarti harga Rp 800.000 itu sama dengan satu biji durian.

Saya terpaksa meminjam kata ”hapat” dari
bahasa Banjar. Saya belum tahu bahasa Indonesia-nya ”hapat” itu apa.

Dan sekarang saya bisa makan Musang King di
Trawas –gratis pula. Warna dagingnya sama: kekuningan. Bijinya sama: gepeng
tipis sekali. Rasanya sama: tidak bisa menggambarkannya –saking enaknya.

Sebelum memulai saya memberi tahu istri
bagaimana cara makannya: setengah disedot pelan-pelan. Kalau bisa sambil
memejamkan mata. Agar tidak ingat mertua.

Baca Juga :  Wali Kota Tinjau Kapasitas Drainase di Palangka Raya

 

Mirip cara menikmati es krim terlezat dari
ujung sendok.

Itulah cara yang benar makan durian Musang
King. Setidaknya menurut teman saya Robert Lai itu.

Itu agar makannya pelan-pelan sekali. Sesuai
dengan harganya. Tapi belakangan ia baru mengaku: ia tidak boleh makan banyak
durian.

Setelah tahu rahasianya itu saya tidak sabar
lagi makan Musang King dengan memejamkan mata.

Tapi saya tetap mengajarkannya ke istri
dengan tujuan yang sama: agar jangan banyak-banyak makan durian. Cukuplah kalau
jatahnyi diwakilkan ke suaminyi.

Apalagi saat saya di Melaka. Yang harga Musang
Kingnya
hanya separo harga di Singapura. Tanpa memejamkan mata pun tidak ingat mertua.

Juga ketika saya di Kuala Pilah, Negeri
Sembilan, Malaysia. Di kampungnya Rosma Mansor itu. Saya sengaja ke kampung
asal Rosma di pedalaman Malaysia itu untuk bertemu teman-teman lama istri
mantan Perdana Menteri Malaysia Najib Razak itu. Yakni ketika saya akan menulis
cerita panjang tentang wanita itu tahun lalu.

Kini, Pak Tirto di Trawas pun sudah panen
durian Malaysia. ”Saya punya sekitar 100 pohon Musang King,” ujarnya.

Ke mana Pak Tirto menjual Musang Kingnya?

Ia belum sempat jualan. Masih habis dimakan
sendiri –bersama teman-temannya.

Ini memang baru tahun-tahun pertama berbuah.
Umur pohonnya baru 4 tahun. Satu pohon baru bisa memberikan 4 atau 5 buah.

Kelak, tiga tahun lagi, satu pohon bisa 20-30
buah.

Teman Pak Tirto memang banyak. Ia salah satu
pengurus FBM –paguyuban antar tokoh agama di Jatim. FBM adalah singkatan dari
Forum Beda (tapi) Mesra. Ia sendiri pimpinan umat Budha di Surabaya.

Dan lagi untuk apa ia cari uang dengan jualan
durian. Pabrik kecap dan bumbu-bumbu masaknya kian tahun kian besar –dengan
merk AAA.

Saya pun bergurau dengannya: mestinya sayalah
yang berhak pakai merk itu. Sayalah yang punya cucu dengan nama AAA – -Ayrton,
Alesi dan Andretti.

Tapi Tirto memang sangat hoki dengan merk
itu. Apalagi kecap dan bumbu saus tiramnya.

Setelah terbukti Musang King bisa hidup di
Indonesia, Tirto punya keinginan ini: membagi bibit Musang King ke petani
durian di Trawas. Agar memperoleh nilai tambah yang tinggi.

Baca Juga :  Pastikan Bebas Narkoba, Sugianto-Edy dan Ben-Ujang Jalani Tes Urine

Cuma saja Tirto tidak sampai hati minta
petani durian menebang pohon lamanya. Agar bisa diganti dengan Musang King.
”Selama menunggu Musang King berbuah mereka makan apa?” ujar Tirto.

Ia masih mencari ide untuk bisa melaksanakan
niatnya itu. Ia sendiri adalah anggota tim Durian Nusantara. Yang diketuai
Prof. Dr. Moh Reza dari IPB.

Misi paguyuban Durian Nusantara adalah untuk
menginventarisasi durian-durian unggulan dari seluruh daerah di Indonesia.

Di negara kita itu jenis duriannya terlalu
banyak. Konsumen durian justru bingung. Tidak bisa memilih mana yang baik.
Tidak ada jaminan dan standar mutu.

Beda dengan di Malaysia. Yang hanya
mengembangkan Musang King, Duri Hitam, D24, dan
D168.

Konsumen tinggal pilih: suka yang mana.

Di Indonesia jenis durian bisa lebih dari 100
macam. Benar-benar kelemahan dari segi strategi marketing.

Sementara ini Durian Nusantara baru menemukan
beberapa durian unggulan.

Di Kalbar-lah yang paling hebat. Yakni durian
Serombut. Adanya di hutan-hutan pedalaman Kalbar. Tidak jauh dari Entekong
–perbatasan dengan Sarawak, Malaysia.

Yang juga unggul adalah durian dari Bangka
dan Belitung. Namanya Super Tembaga –karena warnanya yang agak mirip tembaga.

Orang sana menyebutnya durian Tahi Babi.

Satu lagi ditemukan: belum ada namanya. Juga
di Kalbar.

Berita gembiranya: seorang pengusaha di
Bangka sudah mulai menanam Super Tembaga seluas 600 hektare. Saya pun ingin
sekali melihatnya.

Diperkirakan Bangka-lah yang akan jadi pioner
ekspor durian terstandar dari Indonesia.

Selebihnya masih terlalu lama bagi kita untuk
bisa berubah menjadi negara unggulan durian.

Proses berubah dari durian aneka-ria menjadi
hanya beberapa yang terstandar saja kelihatannya belum menemukan jalannya.

”Saya juga sudah mulai menanam Musang King di
Cianjur ini,” ujar I Gusti Ngurah Wisnawa kemarin.

Saya merasa masih punya hutang untuk ke kebun
Pak Gusti. Sekaligus agar bisa menulis mengapa dari pengacara ia bisa sampai ke
durian dengan skala raksasa.

Politik durian ternyata tidak kalah ruwetnya.
(dahlan iskan)

 

Most Read

Artikel Terbaru

/