alexametrics
23.2 C
Palangkaraya
Monday, August 15, 2022

Kiai Profesor

Untuk apa sampai perlu mengejar
gelar profesor? 

Bagi Kiai Asep Saifuddin Chalim
tujuannya konkret sekali: ingin membuka universitas internasional.

Dan ia sendiri yang akan
memimpinnya.

Dan itu harus terjadi dalam
lima tahun ini. 

Hakekatnya beliau sudah mampu
melakukan itu tanpa gelar profesor. Baik dari segi finansial, jaringan,
kapasitas intelektual, maupun ide besar. Dan utama dari track
record
-nya di bidang pembangunan pendidikan.

Tapi persyaratan formal dari
pemerintah mengharuskan gelar doktor dan profesor.

”Inilah penganugerahan gelar
profesor yang tidak perlu mempersoalkan hakekatnya. Ini hanya syari’atnya
saja,” ujar Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya.

Sang rektor, Prof. Dr. Masdar
Hilmy adalah orang Tegal dengan gelar doktor dari Melbourne University. Sejak
muda Masdar sudah menjadi penulis di koran nasional, termasuk Kompas. Tema
tulisannya biasanya tentang multikulturalisme.

Masdar tahu persis kapasitas
dan hasil karya Kiai Asep. ”Beliau sebenarnya sudah tidak memerlukan gelar
ini,” kata Prof. Masdar Hilmy dalam pidatonya Sabtu lalu.

Untuk mendirikan perguruan
tinggi internasionalnya itu Kiai Asep sudah menyiapkan tanah 60 hektare.
Lokasinya di Pacet, di perbukitan cukup indah di selatan Mojokerto,
Jatim. 

Di Pacet itu pula Kiai Asep
membangun pondok pesantren. Sudah dilakukan.

Tergolon baru: tahun 2007. Tapi
perkembangannya luar biasa pesat : mutunya, sistem pengajarannya maupun fisik
kampusnya.

Areal tanahnya bertambah terus.
Tiap bulan beli tanah baru. Awalnya hanya 1 hektare. Kini sudah mencapai 40
hektare lebih. Dan akan segera menjadi 100 hektare.

Siswanya juga terus bertambah.

Kini sudah lebih 10.000 orang.
Belum ada pesantren baru yang kepesatan pertumbuhannya secepat itu.

Nama pesantren tersebut:
Amanatul Ummah. Tidak ada hubungannya dengan Partai Amanat Nasional –yang
dibidani Muhammadiyah itu. Kiai Asep adalah tokoh NU (Nahdlatul Ulama). Bahkan
ia jadi NU sudah sejak sebelum lahir. Ayahnya adalah salah satu kuai besar
pendiri NU –Kiai Abdul Chalim.

Sebetulnya Kiai Asep sudah pula
mendirikan perguruan tinggi di Pacet itu. Saya ikut peresmiannya, empat tahun
lalu. Lokasinya di sebelah Amanatul Ummah.

Namanya: Institute Abdul Chalim
–untuk menghormati bapaknya. Sudah pula memiliki mahasiswa dari 10
negara. 

Tapi Kiai Asep belum puas
dengan semua itu. Ia akan terus mengembangkan pendidikan. Sampai terbayar
”dendam” nya waktu kecil.

Waktu itu awal Orde Baru.
Sepanjang jalan di Jatim –arah Pandaan– banyak berdiri pabrik baru. Mayoritas
milik asing.

Ia pun berpikir siapa yang akan
bekerja di situ. Pasti hanya yang berpendidikan dan yang pintar. Tidak mungkin
pribumi Islam bisa bekerja di situ.

Maka Asep muda menetapkan arah
hidupnya: meningkatkan kualitas manusia Indonesia. Lewat pendidikan.

Itu tidak mudah. Ayahnya
meninggal saat Asep masih kelas 2 SMPN 1 Sidoarjo. Tidak ada lagi kiriman bekal
hidup. 

Apalagi ia anak bungsu dari 21
bersaudara.

Kisah Asep di SMP ini
dituturkan dengan sangat baik oleh . Gatot Sujono –teman satu kelasnya.

Baca Juga :  Program Sembako Kartu Kalteng Sejahtera Milik Ben-Ujang Sangat Dibutuh

Di forum penganugerahan itu
Gatot –juga saya– diminta memberikan testimoni. Tugas itu ia laksanakan
dengan amat menarik dan lucu.

Saat sekolah di SMP dulu Asep
tinggal di pondok pesantren Al Khoziny –yang didirikan oleh KH Abbas
Khozin. 

Ayahnyalah yang menitipkan Asep
kecil di situ. Sang ayah memang pernah lama di Jatim –berguru ke KH Wahab
Chasbullah yang juga salah satu pendiri NU.

Di pondok itu semua santri
masak sendiri –kecuali Asep. Itu karena Asep tidak punya bahan yang bisa
masak.

Tengah malam barulah Asep ke
dapur. Ia mencucikan tempat masak santri lainnya –yang biasanya digeletakkan
begitu saja tanpa dicuci. Tujuan lainnya: mendapatkan sisa nasi yang biasanya
tertinggal di dasar tempat tanak. Yakni nasi yang sudah jadi intip-kerak.

Semua alat masak temannya
bersih. Ia pun dapat makanan –sekali itu dalam sehari. 

Di pondok itu Asep belajar
kitab-kitab agama di malam hari. Pagi-pagi berjalan kaki ke SMPN 1 Sidoarjo
–sejauh sekitar 5 Km.

Asep juga hanya mempunyai satu
buku tulis –pelajaran apa pun ditulis di satu buku situ.

Gatot berteman akrab karena
satu bangku dengan Asep di pojok paling belakang.

Pun waktu keduanya meneruskan
sekolah di SMAN 1 Sidoarjo.

”Beliau itu pemberani. Waktu
main sepak bola satu-satunya yang tidak pakai sepatu. Beliau tidak takut
terinjak sepatu bola,” ujarnya.

Selama bersahabat, seingat
Gatot, hanya sekali bertengkar. Tapi seru sekali. Dan lama sekali.

Penyebabnya tidak sepele. Itu
terjadi waktu Gatot menulis cerita pendek. Tulisannya disalahkan oleh Asep.
Gatot tidak mau terima itu. 

Itu soal bunyi kokok ayam
jantan.

”Bunyi kokok ayam jantan kok
kukuruyuk,” ujar Asep seperti yang ditirukan Gatot. 

Waktu itu Gatot lagi
mendiskripsikan datangnya fajar pagi. Yang biasa ditandai dengan kokok ayam
jantan: kukuruyuuuuuuuk!

”Bunyi kokok ayam itu
kongkorongkoooong,” ujar Asep memberikan koreksi.

Pertengkaran pun terjadi.

Tidak pernah terselesaikan.

Lalu Asep berhenti sekolah di
kelas 2 SMA itu. Tidak ada lagi biaya setelah sang ayah meninggal dunia. Ia pun
pamit kepada kiai pondok Al Khoziny.

”Waktu itu beliau sudah pandai
matematika, bahasa Inggris dan bahasa Arab,” ujar Gatot.

Pamit ke mana?

Tidak tahu. Asep tidak punya
tujuan pasti hendak ke mana. Ia pun berjalan ke timur. Ke arah Lumajang. Lalu
Jember. Banyuwangi. Probolinggo. Akhirnya berhenti di Pasuruan. Ia mengajar
matematika di sebuah sekolah di pedesaan Pasuruan. 

Perjalanan itulah yang terpatri
dalam otak dan hatinya: saat melihat banyaknya pabrik PMA di sepanjang jalan.

Saat meninggalkan pondok dan
SMA Sidoarjo itu Asep hanya membawa satu tas. Isinya pun hanya dua stel baju
dan dua buku: kamus bahasa Inggris dan Arab.

Di Pasuruan itu Asep ikut ujian
persamaan SMA. Lulus. Lalu masuk IKIP Surabaya –jurusan bahasa Inggris.

Dengan bekal ijazah sarjana
muda Asep bisa mengajar lebih resmi. Lalu kuliah lagi di jurusan bahasa Inggris
di IKIP Malang. Sampai menjadi sarjana.

Baca Juga :  PANTAS Ajak Relawan Santun

Ia masih kuliah lagi di UIN
Sunan Ampel Surabaya. Untuk jurusan sastra Arab. Sampai sarjana muda.

Saat di Surabaya itu Asep
mendirikan pondok pesantren. Yakni di Siwalankerto –sekitar 2 Km dari UIN
Surabaya sekarang ini. 

Asep tahu untuk mendirikan
sekolah diperlukan syarat formal kesarjanaan. Ia pun kuliah S2 di Universitas
Islam Malang. Lalu S3 di Universitas Merdeka, juga di Malang. Dan kini Asep
menjadi Prof. DR. KH Asep Saifuddin Chalim.

Presiden Joko Widodo hadir di
acara pengukuhan Sabtu lalu. Saat menuju panggung Presiden Jokowi menghadap ke
senat guru besar dulu. Lalu membungkuk khusu’ memberi hormat. Demikian pula
setelah turun dari podium. Kembali menghadap senat dan kembali membungkuk
hormat. 

”Bapak Presiden Jokowi itu
orang sholeh,” ujar Kiai Asep saat memulai pidato. Waktu itu presiden belum
tiba di tempat penganugerahan. ”Tempat yang disinggahi orang sholeh akan
mendapat berkah,” tambahnya. 

Kiai Asep memang memegang peran
utama atas kemenangan telak Jokowi di Jatim. Padahal kalau suara di Jatim
imbang saja, Prabowo lah yang menjadi presiden sekarang ini.

Gatot sendiri berpisah total
dari Asep. Setamat SMA Gatot melamar kerja di kementerian keuangan. Ia
ditempatkan di kantor bendahara negara di Samarinda. 

Sebelas tahun Gatot di Kaltim.
Sambil kuliah ekonomi di Universitas Mulawarman. Di Samarinda pula ia menemukan
isterinya sekarang –anak orang Malang yang juga merantau ke Samarinda. 

Gatot lantas mendapat bea siswa
ke Amerika. Ia kuliah di University of Delaware di Newark. Lalu mendapat bea
siswa lagi untuk gelar doktor di Universitas Negeri Malang.

Setelah pensiun kini Gatot ikut
mengajar di Institute Abdul Chalim milik Asep.

Pertengkaran saat SMA pun
berakhir. Itu karena Gatot akhirnya tahu: di Jawa Barat bunyi kokok jago adalah
‘kongkorongkooong’. 

Gatot sama sekali tidak tahu
kalau Asep itu anak kelahiran Majalengka –anak kiai besar di sana. ”Selama di
SMA beliau menggunakan bahasa Jawa yang halus,” ujar Gatot. 

Saya ikut memberikan pidato
testimoni di forum penganugerahan itu. Saya ingat saat ingin salat subuh di
Pacet. Saya berangkat dari Surabaya jam 3 pagi. Tapi saat tiba di Amanatul
Ummah sudah agak telat: mendapat tempat salat di emperan masjid.

Habis salat Subuh tidak ada
yang keluar masjid. Diteruskan dengan kajian kitab kuning. Semua santri membuka
kitabnya. Saya ikut kitab santri di sebelah saya.

”Siapa yang mengajar itu,”
tanya saya kepada santri di sebelah saya.

”Beliaunya Kiai Asep,” jawab si
santri.

Oh… Inilah kunci sukses Kiai
Asep, kata saya dalam hati. Beliau total sekali dalam mengurus lembaga
pendidikannya. Termasuk masih mengajar sendiri untuk kajian tertentu.

Ternyata, tiap hari, Kiai Asep
berangkat dari pondoknya di Siwalankerto Surabaya ke Pacet.

Tiap pukul 02.30 pagi.

Tiap hari. (Dahlan Iskan)

 

Untuk apa sampai perlu mengejar
gelar profesor? 

Bagi Kiai Asep Saifuddin Chalim
tujuannya konkret sekali: ingin membuka universitas internasional.

Dan ia sendiri yang akan
memimpinnya.

Dan itu harus terjadi dalam
lima tahun ini. 

Hakekatnya beliau sudah mampu
melakukan itu tanpa gelar profesor. Baik dari segi finansial, jaringan,
kapasitas intelektual, maupun ide besar. Dan utama dari track
record
-nya di bidang pembangunan pendidikan.

Tapi persyaratan formal dari
pemerintah mengharuskan gelar doktor dan profesor.

”Inilah penganugerahan gelar
profesor yang tidak perlu mempersoalkan hakekatnya. Ini hanya syari’atnya
saja,” ujar Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya.

Sang rektor, Prof. Dr. Masdar
Hilmy adalah orang Tegal dengan gelar doktor dari Melbourne University. Sejak
muda Masdar sudah menjadi penulis di koran nasional, termasuk Kompas. Tema
tulisannya biasanya tentang multikulturalisme.

Masdar tahu persis kapasitas
dan hasil karya Kiai Asep. ”Beliau sebenarnya sudah tidak memerlukan gelar
ini,” kata Prof. Masdar Hilmy dalam pidatonya Sabtu lalu.

Untuk mendirikan perguruan
tinggi internasionalnya itu Kiai Asep sudah menyiapkan tanah 60 hektare.
Lokasinya di Pacet, di perbukitan cukup indah di selatan Mojokerto,
Jatim. 

Di Pacet itu pula Kiai Asep
membangun pondok pesantren. Sudah dilakukan.

Tergolon baru: tahun 2007. Tapi
perkembangannya luar biasa pesat : mutunya, sistem pengajarannya maupun fisik
kampusnya.

Areal tanahnya bertambah terus.
Tiap bulan beli tanah baru. Awalnya hanya 1 hektare. Kini sudah mencapai 40
hektare lebih. Dan akan segera menjadi 100 hektare.

Siswanya juga terus bertambah.

Kini sudah lebih 10.000 orang.
Belum ada pesantren baru yang kepesatan pertumbuhannya secepat itu.

Nama pesantren tersebut:
Amanatul Ummah. Tidak ada hubungannya dengan Partai Amanat Nasional –yang
dibidani Muhammadiyah itu. Kiai Asep adalah tokoh NU (Nahdlatul Ulama). Bahkan
ia jadi NU sudah sejak sebelum lahir. Ayahnya adalah salah satu kuai besar
pendiri NU –Kiai Abdul Chalim.

Sebetulnya Kiai Asep sudah pula
mendirikan perguruan tinggi di Pacet itu. Saya ikut peresmiannya, empat tahun
lalu. Lokasinya di sebelah Amanatul Ummah.

Namanya: Institute Abdul Chalim
–untuk menghormati bapaknya. Sudah pula memiliki mahasiswa dari 10
negara. 

Tapi Kiai Asep belum puas
dengan semua itu. Ia akan terus mengembangkan pendidikan. Sampai terbayar
”dendam” nya waktu kecil.

Waktu itu awal Orde Baru.
Sepanjang jalan di Jatim –arah Pandaan– banyak berdiri pabrik baru. Mayoritas
milik asing.

Ia pun berpikir siapa yang akan
bekerja di situ. Pasti hanya yang berpendidikan dan yang pintar. Tidak mungkin
pribumi Islam bisa bekerja di situ.

Maka Asep muda menetapkan arah
hidupnya: meningkatkan kualitas manusia Indonesia. Lewat pendidikan.

Itu tidak mudah. Ayahnya
meninggal saat Asep masih kelas 2 SMPN 1 Sidoarjo. Tidak ada lagi kiriman bekal
hidup. 

Apalagi ia anak bungsu dari 21
bersaudara.

Kisah Asep di SMP ini
dituturkan dengan sangat baik oleh . Gatot Sujono –teman satu kelasnya.

Baca Juga :  PANTAS Ajak Relawan Santun

Di forum penganugerahan itu
Gatot –juga saya– diminta memberikan testimoni. Tugas itu ia laksanakan
dengan amat menarik dan lucu.

Saat sekolah di SMP dulu Asep
tinggal di pondok pesantren Al Khoziny –yang didirikan oleh KH Abbas
Khozin. 

Ayahnyalah yang menitipkan Asep
kecil di situ. Sang ayah memang pernah lama di Jatim –berguru ke KH Wahab
Chasbullah yang juga salah satu pendiri NU.

Di pondok itu semua santri
masak sendiri –kecuali Asep. Itu karena Asep tidak punya bahan yang bisa
masak.

Tengah malam barulah Asep ke
dapur. Ia mencucikan tempat masak santri lainnya –yang biasanya digeletakkan
begitu saja tanpa dicuci. Tujuan lainnya: mendapatkan sisa nasi yang biasanya
tertinggal di dasar tempat tanak. Yakni nasi yang sudah jadi intip-kerak.

Semua alat masak temannya
bersih. Ia pun dapat makanan –sekali itu dalam sehari. 

Di pondok itu Asep belajar
kitab-kitab agama di malam hari. Pagi-pagi berjalan kaki ke SMPN 1 Sidoarjo
–sejauh sekitar 5 Km.

Asep juga hanya mempunyai satu
buku tulis –pelajaran apa pun ditulis di satu buku situ.

Gatot berteman akrab karena
satu bangku dengan Asep di pojok paling belakang.

Pun waktu keduanya meneruskan
sekolah di SMAN 1 Sidoarjo.

”Beliau itu pemberani. Waktu
main sepak bola satu-satunya yang tidak pakai sepatu. Beliau tidak takut
terinjak sepatu bola,” ujarnya.

Selama bersahabat, seingat
Gatot, hanya sekali bertengkar. Tapi seru sekali. Dan lama sekali.

Penyebabnya tidak sepele. Itu
terjadi waktu Gatot menulis cerita pendek. Tulisannya disalahkan oleh Asep.
Gatot tidak mau terima itu. 

Itu soal bunyi kokok ayam
jantan.

”Bunyi kokok ayam jantan kok
kukuruyuk,” ujar Asep seperti yang ditirukan Gatot. 

Waktu itu Gatot lagi
mendiskripsikan datangnya fajar pagi. Yang biasa ditandai dengan kokok ayam
jantan: kukuruyuuuuuuuk!

”Bunyi kokok ayam itu
kongkorongkoooong,” ujar Asep memberikan koreksi.

Pertengkaran pun terjadi.

Tidak pernah terselesaikan.

Lalu Asep berhenti sekolah di
kelas 2 SMA itu. Tidak ada lagi biaya setelah sang ayah meninggal dunia. Ia pun
pamit kepada kiai pondok Al Khoziny.

”Waktu itu beliau sudah pandai
matematika, bahasa Inggris dan bahasa Arab,” ujar Gatot.

Pamit ke mana?

Tidak tahu. Asep tidak punya
tujuan pasti hendak ke mana. Ia pun berjalan ke timur. Ke arah Lumajang. Lalu
Jember. Banyuwangi. Probolinggo. Akhirnya berhenti di Pasuruan. Ia mengajar
matematika di sebuah sekolah di pedesaan Pasuruan. 

Perjalanan itulah yang terpatri
dalam otak dan hatinya: saat melihat banyaknya pabrik PMA di sepanjang jalan.

Saat meninggalkan pondok dan
SMA Sidoarjo itu Asep hanya membawa satu tas. Isinya pun hanya dua stel baju
dan dua buku: kamus bahasa Inggris dan Arab.

Di Pasuruan itu Asep ikut ujian
persamaan SMA. Lulus. Lalu masuk IKIP Surabaya –jurusan bahasa Inggris.

Dengan bekal ijazah sarjana
muda Asep bisa mengajar lebih resmi. Lalu kuliah lagi di jurusan bahasa Inggris
di IKIP Malang. Sampai menjadi sarjana.

Baca Juga :  Anggota Tim Pemadam Karhutla Pingsan Saat Padamkan Kebakaran Lahan

Ia masih kuliah lagi di UIN
Sunan Ampel Surabaya. Untuk jurusan sastra Arab. Sampai sarjana muda.

Saat di Surabaya itu Asep
mendirikan pondok pesantren. Yakni di Siwalankerto –sekitar 2 Km dari UIN
Surabaya sekarang ini. 

Asep tahu untuk mendirikan
sekolah diperlukan syarat formal kesarjanaan. Ia pun kuliah S2 di Universitas
Islam Malang. Lalu S3 di Universitas Merdeka, juga di Malang. Dan kini Asep
menjadi Prof. DR. KH Asep Saifuddin Chalim.

Presiden Joko Widodo hadir di
acara pengukuhan Sabtu lalu. Saat menuju panggung Presiden Jokowi menghadap ke
senat guru besar dulu. Lalu membungkuk khusu’ memberi hormat. Demikian pula
setelah turun dari podium. Kembali menghadap senat dan kembali membungkuk
hormat. 

”Bapak Presiden Jokowi itu
orang sholeh,” ujar Kiai Asep saat memulai pidato. Waktu itu presiden belum
tiba di tempat penganugerahan. ”Tempat yang disinggahi orang sholeh akan
mendapat berkah,” tambahnya. 

Kiai Asep memang memegang peran
utama atas kemenangan telak Jokowi di Jatim. Padahal kalau suara di Jatim
imbang saja, Prabowo lah yang menjadi presiden sekarang ini.

Gatot sendiri berpisah total
dari Asep. Setamat SMA Gatot melamar kerja di kementerian keuangan. Ia
ditempatkan di kantor bendahara negara di Samarinda. 

Sebelas tahun Gatot di Kaltim.
Sambil kuliah ekonomi di Universitas Mulawarman. Di Samarinda pula ia menemukan
isterinya sekarang –anak orang Malang yang juga merantau ke Samarinda. 

Gatot lantas mendapat bea siswa
ke Amerika. Ia kuliah di University of Delaware di Newark. Lalu mendapat bea
siswa lagi untuk gelar doktor di Universitas Negeri Malang.

Setelah pensiun kini Gatot ikut
mengajar di Institute Abdul Chalim milik Asep.

Pertengkaran saat SMA pun
berakhir. Itu karena Gatot akhirnya tahu: di Jawa Barat bunyi kokok jago adalah
‘kongkorongkooong’. 

Gatot sama sekali tidak tahu
kalau Asep itu anak kelahiran Majalengka –anak kiai besar di sana. ”Selama di
SMA beliau menggunakan bahasa Jawa yang halus,” ujar Gatot. 

Saya ikut memberikan pidato
testimoni di forum penganugerahan itu. Saya ingat saat ingin salat subuh di
Pacet. Saya berangkat dari Surabaya jam 3 pagi. Tapi saat tiba di Amanatul
Ummah sudah agak telat: mendapat tempat salat di emperan masjid.

Habis salat Subuh tidak ada
yang keluar masjid. Diteruskan dengan kajian kitab kuning. Semua santri membuka
kitabnya. Saya ikut kitab santri di sebelah saya.

”Siapa yang mengajar itu,”
tanya saya kepada santri di sebelah saya.

”Beliaunya Kiai Asep,” jawab si
santri.

Oh… Inilah kunci sukses Kiai
Asep, kata saya dalam hati. Beliau total sekali dalam mengurus lembaga
pendidikannya. Termasuk masih mengajar sendiri untuk kajian tertentu.

Ternyata, tiap hari, Kiai Asep
berangkat dari pondoknya di Siwalankerto Surabaya ke Pacet.

Tiap pukul 02.30 pagi.

Tiap hari. (Dahlan Iskan)

 

Most Read

Artikel Terbaru

/