25.6 C
Jakarta
Thursday, April 3, 2025

Senyum Bagaikan Sendu

PROKALTENG.CO โ€“ Jam dinding tua di kamarku berbunyi hingga 13 kali,
siang itu tepat pukul 13.00 WIB, suara hiruk pikuk antara Ayah dan Ibu yang
juga belum usai. Aku terdiam bersembunyi di sebuah lemari, mencoba menahan
genangan air mata yang siap membasahi pipiku.

Aku memalingkan wajah ketika
telingaku berdengung mendengar kalimat yang sangat menyakitkan. Menghela napas
pelan, aku mengintip dari celah pintu lemari. Penglihatanku terpusat pada satu
titik. Lagi dan lagi aku hanya bisa diam, batinku meronta seakan ingin melerai
namun, aku harus melakukan apa?

Suara isak tangis memenuhi
seluruh ruangan. Tangisan yang pilu itu seakan berbicara, betapa marah dan
kecewanya sang perempuan. Mataku terpejam menyaksikan ibuku menangis. Tidak
tega melihatnya, air mataku ikut terjun bersama hatiku yang ikut terhanyut dalam
kesedihan.

Selang beberapa waktu dengan
langkah tergesa-gesa, lelaki tersebut menghampiri dan membuka pintu lemari lalu
menarik tanganku dengan genggaman kuat hingga memukul bagian tubuhku, rasanya
aku jadi pelampiasan emosi pertengkaran mereka. Tidak berhenti air mata ini
jatuh, mencoba mengontrol emosi yang memberontak ingin lari keluar.

รขโ‚ฌล“Sakitรขโ‚ฌยฆรขโ‚ฌยฆIbu tolong akuuu,รขโ‚ฌย aku
menjerit keras karena menahan kesakitan.

Ibu berusaha melepaskan tanganku
dari genggaman Ayah.

รขโ‚ฌล“Lepas Ayah jangan sakiti anakmu,
kasihan dia tidak tahu apa-apa,รขโ‚ฌย ibu memelas dan memohon kepada Ayah.

Setelah Ayah melepaskan
genggamannya. Aku pun berlari menuju ke kamar mandi, lalu mengunci pintu.
Kemudian Ayah datang mengetuk pintu kamar mandi.

Baca Juga :  Misteri Pulpen di Kusen Jendela

รขโ‚ฌล“Buka pintunya Dindaรขโ‚ฌยฆ..,รขโ‚ฌย Ayah
mendobrak pintu kamar mandi sebanyak 3 kali.

รขโ‚ฌล“buka pintunya!รขโ‚ฌย Ujar Ayah kedua
kali dengan nada tinggi.

รขโ‚ฌล“Aku tidak mauรขโ‚ฌยฆ Ayah jahat, Ayah
tidak punya perasaan,รขโ‚ฌย ujarku, menahan pintu dengan erat yang hampir saja
terbuka.

รขโ‚ฌล“Ayah pergi saja dari sini!
pergiiiรขโ‚ฌยฆpergiii,รขโ‚ฌย ujarku lagi dengan nada yang penuh kekeselan.

รขโ‚ฌล“Oke, baik Ayah akan pergi dari
dari sini dan tidak akan menemui kalian lagi,รขโ‚ฌย ayah pun begegas merapikan
pakaiannya ke dalam koper.

Lalu melangkahkan kakinya keluar
rumah. Terdengar deru suara motor sudah pergi meninggalkan pekarangan rumah.

Tak lama kemudian Ibu datang
mengetuk pintu pelan-pelan.

รขโ‚ฌล“Sayang buka pintunya nak, ini
Ibu,รขโ‚ฌย ujar Ibu dengan nada kelembutan.

รขโ‚ฌล“Dinda tidak akan mau buka pintu
sebelum ayah pergi,รขโ‚ฌย ujarku

รขโ‚ฌล“Dinda.

Ayah sudah tidak ada di rumah,
buka pintunya ya anak cantik,รขโ‚ฌย ujar Ibu dengan dengan penuh harapan supaya aku
keluar dari kamar mandi.

Dua menit kemudian, aku membuka
pintu tersebut lalu memeluk sang Ibu dengan air mata yang terus mengalir. Ibu
pun membalas pelukanku, mengusap air mata dan mengecup keningku.

รขโ‚ฌล“Jangan takut yah nak, Ibu selalu
ada buat Dinda,รขโ‚ฌย ujar Ibu

รขโ‚ฌล“Iya Bu, dan Dinda juga akan
selalu ada buat Ibu,รขโ‚ฌย ujar ku.

Di malam hari, aku dan Ibu duduk
di balkon menatap bulan dan bintang yang menghiasi langit begitu indah. Angin
yang berhembus kencang dengan secangkir kopi hangat menikmati indahnya
malam.Tiba-tiba datang seorang laki-laki berdiri memakai switer berwarna merah
membawa sebuah lembaran surat dan memberikan kepada Ibu.

Baca Juga :  Periodisasi Jabatan dan Ki Ageng Suryomentaram

รขโ‚ฌล“Ini surat perceraian kita,รขโ‚ฌย ujar
Ayah.

รขโ‚ฌล“Iya,รขโ‚ฌย jawab ibu yang begitu
singkat.

Aku yang tadinya senang
berbincang-bincang dengan Ibu, seketika langsung terpaku diam. Menatap kedua
mata kelam sang ayah. Ibu mengambil surat, lalu menandatangani surat perceraian
tersebut. Setelah itu Ayah pergi.

รขโ‚ฌล“Ibu sabar yah . Dibalik tragedi
ini pasti ada hikmahnya, serahkan semua pada yang maha kuasa,รขโ‚ฌย ujarku dengan
senyuman tipis pada Ibu.

รขโ‚ฌล“Iya sayang,รขโ‚ฌย ujar Ibu menatap ku
dengan senyuman tak kalah lebar.

Saat itu aku masih belum mengerti,
kenapa mereka bertengkar, yang kutahu mereka adalah orang tua yang saling
mencintai. Kalau tidak, kenapa mereka menikah? pikirku.

Semakin lama, aku semakin
menyadari, bahwa keretakan hubungan mereka berdua kerena kecemburuan Ayah
kepada Ibu. Dibalik semua pertengkaran, aku ingin mereka berdamai dan saling
mencintai lagi dan menyayangiku setulus hati.

Aku hanya ingin ketenangan dan
kedamaian di dalam rumah. Tanpa ada keributan, aku masih berharap mereka saling
cinta seperti sedia kala. Namun takdir berkata lain, Allah berkehendak diluar
permintaanku. (*)

(AMALIA SEPTYANI. Sekolah : SMAN
9 Makassar. Instagram :@kyutbet.ame)

PROKALTENG.CO โ€“ Jam dinding tua di kamarku berbunyi hingga 13 kali,
siang itu tepat pukul 13.00 WIB, suara hiruk pikuk antara Ayah dan Ibu yang
juga belum usai. Aku terdiam bersembunyi di sebuah lemari, mencoba menahan
genangan air mata yang siap membasahi pipiku.

Aku memalingkan wajah ketika
telingaku berdengung mendengar kalimat yang sangat menyakitkan. Menghela napas
pelan, aku mengintip dari celah pintu lemari. Penglihatanku terpusat pada satu
titik. Lagi dan lagi aku hanya bisa diam, batinku meronta seakan ingin melerai
namun, aku harus melakukan apa?

Suara isak tangis memenuhi
seluruh ruangan. Tangisan yang pilu itu seakan berbicara, betapa marah dan
kecewanya sang perempuan. Mataku terpejam menyaksikan ibuku menangis. Tidak
tega melihatnya, air mataku ikut terjun bersama hatiku yang ikut terhanyut dalam
kesedihan.

Selang beberapa waktu dengan
langkah tergesa-gesa, lelaki tersebut menghampiri dan membuka pintu lemari lalu
menarik tanganku dengan genggaman kuat hingga memukul bagian tubuhku, rasanya
aku jadi pelampiasan emosi pertengkaran mereka. Tidak berhenti air mata ini
jatuh, mencoba mengontrol emosi yang memberontak ingin lari keluar.

รขโ‚ฌล“Sakitรขโ‚ฌยฆรขโ‚ฌยฆIbu tolong akuuu,รขโ‚ฌย aku
menjerit keras karena menahan kesakitan.

Ibu berusaha melepaskan tanganku
dari genggaman Ayah.

รขโ‚ฌล“Lepas Ayah jangan sakiti anakmu,
kasihan dia tidak tahu apa-apa,รขโ‚ฌย ibu memelas dan memohon kepada Ayah.

Setelah Ayah melepaskan
genggamannya. Aku pun berlari menuju ke kamar mandi, lalu mengunci pintu.
Kemudian Ayah datang mengetuk pintu kamar mandi.

Baca Juga :  Misteri Pulpen di Kusen Jendela

รขโ‚ฌล“Buka pintunya Dindaรขโ‚ฌยฆ..,รขโ‚ฌย Ayah
mendobrak pintu kamar mandi sebanyak 3 kali.

รขโ‚ฌล“buka pintunya!รขโ‚ฌย Ujar Ayah kedua
kali dengan nada tinggi.

รขโ‚ฌล“Aku tidak mauรขโ‚ฌยฆ Ayah jahat, Ayah
tidak punya perasaan,รขโ‚ฌย ujarku, menahan pintu dengan erat yang hampir saja
terbuka.

รขโ‚ฌล“Ayah pergi saja dari sini!
pergiiiรขโ‚ฌยฆpergiii,รขโ‚ฌย ujarku lagi dengan nada yang penuh kekeselan.

รขโ‚ฌล“Oke, baik Ayah akan pergi dari
dari sini dan tidak akan menemui kalian lagi,รขโ‚ฌย ayah pun begegas merapikan
pakaiannya ke dalam koper.

Lalu melangkahkan kakinya keluar
rumah. Terdengar deru suara motor sudah pergi meninggalkan pekarangan rumah.

Tak lama kemudian Ibu datang
mengetuk pintu pelan-pelan.

รขโ‚ฌล“Sayang buka pintunya nak, ini
Ibu,รขโ‚ฌย ujar Ibu dengan nada kelembutan.

รขโ‚ฌล“Dinda tidak akan mau buka pintu
sebelum ayah pergi,รขโ‚ฌย ujarku

รขโ‚ฌล“Dinda.

Ayah sudah tidak ada di rumah,
buka pintunya ya anak cantik,รขโ‚ฌย ujar Ibu dengan dengan penuh harapan supaya aku
keluar dari kamar mandi.

Dua menit kemudian, aku membuka
pintu tersebut lalu memeluk sang Ibu dengan air mata yang terus mengalir. Ibu
pun membalas pelukanku, mengusap air mata dan mengecup keningku.

รขโ‚ฌล“Jangan takut yah nak, Ibu selalu
ada buat Dinda,รขโ‚ฌย ujar Ibu

รขโ‚ฌล“Iya Bu, dan Dinda juga akan
selalu ada buat Ibu,รขโ‚ฌย ujar ku.

Di malam hari, aku dan Ibu duduk
di balkon menatap bulan dan bintang yang menghiasi langit begitu indah. Angin
yang berhembus kencang dengan secangkir kopi hangat menikmati indahnya
malam.Tiba-tiba datang seorang laki-laki berdiri memakai switer berwarna merah
membawa sebuah lembaran surat dan memberikan kepada Ibu.

Baca Juga :  Periodisasi Jabatan dan Ki Ageng Suryomentaram

รขโ‚ฌล“Ini surat perceraian kita,รขโ‚ฌย ujar
Ayah.

รขโ‚ฌล“Iya,รขโ‚ฌย jawab ibu yang begitu
singkat.

Aku yang tadinya senang
berbincang-bincang dengan Ibu, seketika langsung terpaku diam. Menatap kedua
mata kelam sang ayah. Ibu mengambil surat, lalu menandatangani surat perceraian
tersebut. Setelah itu Ayah pergi.

รขโ‚ฌล“Ibu sabar yah . Dibalik tragedi
ini pasti ada hikmahnya, serahkan semua pada yang maha kuasa,รขโ‚ฌย ujarku dengan
senyuman tipis pada Ibu.

รขโ‚ฌล“Iya sayang,รขโ‚ฌย ujar Ibu menatap ku
dengan senyuman tak kalah lebar.

Saat itu aku masih belum mengerti,
kenapa mereka bertengkar, yang kutahu mereka adalah orang tua yang saling
mencintai. Kalau tidak, kenapa mereka menikah? pikirku.

Semakin lama, aku semakin
menyadari, bahwa keretakan hubungan mereka berdua kerena kecemburuan Ayah
kepada Ibu. Dibalik semua pertengkaran, aku ingin mereka berdamai dan saling
mencintai lagi dan menyayangiku setulus hati.

Aku hanya ingin ketenangan dan
kedamaian di dalam rumah. Tanpa ada keributan, aku masih berharap mereka saling
cinta seperti sedia kala. Namun takdir berkata lain, Allah berkehendak diluar
permintaanku. (*)

(AMALIA SEPTYANI. Sekolah : SMAN
9 Makassar. Instagram :@kyutbet.ame)

Terpopuler

Artikel Terbaru