PROKALTENG.CO โ Jam dinding tua di kamarku berbunyi hingga 13 kali,
siang itu tepat pukul 13.00 WIB, suara hiruk pikuk antara Ayah dan Ibu yang
juga belum usai. Aku terdiam bersembunyi di sebuah lemari, mencoba menahan
genangan air mata yang siap membasahi pipiku.
Aku memalingkan wajah ketika
telingaku berdengung mendengar kalimat yang sangat menyakitkan. Menghela napas
pelan, aku mengintip dari celah pintu lemari. Penglihatanku terpusat pada satu
titik. Lagi dan lagi aku hanya bisa diam, batinku meronta seakan ingin melerai
namun, aku harus melakukan apa?
Suara isak tangis memenuhi
seluruh ruangan. Tangisan yang pilu itu seakan berbicara, betapa marah dan
kecewanya sang perempuan. Mataku terpejam menyaksikan ibuku menangis. Tidak
tega melihatnya, air mataku ikut terjun bersama hatiku yang ikut terhanyut dalam
kesedihan.
Selang beberapa waktu dengan
langkah tergesa-gesa, lelaki tersebut menghampiri dan membuka pintu lemari lalu
menarik tanganku dengan genggaman kuat hingga memukul bagian tubuhku, rasanya
aku jadi pelampiasan emosi pertengkaran mereka. Tidak berhenti air mata ini
jatuh, mencoba mengontrol emosi yang memberontak ingin lari keluar.
รขโฌลSakitรขโฌยฆรขโฌยฆIbu tolong akuuu,รขโฌย aku
menjerit keras karena menahan kesakitan.
Ibu berusaha melepaskan tanganku
dari genggaman Ayah.
รขโฌลLepas Ayah jangan sakiti anakmu,
kasihan dia tidak tahu apa-apa,รขโฌย ibu memelas dan memohon kepada Ayah.
Setelah Ayah melepaskan
genggamannya. Aku pun berlari menuju ke kamar mandi, lalu mengunci pintu.
Kemudian Ayah datang mengetuk pintu kamar mandi.
รขโฌลBuka pintunya Dindaรขโฌยฆ..,รขโฌย Ayah
mendobrak pintu kamar mandi sebanyak 3 kali.
รขโฌลbuka pintunya!รขโฌย Ujar Ayah kedua
kali dengan nada tinggi.
รขโฌลAku tidak mauรขโฌยฆ Ayah jahat, Ayah
tidak punya perasaan,รขโฌย ujarku, menahan pintu dengan erat yang hampir saja
terbuka.
รขโฌลAyah pergi saja dari sini!
pergiiiรขโฌยฆpergiii,รขโฌย ujarku lagi dengan nada yang penuh kekeselan.
รขโฌลOke, baik Ayah akan pergi dari
dari sini dan tidak akan menemui kalian lagi,รขโฌย ayah pun begegas merapikan
pakaiannya ke dalam koper.
Lalu melangkahkan kakinya keluar
rumah. Terdengar deru suara motor sudah pergi meninggalkan pekarangan rumah.
Tak lama kemudian Ibu datang
mengetuk pintu pelan-pelan.
รขโฌลSayang buka pintunya nak, ini
Ibu,รขโฌย ujar Ibu dengan nada kelembutan.
รขโฌลDinda tidak akan mau buka pintu
sebelum ayah pergi,รขโฌย ujarku
รขโฌลDinda.
Ayah sudah tidak ada di rumah,
buka pintunya ya anak cantik,รขโฌย ujar Ibu dengan dengan penuh harapan supaya aku
keluar dari kamar mandi.
Dua menit kemudian, aku membuka
pintu tersebut lalu memeluk sang Ibu dengan air mata yang terus mengalir. Ibu
pun membalas pelukanku, mengusap air mata dan mengecup keningku.
รขโฌลJangan takut yah nak, Ibu selalu
ada buat Dinda,รขโฌย ujar Ibu
รขโฌลIya Bu, dan Dinda juga akan
selalu ada buat Ibu,รขโฌย ujar ku.
Di malam hari, aku dan Ibu duduk
di balkon menatap bulan dan bintang yang menghiasi langit begitu indah. Angin
yang berhembus kencang dengan secangkir kopi hangat menikmati indahnya
malam.Tiba-tiba datang seorang laki-laki berdiri memakai switer berwarna merah
membawa sebuah lembaran surat dan memberikan kepada Ibu.
รขโฌลIni surat perceraian kita,รขโฌย ujar
Ayah.
รขโฌลIya,รขโฌย jawab ibu yang begitu
singkat.
Aku yang tadinya senang
berbincang-bincang dengan Ibu, seketika langsung terpaku diam. Menatap kedua
mata kelam sang ayah. Ibu mengambil surat, lalu menandatangani surat perceraian
tersebut. Setelah itu Ayah pergi.
รขโฌลIbu sabar yah . Dibalik tragedi
ini pasti ada hikmahnya, serahkan semua pada yang maha kuasa,รขโฌย ujarku dengan
senyuman tipis pada Ibu.
รขโฌลIya sayang,รขโฌย ujar Ibu menatap ku
dengan senyuman tak kalah lebar.
Saat itu aku masih belum mengerti,
kenapa mereka bertengkar, yang kutahu mereka adalah orang tua yang saling
mencintai. Kalau tidak, kenapa mereka menikah? pikirku.
Semakin lama, aku semakin
menyadari, bahwa keretakan hubungan mereka berdua kerena kecemburuan Ayah
kepada Ibu. Dibalik semua pertengkaran, aku ingin mereka berdamai dan saling
mencintai lagi dan menyayangiku setulus hati.
Aku hanya ingin ketenangan dan
kedamaian di dalam rumah. Tanpa ada keributan, aku masih berharap mereka saling
cinta seperti sedia kala. Namun takdir berkata lain, Allah berkehendak diluar
permintaanku. (*)
(AMALIA SEPTYANI. Sekolah : SMAN
9 Makassar. Instagram :@kyutbet.ame)