Sopir taksi baru saja bertanya saya hendak diantar ke mana saat istri saya melalui sambungan telepon memberi tahu, di rumah sedang ada Paman Ali. Mendengar informasi itu, hati saya secara otomatis menyarankan agar saya lebih baik tidak pulang. ”Jalan saja dulu,” kata saya kepada sopir taksi.
Istri saya yang mendengar percakapan itu langsung menyahut di sambungan telepon agar saya segera pulang. Karena enggan berbantahan, saya mengiyakan.
Sebagai sesama makhluk hidup, sebenarnyalah saya tidak memiliki masalah apa pun dengan Paman Ali. Namun, sebagai manusia yang memiliki karakternya sendiri, sudah lama saya berkesimpulan bahwa saya lebih baik tidak berada di sekitarnya, dan dia lebih baik tidak ada di sekitar saya.
Paman Ali sebenarnya bukanlah benar-benar keluarga saya ataupun istri saya. Namun, orang tua dari istri sayalah yang memandangnya sebagai seorang alim yang dekat dengan Tuhan dan penuh dengan karamah sehingga keberadaannya di dunia ini seolah-olah jadi lebih istimewa.
Begitulah, Paman Ali menjadi guru spiritual keluarga istri saya, dan begitulah juga, saya yang tidak terlalu menikmati kedekatan-kedekatan karena ikatan spiritual seperti itu sering dibuat tidak nyaman dengan sosok Paman Ali yang memang terkadang suka melontarkan petuah-petuah.
Belakangan ketidaksukaan yang saya rasakan semakin bertambah setelah Paman Ali mendadak buta dan jatuh miskin. Memang kami sama-sama makhluk hidup, tapi orang buta miskin yang meyakini dirinya suci sungguh bukan sirkel saya.
”Kenapakah Paman Ali jadi buta?” tanya si sopir taksi.
Saya sedikit terkejut sopir taksi itu melontarkan pertanyaan balik. Saya bercerita hanya untuk menyalurkan kegundahan saya tanpa berpikir dia akan tertarik menanggapi, tapi rupanya dugaan saya salah.
”Setelah jatuh miskin, rumahnya pun sepertinya segera menunjukkan gejala-gejala kemiskinan itu. Genting-genting rumahnya retak dan pecah di beberapa tempat, dan salah satunya jatuh menimpa Paman Ali tepat di bagian matanya. Begitulah dia menjadi buta,” ujar saya, memuaskan rasa ingin tahu si sopir taksi.
”Sepertinya saya punya kenalan dengan cerita yang sama. Jangan-jangan Paman Ali yang Mas ceritakan sama dengan kenalan saya…” tanyanya lagi.
”Saya tidak tahu. Lihat saja sendiri nanti kalau kita sudah sampai,” balas saya.
”Kenalan saya itu, pernah ada cerita-cerita soal dia, katanya karena kedekatannya dengan Tuhan dia bisa melayang sedikit di atas tanah. Orang-orang yang hatinya putih bisa melihat itu…”
”Sepertinya orang yang berbeda,” balas saya tanpa pikir panjang. Setelah saya perhatikan, sopir taksi itu mungkin saja seumuran dengan Paman Ali: raut wajah mereka sedikit tidak menyiratkan tahun lahir yang sama.
Setelah sampai di tujuan, saya menawarkan si sopir taksi melihat bagaimana sosok Paman Ali yang saya ceritakan sepanjang perjalanan, tapi dia kemudian menolak dengan gaya, yang menurut saya, agak berlebihan. ”Saya sungkan,” katanya kepada saya sambil menangkupkan tangan dan sedikit membungkuk-bungkukkan diri, seolah-olah tawaran saya agar dirinya bertemu dan melihat Paman Ali punya makna yang lebih besar dari yang saya maksudkan. Sopir itu pun pamit pergi.
Taksi berlalu. Saya menutup gerbang, kemudian berjalan ke pintu masuk. Saya tidak ingat kapan kali terakhir langkah kaki saya terasa begitu berat untuk masuk ke rumah sendiri: barangkali perasaan ini bakal jadi kenangan yang diam cukup lama, sampai kedatangan Paman Ali selanjutnya.
Kalau dipikir-pikir, belum ada manusia lain yang saya temui sepanjang hidup saya yang membuat saya merasa tidak nyaman seperti Paman Ali. Keluarga istri saya, misalnya, memang menunjukkan gejala-gejala keluarga religius dari cara mereka bertutur dan bertindak, tapi tidak sampai membuat saya jengah. Mereka masih memercayai bahwa keimanan adalah urusan masing-masing, meski sering menyarankan ini itu yang dirasanya lebih baik.
Pernikahan dengan istri saya pun tidak menjadi beban bagi karakter saya karena hal itu: meski saya hanya beribadah sekadarnya untuk mempertahankan hubungan sosial yang diperlukan, istri saya yang mengetahui itu tidak menuntut lebih. Tidak juga menilai kalau cara saya beribadah akan dilihat lebih rendah dibanding orang lain di mata Tuhan. Kecuali itu, barangkali kecantikan istri sayalah yang begitu memikat saya.
Alat yang akan mengembalikan pertumbuhan rambut hingga 100%! Rambut akan kembali tumbuh tebal dengan
Begitu saya masuk ke rumah, istri saya sedang berjalan mendekati pintu, bersiap-siap keluar. ”Sudah pulang, ada Paman Ali di ruang tengah. Temani ya,” katanya kepada saya.
”Mau ke mana?” tanya saya.
”Paman Ali lapar, saya belikan makan dulu.”
”Belikan juga untuk saya,” balas saya. Sebenarnya saya sudah makan, tapi entah kenapa ide tentang istri saya keluar membeli makan hanya untuk Paman Ali mengusik hati saya.
Setelah istri saya pergi, saya tidak langsung ke ruang tengah, melainkan pergi membasuh badan dan berganti pakaian terlebih dahulu. Saya kemudian berbaring dan memikirkan kembali rasa tidak suka saya kepada Paman Ali.
Rasanya saya bisa melakukan lebih banyak hal sebelum menghabiskan waktu menemani orang buta yang hendak menginap di rumah kami itu. Lagi pula, entah dari mana awalnya, saya merasa orang buta punya banyak kesabaran untuk menunggu lebih lama.
Jika bukan karena suara sesuatu terjatuh, barangkali saya tidak akan menghambur ke ruang tengah. Kecuali Paman Ali, saya baru tersadar ada beberapa hal yang saya khawatirkan terjatuh di ruangan itu. Ketakutan yang tiba-tiba menyodok kesadaran saya soal kenyataan bahwa di ruangan itu sedang ada orang buta, terlepas orang itu Paman Ali atau bukan.
Begitu mengetahui Paman Ali yang terjatuh, saya sedikit lega.
”Benjor? Benjor? Itu kamu ya, di sana….” tanya Paman Ali sambil merangkak di lantai, mencari-cari tongkatnya. Pastilah dia mendengar suara saya berlari dari dalam kamar ke ruang tengah. ”Tolong ambilkan tongkat saya,” lanjut Paman Ali.
Saya mengambil tongkat yang terjatuh itu dan meletakkannya di tangan Paman Ali. Dia kemudian memakai kesempatan itu untuk memegang-megang tangan saya dan menceritakan alasannya terjatuh tanpa saya tanya. ”Rupanya rumah ini masih sempit,” lanjutnya, sambil masih memegang-megang tangan saya.
”Rupanya istri saya belum mengajak paman berkeliling rumah,” ujar saya. Entah kenapa, kesimpulan serampangan dari Paman Ali soal luas ruang tengah saya itu membuat saya ingin mencabut bola matanya agar dia menjadi lebih buta lagi.
Memang, Paman Ali mengalami kebutaan tidak berselang lama setelah dirinya pantas diberikan predikat miskin. Bahkan kemungkinan besar, saat mengalami kebutaan itu sebenarnyalah Paman Ali belum merasa miskin sehingga dirasanya kemiskinannya saat ini berbeda dari kemiskinan-kemiskinan lain di luar sana. Karena itu, pastilah dia masih merasa lebih kaya daripada saya.
Sering saya mendengar cerita, Paman Ali masih yakin salah satu muridnya yang dipercaya mendaftarkan hartanya untuk satu investasi yang tidak jelas itu akan mengembalikan beberapa harta yang tersisa kepadanya. Tahun-tahun berlalu, dan si murid tidak juga tampak batang hidungnya. Keluarga istri saya pun menyimpulkan apa yang dialami Paman Ali sebagai musibah yang biasa didapat orang-orang baik, meski saya sendiri menyimpulkan, itulah yang pantas disebut nasib sial karena kebodohan. Dan orang bodoh itulah yang sedang terjatuh di ruang tengah saya sekarang.
”Paman mau menginap di sini beberapa hari kalau boleh, tapi apa kamarnya cukup?” tanya Paman Ali.
”Sudah lama sekali paman tidak mampir. Rumah ini sudah saya renovasi, sekarang ada lantai dua. Cukup menampung bahkan sampai empat orang buta.” Saya ingin mengatakan itu, tapi masih bisa menahan diri. Alih-alih, saya katakan ”mau ke lantai dua? Sekarang ada lantai dua dan ada kamar di sana…”
”Oh, sudah ada lantai dua?”
”Tentu-tentu. Mari kita naik. Paman juga bisa tidur di kamar di atas nanti,” ujar saya.
”Nanti saya terjatuh…”
”Saya tuntun. Percaya sama saya, Paman…” balas saya.
Kami berjalan, menaiki anak tangga ke lantai dua. ”Hati-hati…. hati-hati… Nanti saya jatuh,” kata Paman Ali beberapa kali, seraya kami berjalan menaiki tangga. Saya tidak berkata lain selain memintanya berjalan dengan rasa percaya. Seharusnya dia mahir dalam hal itu, tapi terkadang beginilah sikapnya jika ada di dekat saya: penuh kehati-hatian dan rasa curiga, padahal saya bukan murid yang melarikan hartanya.
Kami pun berjalan, menapak tangga satu per satu. Sempat Paman Ali tersandung, meski tidak sampai tersungkur. Cara tersandungnya pun terasa aneh, sampai membuat saya teringat cerita si sopir taksi soal kenalannya. Meski begitu, saya yakin Paman Ali dan kenalan si sopir taksi pastilah orang yang berbeda. ”Hati-hati, Paman… Saya tuntun supaya tidak tersandung lagi,” kata saya.
Sesampainya di atas saya menjelaskan sedikit ke Paman Ali tentang ruangan-ruangan yang ada, dan mencoba menggambarkan seberapa besar ukuran jendela kami, dan pemandangan apa yang bisa dilihat dari sana.
”Coba di sini, coba berdiri…” ujar saya, sambil mengarahkan Paman Ali tepat ke depan jendela di lantai dua. Saya membuka jendela itu, dan angin yang cukup kencang berembus. ”Majulah selangkah,” lanjut saya sambil masih membimbing Paman Ali.
”Begini?”
”Tentu… tentu… selangkah lagi. Ya, benar. Pas. Berdirilah di sini. Dari sini pemandangannya paling bagus,” ujar saya.
”Saya buta, tidak bisa melihat pemandangan itu…” balas Paman Ali
”Bayangkanlah. Sungguh, pemandangan indah ini mahakuasa Tuhan.”
”Begitukah?”
”Tentu… Paman bisa bayangkan pemandangannya,” lanjut saya.
Saya dan Paman Ali pun bersama-sama menghadap jendela. Paman Ali diam saja, mungkin sedang membayangkan pemandangan yang saya ceritakan, sedangkan saya memikirkan kapankah beranda di depan jendela itu bisa saya pasangkan terali.
Tentu saya tidak menceritakan bagian tanpa terali itu kepada Paman Ali. Ingin rasanya saya melihat, pilihan apa yang akan dibuatnya. Setelah sama-sama diam beberapa saat, saya memintanya maju selangkah dua langkah lagi, dengan alasan pemandangannya akan terlihat lebih sempurna jika begitu.
Bisa saja dia berjalan maju, seperti tuntunan saya. Bisa juga dia menaruh curiga, seperti sikap yang kadang-kadang ditunjukkannya kepada saya selama ini. Bisa saja dia terjatuh dari beranda itu, atau bisa saja dia melayang-layang sedikit di atas tanah seperti kenalan si sopir taksi. Mungkin saja Paman Ali memang orang suci, mungkin juga hati saya yang hitam. Apa pun itu, rasanya bukan hal penting untuk saya renung-renungkan. Saya tidak peduli. Sungguh, saya tidak peduli. (*)
*) Bayu Pratama, Bermukim di Mataram. Sehari-hari bekerja di salah satu portal berita lokal dan bergiat di Komunitas Akarpohon.