29.8 C
Jakarta
Tuesday, February 27, 2024

Perspektif Seorang Prancis di Tanah Jajahan Belanda

Beberapa surat panjang Louis-Charles Damais kepada Claire Holt menuturkan gebalau keadaan di medan pertarungan di Hindia Belanda, baik secara fisik maupun diplomasi.

SELAIN informasi berharga tentang kecamuk revolusi Indonesia 1945–1947, korespondensi yang terekam dalam buku ini menyiratkan kegelisahan akan esensi dan urgensi hadirnya bangsa-bangsa dunia yang bebas merdeka. Sebuah catatan sejarah yang masih relevan direfleksikan sampai hari ini.

Terpisahkan bertahun lamanya, Louis Charles Damais (selanjutnya disingkat LCD) melayangkan surat pertamanya kepada kolega masa silam, Claire Holt, seorang peneliti yang sejak 1940 tak dapat lagi menginjakkan kaki ke Indonesia lantaran kecamuk Perang Dunia II.

Tertanggal 27 September 1945, surat itu melintas jarak dari Jakarta ke New York, mengisahkan kabar kematian Willem Frederik Stutterheim, sang pakar arkeologi dan epigrafi –sosok yang menjadi pintu masuk persahabatan LCD dan Holt.

Seiring waktu, surat-menyurat itu berkembang menjadi deskripsi informasi tentang situasi di Jakarta setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia. Korespondensi ini ditemukan pada tahun 1995–1996, di antara sejumlah besar arsip LCD yang disimpan oleh putranya, Soedarmadji Damais, direktur Museum Sejarah Jakarta saat itu.

Tidaklah berlebihan jika penyunting buku ini, Jean-Pascal Elbaz, mengungkapkan bahwa LCD menjadi penyaksi aneka kejadian, di antaranya yang tragis dan mengguncang Jakarta. Beberapa surat panjang menuturkan gebalau keadaan di medan pertarungan fisik dan diplomasi –yang agaknya berupa refleksi atas liputan-liputan media bacaannya.

Di sana-sini, kita menemukan pertanyaan seputar ironi sikap komunitas bangsa dunia, termasuk PBB yang diyakininya mesti berpihak bagi Indonesia yang sedang memperjuangkan kemerdekaannya.

Siapakah Louis-Charles Damais?

Mula-mula dia datang ke Hindia Belanda dengan beasiswa misi ilmiah Kementerian Pendidikan Prancis untuk mempelajari bahasa, sastra, dan peradaban Jawa serta Melayu. Diperkenalkan kali pertama kepada Claire Holt oleh Konsul Jenderal Prancis di Batavia pada 16 Juli 1937, LCD makin getol mempelajari gamelan, termasuk memainkan berbagai instrumen musiknya. Di Solo dan Jogjakarta, dia memasuki dunia tradisi seni keraton dan wayang kulit.

Baca Juga :  Agama Arkeolog

Pada 1938, dia ditawari menjadi pejabat wakil konsul Prancis. Dan, ketika yang berwenang telah tiba di Hindia Belanda, LCD menjadi atase Konsulat Jenderal Prancis.

Sekitar 1940, LCD secara teratur menemui Stutterheim yang kala itu menjabat kepala Dinas Arkeologi Hindia Belanda, seorang peneliti yang juga kekasih Claire Holt. Bersama Stutterheim, dia melakukan misi kunjungan ke situs-situs purbakala di Jawa dan Bali. Belakangan, pada akhir 1941, LCD bergabung sebagai asisten epigrafis di dinas arkeologi.

Namun, kerja sama mereka hanya seumur jagung. Masuknya Jepang ke Batavia membuat dinas ini tutup pada 1 Maret 1942. Setelah ditahan di kamp konsentrasi khusus orang Belanda, Stutterheim meninggal akibat serangan tumor otak pada 11 September 1942.

Perspektif Seorang ”Pinggiran”

Kewarganegaraan LCD sebagai seorang Prancis di tanah Hindia Belanda memberikan posisi yang menarik, terutama semasa pendudukan Jepang. Berbeda dengan warga Belanda, LCD tidak ditahan. Tetapi, inilah kesempatannya menjadi penyaksi atas sekian peristiwa.

Surat-surat LCD menerangkan pertemuannya dengan banyak kalangan, baik dari militer maupun sipil, yang mengisahkan kepadanya kejadian-kejadian tragis di Jakarta dan sekitarnya, bersumber dari ego kuasa Belanda atas bekas tanah jajahannya. LCD masih memperoleh akses bacaan berbagai media, semisal Koran Merdeka, Ra’jat, Independent, Het Inzicht, Ma’moer, Pembangoenan, Pembaroean, dan lain-lain.

Kesan kedekatan LCD dengan kaum nasionalis dalam Kabinet Sjahrir dan mereka yang mendukung pihak Belanda juga kentara. Sepertinya, LCD ingin memosisikan diri netral dan tidak berpihak.

Barangkali ini karena dia menyadari bahwa Holt saat itu tengah bekerja sebagai penanggung jawab penelitian dan analisis untuk Divisi Timur Jauh Office Strategic Services (OSS), sebuah lembaga yang kelak berganti nama menjadi Central Intelligence Agency (CIA). Lagi pula, meskipun terjadi korespondensi, proporsi jumlah surat dari LCD jauh lebih banyak daripada Holt.

Seberapa sahih kita dapat memercayai tuturan seorang yang sepintas seperti berada di dua kaki ini? Terlebih ada yang cukup mengejutkan: dalam salah satu surat LCD mengirimkan riwayat pendidikannya sebagai lampiran lamaran kerja ke PBB.

Baca Juga :  Ginjal Duoria

Meskipun dia terangkan ini murni motif pribadi, keputusan LCD tersebut mengundang tanda tanya. Apakah tujuan dari semua deskripsi terperinci dalam korespondensi itu betul-betul untuk bertukar kabar, ataukah terselubung maksud lain? Kiranya itu akan terjawab bila kita membaca buku ini.

Terlepas dari tafsir motif korespondensi ini, sudut pandang LCD secara jelas mendukung jalan perjuangan diplomasi. Dia memandang perjuangan revolusi fisik selalu penuh ironi dan tidak akan membuahkan apa pun.

Surat tertanggal 2 Januari 1946 menggambarkan ketertarikan sekaligus pesimismenya pada proses-proses perundingan yang berlangsung. Termasuk mengutip sebuah siaran di koran De Propeller bahwa Konferensi Meja Bundar yang akan berlangsung tidak akan menuai kabar gembira bagi Indonesia.

 

Dia memang kecewa melihat proses-proses diplomasi itu. Menyitir surat tanggal 22 Desember 1946, ”Saya tahu kejujuran tidak pernah menjadi ciri dunia politik, tapi tanah-tanah jajahan harus merdeka demi melepaskan kerumitan yang tak terhindarkan dalam pemerintahan colonial dan sama sekali tidak berguna mengharapkan negara-negara yang berkuasa, Prancis, Inggris, atau Belanda, akan dengan tulus membantu bangsa-bangsa yang ’tergantung’ untuk membebaskan diri dari rasa hina yang tak wajar tersebut.”

Bagi para peneliti sejarah, tuturan peristiwa dalam surat amatlah menarik ditelusuri, sebagaimana juga alam pikir LCD yang mewakili kalangan ”pinggiran”, dalam hal ini warga Prancis yang seakan berada di luar pusaran konflik. Dengan segala kurang lebihnya, LCD mencoba memetakan situasi politik pada masa revolusi yang krusial seraya di sana-sini melakukan refleksi atas kenyataan berbangsa. (*)

Judul buku: Surat-menyurat Louis-Charles Damais–Claire Holt 1945–1947, Revolusi Indonesia di Mata Seorang Ilmuwan Prancis

Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia

Editor: Jean-Pascal Elbaz

Tahun: Desember 2023

Cetakan: Pertama

Jumlah: 393 halaman

*) NI MADE PURNAMA SARI, Lahir di Bali, 22 Maret 1989. Buku puisi pertamanya, Bali–Borneo, meraih Buku Puisi Pilihan Anugerah Hari Puisi Indonesia 2014 dari Yayasan Sagang dan Indopos.

Beberapa surat panjang Louis-Charles Damais kepada Claire Holt menuturkan gebalau keadaan di medan pertarungan di Hindia Belanda, baik secara fisik maupun diplomasi.

SELAIN informasi berharga tentang kecamuk revolusi Indonesia 1945–1947, korespondensi yang terekam dalam buku ini menyiratkan kegelisahan akan esensi dan urgensi hadirnya bangsa-bangsa dunia yang bebas merdeka. Sebuah catatan sejarah yang masih relevan direfleksikan sampai hari ini.

Terpisahkan bertahun lamanya, Louis Charles Damais (selanjutnya disingkat LCD) melayangkan surat pertamanya kepada kolega masa silam, Claire Holt, seorang peneliti yang sejak 1940 tak dapat lagi menginjakkan kaki ke Indonesia lantaran kecamuk Perang Dunia II.

Tertanggal 27 September 1945, surat itu melintas jarak dari Jakarta ke New York, mengisahkan kabar kematian Willem Frederik Stutterheim, sang pakar arkeologi dan epigrafi –sosok yang menjadi pintu masuk persahabatan LCD dan Holt.

Seiring waktu, surat-menyurat itu berkembang menjadi deskripsi informasi tentang situasi di Jakarta setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia. Korespondensi ini ditemukan pada tahun 1995–1996, di antara sejumlah besar arsip LCD yang disimpan oleh putranya, Soedarmadji Damais, direktur Museum Sejarah Jakarta saat itu.

Tidaklah berlebihan jika penyunting buku ini, Jean-Pascal Elbaz, mengungkapkan bahwa LCD menjadi penyaksi aneka kejadian, di antaranya yang tragis dan mengguncang Jakarta. Beberapa surat panjang menuturkan gebalau keadaan di medan pertarungan fisik dan diplomasi –yang agaknya berupa refleksi atas liputan-liputan media bacaannya.

Di sana-sini, kita menemukan pertanyaan seputar ironi sikap komunitas bangsa dunia, termasuk PBB yang diyakininya mesti berpihak bagi Indonesia yang sedang memperjuangkan kemerdekaannya.

Siapakah Louis-Charles Damais?

Mula-mula dia datang ke Hindia Belanda dengan beasiswa misi ilmiah Kementerian Pendidikan Prancis untuk mempelajari bahasa, sastra, dan peradaban Jawa serta Melayu. Diperkenalkan kali pertama kepada Claire Holt oleh Konsul Jenderal Prancis di Batavia pada 16 Juli 1937, LCD makin getol mempelajari gamelan, termasuk memainkan berbagai instrumen musiknya. Di Solo dan Jogjakarta, dia memasuki dunia tradisi seni keraton dan wayang kulit.

Baca Juga :  Agama Arkeolog

Pada 1938, dia ditawari menjadi pejabat wakil konsul Prancis. Dan, ketika yang berwenang telah tiba di Hindia Belanda, LCD menjadi atase Konsulat Jenderal Prancis.

Sekitar 1940, LCD secara teratur menemui Stutterheim yang kala itu menjabat kepala Dinas Arkeologi Hindia Belanda, seorang peneliti yang juga kekasih Claire Holt. Bersama Stutterheim, dia melakukan misi kunjungan ke situs-situs purbakala di Jawa dan Bali. Belakangan, pada akhir 1941, LCD bergabung sebagai asisten epigrafis di dinas arkeologi.

Namun, kerja sama mereka hanya seumur jagung. Masuknya Jepang ke Batavia membuat dinas ini tutup pada 1 Maret 1942. Setelah ditahan di kamp konsentrasi khusus orang Belanda, Stutterheim meninggal akibat serangan tumor otak pada 11 September 1942.

Perspektif Seorang ”Pinggiran”

Kewarganegaraan LCD sebagai seorang Prancis di tanah Hindia Belanda memberikan posisi yang menarik, terutama semasa pendudukan Jepang. Berbeda dengan warga Belanda, LCD tidak ditahan. Tetapi, inilah kesempatannya menjadi penyaksi atas sekian peristiwa.

Surat-surat LCD menerangkan pertemuannya dengan banyak kalangan, baik dari militer maupun sipil, yang mengisahkan kepadanya kejadian-kejadian tragis di Jakarta dan sekitarnya, bersumber dari ego kuasa Belanda atas bekas tanah jajahannya. LCD masih memperoleh akses bacaan berbagai media, semisal Koran Merdeka, Ra’jat, Independent, Het Inzicht, Ma’moer, Pembangoenan, Pembaroean, dan lain-lain.

Kesan kedekatan LCD dengan kaum nasionalis dalam Kabinet Sjahrir dan mereka yang mendukung pihak Belanda juga kentara. Sepertinya, LCD ingin memosisikan diri netral dan tidak berpihak.

Barangkali ini karena dia menyadari bahwa Holt saat itu tengah bekerja sebagai penanggung jawab penelitian dan analisis untuk Divisi Timur Jauh Office Strategic Services (OSS), sebuah lembaga yang kelak berganti nama menjadi Central Intelligence Agency (CIA). Lagi pula, meskipun terjadi korespondensi, proporsi jumlah surat dari LCD jauh lebih banyak daripada Holt.

Seberapa sahih kita dapat memercayai tuturan seorang yang sepintas seperti berada di dua kaki ini? Terlebih ada yang cukup mengejutkan: dalam salah satu surat LCD mengirimkan riwayat pendidikannya sebagai lampiran lamaran kerja ke PBB.

Baca Juga :  Ginjal Duoria

Meskipun dia terangkan ini murni motif pribadi, keputusan LCD tersebut mengundang tanda tanya. Apakah tujuan dari semua deskripsi terperinci dalam korespondensi itu betul-betul untuk bertukar kabar, ataukah terselubung maksud lain? Kiranya itu akan terjawab bila kita membaca buku ini.

Terlepas dari tafsir motif korespondensi ini, sudut pandang LCD secara jelas mendukung jalan perjuangan diplomasi. Dia memandang perjuangan revolusi fisik selalu penuh ironi dan tidak akan membuahkan apa pun.

Surat tertanggal 2 Januari 1946 menggambarkan ketertarikan sekaligus pesimismenya pada proses-proses perundingan yang berlangsung. Termasuk mengutip sebuah siaran di koran De Propeller bahwa Konferensi Meja Bundar yang akan berlangsung tidak akan menuai kabar gembira bagi Indonesia.

 

Dia memang kecewa melihat proses-proses diplomasi itu. Menyitir surat tanggal 22 Desember 1946, ”Saya tahu kejujuran tidak pernah menjadi ciri dunia politik, tapi tanah-tanah jajahan harus merdeka demi melepaskan kerumitan yang tak terhindarkan dalam pemerintahan colonial dan sama sekali tidak berguna mengharapkan negara-negara yang berkuasa, Prancis, Inggris, atau Belanda, akan dengan tulus membantu bangsa-bangsa yang ’tergantung’ untuk membebaskan diri dari rasa hina yang tak wajar tersebut.”

Bagi para peneliti sejarah, tuturan peristiwa dalam surat amatlah menarik ditelusuri, sebagaimana juga alam pikir LCD yang mewakili kalangan ”pinggiran”, dalam hal ini warga Prancis yang seakan berada di luar pusaran konflik. Dengan segala kurang lebihnya, LCD mencoba memetakan situasi politik pada masa revolusi yang krusial seraya di sana-sini melakukan refleksi atas kenyataan berbangsa. (*)

Judul buku: Surat-menyurat Louis-Charles Damais–Claire Holt 1945–1947, Revolusi Indonesia di Mata Seorang Ilmuwan Prancis

Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia

Editor: Jean-Pascal Elbaz

Tahun: Desember 2023

Cetakan: Pertama

Jumlah: 393 halaman

*) NI MADE PURNAMA SARI, Lahir di Bali, 22 Maret 1989. Buku puisi pertamanya, Bali–Borneo, meraih Buku Puisi Pilihan Anugerah Hari Puisi Indonesia 2014 dari Yayasan Sagang dan Indopos.

Terpopuler

Artikel Terbaru