30.3 C
Jakarta
Monday, April 22, 2024

Suksesi-Suksesi

 

ILUSTRASI (BUDIONO/JAWA POS)

Suksesi-Suksesi

Kekuasaan –yang sebenarnya tak kokoh

dan gampang terusik– sedang dibangun!

Artinya, perang baru dimulai:

raja yang zalim

perlawanan yang laten

kembali bertemu, kembali berseteru.

Takhta yang terikat kain cinde sutra

tak sepenuhnya dipercaya vasal dan sekutu.

Wahyu, wanita, putra mahkota, dan kudeta;

gempa bumi, gunung meletus, gerhana bulan,

serta hujan turun bukan pada musimnya

mengingatkan kalau bangsa ini

tak lihai perang, tak pandai dagang,

dan tak mungkin menepati janji!

Di cepuri sang raja berdiri

memegang tombak, menyaksikan

tembok-tembok istana porak-poranda.

Di luar baluwarti, riuh rendah tembakan

berselang-seling dengan deru tambur

dan teriakan para prajurit

yang tak bisa kabur

Baca Juga :  Mengerem Syahwat Kekuasaan

yang gugur tanpa kubur.

Daerah-daerah pesisir diiris garis

atas nama balas budi kepada bandar-bandar

kepada saudagar-saudagar dari negeri seberang,

menyisakan noktah darah pada selembar peta.

Kronik kerajaan digubah,

perjanjian-perjanjian diteken,

istana dipindah-diperluas dihias-hias

tapi, tak ada satu pun suara yang direken!

Jogja, 2024

Mataram! Sekali Lagi, Mataram!

Yang bernaung di bawah pohon

sawo itu, bukanlah ujung benteng cepuri,

melainkan reruntuhan cerita setelah konon…

Mataram! Sekali lagi, Mataram!

Sejarah berjalan ke sebuah gandar

dari syak wasangka yang mulia

–yang dirahasiakan;

tentang sumpah sepata, atau jalan melingkar,

atau setelah itu…

Kosong yang diberi nama

singgasana, kemasyhuran, tetes darah,

juga dendam, juga cinta!

Jogja, 2021–2023

Baca Juga :  Memanggil Roh Singa

Wahyu Gagak Emprit

Ana degan neng ndhuwur paga…

Ada adegan di atas dipan…

Di mata Ki Ageng Giring, nasib –atau asumsi

tak punya rumus. Tapi, siang itu,

ia sungguh-sungguh terpuruk dan terjerumus.

Kerongkongannya kering. Kata-katanya tercekat.

’’Berikan padaku takhta ketujuh!”.

Di mata Ki Ageng Pamanahan, Mataram!

Sekali lagi, Mataram! Dewa-dewa

telah digantikan pahlawan-pahlawan

–juga siasat

para pengkhianat!

Jogja, 2024

LATIEF S. NUGRAHA, Lahir di Kulon Progo pada 1989. Ia bergiat di Gawe Institut yang salah satunya memproduksi tayangan YouTube di kanal Creatief. Buku kumpulan puisinya yang telah terbit adalah Menoreh Rumah Terpendam (2016) dan Pada Suatu Hari yang Mungkin Tak Sebenarnya Terjadi (2020).

 

ILUSTRASI (BUDIONO/JAWA POS)

Suksesi-Suksesi

Kekuasaan –yang sebenarnya tak kokoh

dan gampang terusik– sedang dibangun!

Artinya, perang baru dimulai:

raja yang zalim

perlawanan yang laten

kembali bertemu, kembali berseteru.

Takhta yang terikat kain cinde sutra

tak sepenuhnya dipercaya vasal dan sekutu.

Wahyu, wanita, putra mahkota, dan kudeta;

gempa bumi, gunung meletus, gerhana bulan,

serta hujan turun bukan pada musimnya

mengingatkan kalau bangsa ini

tak lihai perang, tak pandai dagang,

dan tak mungkin menepati janji!

Di cepuri sang raja berdiri

memegang tombak, menyaksikan

tembok-tembok istana porak-poranda.

Di luar baluwarti, riuh rendah tembakan

berselang-seling dengan deru tambur

dan teriakan para prajurit

yang tak bisa kabur

Baca Juga :  Mengerem Syahwat Kekuasaan

yang gugur tanpa kubur.

Daerah-daerah pesisir diiris garis

atas nama balas budi kepada bandar-bandar

kepada saudagar-saudagar dari negeri seberang,

menyisakan noktah darah pada selembar peta.

Kronik kerajaan digubah,

perjanjian-perjanjian diteken,

istana dipindah-diperluas dihias-hias

tapi, tak ada satu pun suara yang direken!

Jogja, 2024

Mataram! Sekali Lagi, Mataram!

Yang bernaung di bawah pohon

sawo itu, bukanlah ujung benteng cepuri,

melainkan reruntuhan cerita setelah konon…

Mataram! Sekali lagi, Mataram!

Sejarah berjalan ke sebuah gandar

dari syak wasangka yang mulia

–yang dirahasiakan;

tentang sumpah sepata, atau jalan melingkar,

atau setelah itu…

Kosong yang diberi nama

singgasana, kemasyhuran, tetes darah,

juga dendam, juga cinta!

Jogja, 2021–2023

Baca Juga :  Memanggil Roh Singa

Wahyu Gagak Emprit

Ana degan neng ndhuwur paga…

Ada adegan di atas dipan…

Di mata Ki Ageng Giring, nasib –atau asumsi

tak punya rumus. Tapi, siang itu,

ia sungguh-sungguh terpuruk dan terjerumus.

Kerongkongannya kering. Kata-katanya tercekat.

’’Berikan padaku takhta ketujuh!”.

Di mata Ki Ageng Pamanahan, Mataram!

Sekali lagi, Mataram! Dewa-dewa

telah digantikan pahlawan-pahlawan

–juga siasat

para pengkhianat!

Jogja, 2024

LATIEF S. NUGRAHA, Lahir di Kulon Progo pada 1989. Ia bergiat di Gawe Institut yang salah satunya memproduksi tayangan YouTube di kanal Creatief. Buku kumpulan puisinya yang telah terbit adalah Menoreh Rumah Terpendam (2016) dan Pada Suatu Hari yang Mungkin Tak Sebenarnya Terjadi (2020).

Terpopuler

Artikel Terbaru