24.5 C
Jakarta
Monday, April 7, 2025

Angin Muher

Du’a Limek tengah menjerang air ketika angin muher yang kejam mengetuk ubun-ubun rumahnya. Rumah setengah bata merah berdinding kayu itu terguncang bagai ayunan. Tetapi, Du’a Limek terus menatapi tungku api. Butiran keringat mengucur dari keningnya. Debu kelabu terbang mengangkut sisa-sisa arang. Ia tak beranjak keluar.

ANGIN itu muncul dari hutan seluas lautan di belakang rumahnya. Sebagian hutan telah kena babat dan menyisakan pohon-pohon besar yang menunggu alat berat. Mulanya angin muher melingkari cecabang pepohonan itu, tetapi kemudian menerjang ke tengah perkampungan. Kutukan leluhur, perempuan itu membatin.

Sebelumnya, dia telah memperingatkan orang-orang kampung agar menolak pembukaan hutan. Ketika itu mereka berkumpul di pelataran kapela untuk menyambut utusan misi. Du’a Limek mengatakan itu tanah komunal karena ada tanda dari puaknya. Tetapi, para pemangku adat membantahnya mentah-mentah. ”Hukum itu tidak lagi berlaku,” ketus seorang tana pu’an.

”Saya tetap punya hak,” Du’a Limek menantangnya.

”Kau tidak mendukung gereja?”

”Hutan itu milik leluhur.”

pesan suaminya, seorang kapitan yang pada akhir hidupnya membangkang Belanda. Bahwa tanah-tanah di kampung tidak boleh diserahkan kepada siapa pun. Berbulan-bulan suaminya itu terserang penyakit aneh. Tubuhnya bilur-bilur dan berubah nanah; meninggalkan bau busuk. Du’a Limek tahu, kematiannya adalah kutuk. Lelaki itu telah mengkhianati kampung dengan menjadi sekutu penjajah.

Aroma nyala lilin di hadapan bingkai foto suaminya tiba-tiba menusuk hidungnya. Angin masih perkasa, nyaris menerbangkan benda-benda. Du’a Limek mengendus perasaan yang lain dari harum lilin. Dia bergerak limbung kaku ke pojok batu doa.

”Sekali lagi saya sudah beri tahu,” katanya usai membuat tanda salib. ”Tetapi, hutan itu sudah digusur.”

Lalu, dia menceritakan bagaimana para tetua kampung termakan bujuk rayu orang-orang misi. Mereka dijanjikan kekayaan, perabot rumah tangga, bak air minum, dan sekolah untuk anak-anak. Demi nama Tuhan, semoga kalian selamat, begitu kata pastor utusan, sebagaimana diteruskan seorang tetangga.

Awalnya, orang-orang itu ikut menolak rencana tersebut. Mereka pernah membudidayakan kapas, tetapi perusahaan Belanda yang menyediakan benih tiba-tiba gulung tikar. Penduduk meminta ganti rugi dan malah mendapatkan peluru yang keluar dari bedil.

”Mungkin orang-orang kulit putih kali ini menggunakan agama,” Du’a Limek menatap ke suaminya. ”Seperti ratusan tahun lalu?”

***

”Saya bersuara atas nama suami saya,” kata Du’a Limek meneruskan pendapatnya ke tujuh perwakilan kampung dalam tenda pertemuan di depan kapela itu. Itulah kesempatan terakhirnya setelah berminggu-minggu tak ada kesepakatan soal pelepasan hutan.

Tetapi, Du’a Limek hanyalah seorang perempuan –sekalipun istri kapitan– dan dianggap seharusnya berada di dapur mengurus makan-minum. Di kampung kekuasaan tertinggi tetaplah dipegang para tana pu’an –yang posisinya sejajar dengan penatua– sehingga sulit dibedakan siapa menjalankan status apa dan semuanya laki-laki yang tengah duduk di depan itu.

”Suamimu mati karena kebodohannya sendiri,” sindir seorang tetua bertampal mata hitam.

”Makanya kita jangan bodoh supaya tidak mati,” Du’a Limek menanggapnya.

”Lidahmu lancang sekali, seperti butuh disentuh,” seseorang yang tengah menggenggam salib Kristus turut menyembur.

Baca Juga :  Sesungguhnya Dia Tak Ingin Menjadi Ibu

Hati Du’a Limek seakan kena sayat. Tenggorokannya tercekat. Seandainya ki’at tersampir di balik sarungnya, dia pasti telah menyembelih lelaki lagak suci berbadan babi bunting itu. Dia membenci para perwakilan tersebut. Mereka punya watak sama dengan orang Belanda. Dia membenci siapa saja.

Ketika utusan misi Katolik itu datang, Du’a Limek telah beranjak pulang. Batang-batang kakinya menggerus tanah, beradu dengan rerantingan busuk, menuruni bukit kecil menuju rumahnya. Dia merasa nasibnya seperti ranting-ranting itu; tercampakkan, kaku, dan tak berguna. Tetapi, sekiranya dia telah menyampaikan peringatan.

Memang semenjak Belanda mengambil alih pulau itu dari Portugis, undang-undang baru segera diberlakukan. Tanah-tanah yang tidak jelas pemiliknya dikelola oleh negara dan tanah-tanah yang telah ada pemiliknya dapat disewakan. Itu aturan janggal bagi penduduk. Telah lama mereka mengerjakan tanah secara bersama dan pembagiannya mengikuti garis kesukuan tanpa hak milik. Kini mereka menghadapi orang kolonial yang licik. Orang-orang itu tahu, kapan waktunya membujuk dan kapan menghasut penduduk untuk melancarkan kepentingannya.

***

Sejak malam selepas pertemuan itu, tidur Du’a Limek tak pernah nyenyak. Mimpi-mimpi aneh menderanya. Kadang dia bersitatap dengan wajah suaminya. Kadang telinganya mendengar gemerisik semak belukar. Beberapa kali dia terbangun. Namun, situasi baik-baik saja dan dia kembali tertidur.

”Semuanya terjadi pagi ini,” tutur Du’a Limek setelah terjaga dari suatu malam yang singkat, seakan telah menemukan jawaban.

Sebab, dia barusan mendengar irama orkes kampung dan dentang lonceng dari arah kapela. Bebunyian itu mengiringi sorak-sorai penduduk serta aroma tuak menggayuti udara. Itu resepsi yang meriah sekali. Orang-orang misi menanggung tetek bengek urusannya. Perusahaan kelapa milik Vikariat Apostolik pun resmi beroperasi.

Perempuan itu tidak hadir di sana meski telah diberi tahu. Maka, usai berdoa keluarlah dia dari rumahnya, lantas memandangi hutan leluhur. Terdapat jalan setapak yang dibuat kaki-kaki penduduk menuju jejeran pohon meranggas. Desau angin dan dengus binatang hutan mengalir ke gendang telinganya. Dia menyelaraskan napasnya. Matanya melemparkan tatapan pedih.

Kemudian, dia membereskan berbagai perkakas di halaman rumah itu. Dia memindahkan peralatan dapur ke dalam rumah. Abu bekas pembakaran dia guyur dengan air.

Lantas, sembari menunggu kedatangan orang-orang misi, entah kapan mereka mulai merambah hutan tersebab keriuhan di kapela masih berlanjut, dia segera menata perapiannya di pojok ruang belakang di dekat para-para penyimpanan hasil kebun. Dia akan memasak di situ hingga seterusnya dan mengurangi aktivitas di luar rumahnya.

Dalam seminggu perusahaan Vikariat Apostolik itu mulai membuka lahan. Puluhan hingga ratusan lelaki di bawah pimpinan seorang petugas telah membikin patok, menebangi pohon-pohon kerdil, dan membakar habis semak belukar. Tiga kendaraan penarik bajak bermesin uap muncul ibarat kerbau liar; membidas dengan ganas gumpalan tanah. Sekejap lembah kelihatan terbuka, seolah menandaskan keyakinan bahwa tanah itu layak bagi perkebunan kelapa.

Namun, ada kayu-kayu hidup, tinggi dan besar, yang belum tumbang. Du’a Limek berkata dalam hati seraya mengintip lewat celah kain rombeng yang menutupi ventilasi.

Baca Juga :  Pulut Durian Batal Dikirimkan

Dia tahu baik riwayat pepohonan itu. Suaminyalah yang menceritakannya. Pohon-pohon besar mengandung kesuburan. Akar-akarnya menangkar mata air. Karena itulah blupur rimun dulu mendirikan kampung dan mengerjakan huma di sekitarnya. Karena itulah altar batu dibuat sebelum para misionaris menganggapnya sembah berhala.

”Pengerjaannya ditunda,” begitulah desas-desus yang sempat dia dengar. ”Pohon-pohon itu membutuhkan alat yang lebih berat.”

Tetapi, Du’a Limek ragu. Sebaliknya dia tahu, tanaman-tanaman tersebut justru menolak takluk. Toh dia telah menyaksikan sendiri nasib suaminya usai menghanguskan mahe di kaki-kaki pohon. Lelaki itu hendak menyunggi setia pada orang Belanda. Namun, setelah pulang perang, tulak merambati tubuhnya pelan-pelan. Maut menjemputnya lebih cepat. Tidak peduli pada penyesalan dan sikap balik membangkang yang datang terlambat.

Maka, setiap kali keluar rumah, mengenakan kerudung hitam belasungkawanya, Du’a Limek dengan gelagak mata waspada kerap menyelidiki hutan yang mulai tergusur itu. Dia menebak-nebak berapa banyak tanaman yang bertambah remuk. Namun, pohon-pohon berbatang tinggi-besar masih saja berdiri, bahkan setelah dia kembali dari tempat penukaran barang ataupun mengolah kebun baru di bukit seberang.

***

Hari-harinya kemudian –seperti yang telah dia lakukan– lebih banyak dihabiskan di dalam rumah itu. Lampu minyak dan lilin senantiasa berkedip menjelang pagi dan malam. Kepulan asap keluar lewat cela kayu dan rongga pintu. Dia kini merasakan suasana berbeda. Tidak terhirup lagi aroma bunga liar dan sulur tanaman. Kelepak burung-burung yang kerap mematuk tanah menghilang begitu saja.

Itu adalah masa-masa puncak kesendirian baginya. Sekonyong-konyong dia mempertanyakan kembali kehadiran suaminya. Lelaki itu seperti ikut lenyap semenjak upacara pelepasan hutan. Mimpi-mimpinya selalu kosong. Padahal Du’a Limek membutuhkan pertanda; semacam kekuatan agar bisa tetap tegar. Dia juga masih punya banyak cerita, entah direkam dari tetangganya atau dilihatnya langsung, untuk disampaikan ke suaminya itu.

Mungkin suaminya benar-benar meninggalkannya. Mungkin lelaki itu marah kepadanya karena tak mampu menggagalkan pembukaan hutan itu. Namun, dia telah berusaha sekuat upaya –seharusnya ia tahu itu– dan sekarang memetik pengucilan demi pengucilan. Sedikit lagi hutan itu habis. Dia tidak bisa menjadi pahlawan; gagal total menebus dosa pecundang yang pernah suaminya lakukan.

”Saya sudah tidak sanggup,” begitulah Du’a Limek selalu berdoa sepanjang waktu dalam rutinitasnya yang tak lagi biasa.

Tepat pada masa-masa itulah, suatu pagi, usai memasang lilin di tatakan batu tempat suaminya bersimpuh, saat tengah menjerang air, perempuan itu kedatangan angin muher yang tiba-tiba. Pikiran-pikiran yang hendak dikuburkannya selintas menyeruak. Ingatannya kembali terbentang sejak hari pertama rencana penjualan hutan itu beredar.

Dengan ketenangan yang sulit digoyahkan, perempuan itu terus saja berdoa. Sementara di luar, orang-orang mulai berteriak, entah mengumandangkan apa, tetapi seperti merintih. Sebab, angin itu telah berubah menjadi badai raksasa. (*)

 

MAUMERE, 2023

Du’a Limek tengah menjerang air ketika angin muher yang kejam mengetuk ubun-ubun rumahnya. Rumah setengah bata merah berdinding kayu itu terguncang bagai ayunan. Tetapi, Du’a Limek terus menatapi tungku api. Butiran keringat mengucur dari keningnya. Debu kelabu terbang mengangkut sisa-sisa arang. Ia tak beranjak keluar.

ANGIN itu muncul dari hutan seluas lautan di belakang rumahnya. Sebagian hutan telah kena babat dan menyisakan pohon-pohon besar yang menunggu alat berat. Mulanya angin muher melingkari cecabang pepohonan itu, tetapi kemudian menerjang ke tengah perkampungan. Kutukan leluhur, perempuan itu membatin.

Sebelumnya, dia telah memperingatkan orang-orang kampung agar menolak pembukaan hutan. Ketika itu mereka berkumpul di pelataran kapela untuk menyambut utusan misi. Du’a Limek mengatakan itu tanah komunal karena ada tanda dari puaknya. Tetapi, para pemangku adat membantahnya mentah-mentah. ”Hukum itu tidak lagi berlaku,” ketus seorang tana pu’an.

”Saya tetap punya hak,” Du’a Limek menantangnya.

”Kau tidak mendukung gereja?”

”Hutan itu milik leluhur.”

pesan suaminya, seorang kapitan yang pada akhir hidupnya membangkang Belanda. Bahwa tanah-tanah di kampung tidak boleh diserahkan kepada siapa pun. Berbulan-bulan suaminya itu terserang penyakit aneh. Tubuhnya bilur-bilur dan berubah nanah; meninggalkan bau busuk. Du’a Limek tahu, kematiannya adalah kutuk. Lelaki itu telah mengkhianati kampung dengan menjadi sekutu penjajah.

Aroma nyala lilin di hadapan bingkai foto suaminya tiba-tiba menusuk hidungnya. Angin masih perkasa, nyaris menerbangkan benda-benda. Du’a Limek mengendus perasaan yang lain dari harum lilin. Dia bergerak limbung kaku ke pojok batu doa.

”Sekali lagi saya sudah beri tahu,” katanya usai membuat tanda salib. ”Tetapi, hutan itu sudah digusur.”

Lalu, dia menceritakan bagaimana para tetua kampung termakan bujuk rayu orang-orang misi. Mereka dijanjikan kekayaan, perabot rumah tangga, bak air minum, dan sekolah untuk anak-anak. Demi nama Tuhan, semoga kalian selamat, begitu kata pastor utusan, sebagaimana diteruskan seorang tetangga.

Awalnya, orang-orang itu ikut menolak rencana tersebut. Mereka pernah membudidayakan kapas, tetapi perusahaan Belanda yang menyediakan benih tiba-tiba gulung tikar. Penduduk meminta ganti rugi dan malah mendapatkan peluru yang keluar dari bedil.

”Mungkin orang-orang kulit putih kali ini menggunakan agama,” Du’a Limek menatap ke suaminya. ”Seperti ratusan tahun lalu?”

***

”Saya bersuara atas nama suami saya,” kata Du’a Limek meneruskan pendapatnya ke tujuh perwakilan kampung dalam tenda pertemuan di depan kapela itu. Itulah kesempatan terakhirnya setelah berminggu-minggu tak ada kesepakatan soal pelepasan hutan.

Tetapi, Du’a Limek hanyalah seorang perempuan –sekalipun istri kapitan– dan dianggap seharusnya berada di dapur mengurus makan-minum. Di kampung kekuasaan tertinggi tetaplah dipegang para tana pu’an –yang posisinya sejajar dengan penatua– sehingga sulit dibedakan siapa menjalankan status apa dan semuanya laki-laki yang tengah duduk di depan itu.

”Suamimu mati karena kebodohannya sendiri,” sindir seorang tetua bertampal mata hitam.

”Makanya kita jangan bodoh supaya tidak mati,” Du’a Limek menanggapnya.

”Lidahmu lancang sekali, seperti butuh disentuh,” seseorang yang tengah menggenggam salib Kristus turut menyembur.

Baca Juga :  Sesungguhnya Dia Tak Ingin Menjadi Ibu

Hati Du’a Limek seakan kena sayat. Tenggorokannya tercekat. Seandainya ki’at tersampir di balik sarungnya, dia pasti telah menyembelih lelaki lagak suci berbadan babi bunting itu. Dia membenci para perwakilan tersebut. Mereka punya watak sama dengan orang Belanda. Dia membenci siapa saja.

Ketika utusan misi Katolik itu datang, Du’a Limek telah beranjak pulang. Batang-batang kakinya menggerus tanah, beradu dengan rerantingan busuk, menuruni bukit kecil menuju rumahnya. Dia merasa nasibnya seperti ranting-ranting itu; tercampakkan, kaku, dan tak berguna. Tetapi, sekiranya dia telah menyampaikan peringatan.

Memang semenjak Belanda mengambil alih pulau itu dari Portugis, undang-undang baru segera diberlakukan. Tanah-tanah yang tidak jelas pemiliknya dikelola oleh negara dan tanah-tanah yang telah ada pemiliknya dapat disewakan. Itu aturan janggal bagi penduduk. Telah lama mereka mengerjakan tanah secara bersama dan pembagiannya mengikuti garis kesukuan tanpa hak milik. Kini mereka menghadapi orang kolonial yang licik. Orang-orang itu tahu, kapan waktunya membujuk dan kapan menghasut penduduk untuk melancarkan kepentingannya.

***

Sejak malam selepas pertemuan itu, tidur Du’a Limek tak pernah nyenyak. Mimpi-mimpi aneh menderanya. Kadang dia bersitatap dengan wajah suaminya. Kadang telinganya mendengar gemerisik semak belukar. Beberapa kali dia terbangun. Namun, situasi baik-baik saja dan dia kembali tertidur.

”Semuanya terjadi pagi ini,” tutur Du’a Limek setelah terjaga dari suatu malam yang singkat, seakan telah menemukan jawaban.

Sebab, dia barusan mendengar irama orkes kampung dan dentang lonceng dari arah kapela. Bebunyian itu mengiringi sorak-sorai penduduk serta aroma tuak menggayuti udara. Itu resepsi yang meriah sekali. Orang-orang misi menanggung tetek bengek urusannya. Perusahaan kelapa milik Vikariat Apostolik pun resmi beroperasi.

Perempuan itu tidak hadir di sana meski telah diberi tahu. Maka, usai berdoa keluarlah dia dari rumahnya, lantas memandangi hutan leluhur. Terdapat jalan setapak yang dibuat kaki-kaki penduduk menuju jejeran pohon meranggas. Desau angin dan dengus binatang hutan mengalir ke gendang telinganya. Dia menyelaraskan napasnya. Matanya melemparkan tatapan pedih.

Kemudian, dia membereskan berbagai perkakas di halaman rumah itu. Dia memindahkan peralatan dapur ke dalam rumah. Abu bekas pembakaran dia guyur dengan air.

Lantas, sembari menunggu kedatangan orang-orang misi, entah kapan mereka mulai merambah hutan tersebab keriuhan di kapela masih berlanjut, dia segera menata perapiannya di pojok ruang belakang di dekat para-para penyimpanan hasil kebun. Dia akan memasak di situ hingga seterusnya dan mengurangi aktivitas di luar rumahnya.

Dalam seminggu perusahaan Vikariat Apostolik itu mulai membuka lahan. Puluhan hingga ratusan lelaki di bawah pimpinan seorang petugas telah membikin patok, menebangi pohon-pohon kerdil, dan membakar habis semak belukar. Tiga kendaraan penarik bajak bermesin uap muncul ibarat kerbau liar; membidas dengan ganas gumpalan tanah. Sekejap lembah kelihatan terbuka, seolah menandaskan keyakinan bahwa tanah itu layak bagi perkebunan kelapa.

Namun, ada kayu-kayu hidup, tinggi dan besar, yang belum tumbang. Du’a Limek berkata dalam hati seraya mengintip lewat celah kain rombeng yang menutupi ventilasi.

Baca Juga :  Pulut Durian Batal Dikirimkan

Dia tahu baik riwayat pepohonan itu. Suaminyalah yang menceritakannya. Pohon-pohon besar mengandung kesuburan. Akar-akarnya menangkar mata air. Karena itulah blupur rimun dulu mendirikan kampung dan mengerjakan huma di sekitarnya. Karena itulah altar batu dibuat sebelum para misionaris menganggapnya sembah berhala.

”Pengerjaannya ditunda,” begitulah desas-desus yang sempat dia dengar. ”Pohon-pohon itu membutuhkan alat yang lebih berat.”

Tetapi, Du’a Limek ragu. Sebaliknya dia tahu, tanaman-tanaman tersebut justru menolak takluk. Toh dia telah menyaksikan sendiri nasib suaminya usai menghanguskan mahe di kaki-kaki pohon. Lelaki itu hendak menyunggi setia pada orang Belanda. Namun, setelah pulang perang, tulak merambati tubuhnya pelan-pelan. Maut menjemputnya lebih cepat. Tidak peduli pada penyesalan dan sikap balik membangkang yang datang terlambat.

Maka, setiap kali keluar rumah, mengenakan kerudung hitam belasungkawanya, Du’a Limek dengan gelagak mata waspada kerap menyelidiki hutan yang mulai tergusur itu. Dia menebak-nebak berapa banyak tanaman yang bertambah remuk. Namun, pohon-pohon berbatang tinggi-besar masih saja berdiri, bahkan setelah dia kembali dari tempat penukaran barang ataupun mengolah kebun baru di bukit seberang.

***

Hari-harinya kemudian –seperti yang telah dia lakukan– lebih banyak dihabiskan di dalam rumah itu. Lampu minyak dan lilin senantiasa berkedip menjelang pagi dan malam. Kepulan asap keluar lewat cela kayu dan rongga pintu. Dia kini merasakan suasana berbeda. Tidak terhirup lagi aroma bunga liar dan sulur tanaman. Kelepak burung-burung yang kerap mematuk tanah menghilang begitu saja.

Itu adalah masa-masa puncak kesendirian baginya. Sekonyong-konyong dia mempertanyakan kembali kehadiran suaminya. Lelaki itu seperti ikut lenyap semenjak upacara pelepasan hutan. Mimpi-mimpinya selalu kosong. Padahal Du’a Limek membutuhkan pertanda; semacam kekuatan agar bisa tetap tegar. Dia juga masih punya banyak cerita, entah direkam dari tetangganya atau dilihatnya langsung, untuk disampaikan ke suaminya itu.

Mungkin suaminya benar-benar meninggalkannya. Mungkin lelaki itu marah kepadanya karena tak mampu menggagalkan pembukaan hutan itu. Namun, dia telah berusaha sekuat upaya –seharusnya ia tahu itu– dan sekarang memetik pengucilan demi pengucilan. Sedikit lagi hutan itu habis. Dia tidak bisa menjadi pahlawan; gagal total menebus dosa pecundang yang pernah suaminya lakukan.

”Saya sudah tidak sanggup,” begitulah Du’a Limek selalu berdoa sepanjang waktu dalam rutinitasnya yang tak lagi biasa.

Tepat pada masa-masa itulah, suatu pagi, usai memasang lilin di tatakan batu tempat suaminya bersimpuh, saat tengah menjerang air, perempuan itu kedatangan angin muher yang tiba-tiba. Pikiran-pikiran yang hendak dikuburkannya selintas menyeruak. Ingatannya kembali terbentang sejak hari pertama rencana penjualan hutan itu beredar.

Dengan ketenangan yang sulit digoyahkan, perempuan itu terus saja berdoa. Sementara di luar, orang-orang mulai berteriak, entah mengumandangkan apa, tetapi seperti merintih. Sebab, angin itu telah berubah menjadi badai raksasa. (*)

 

MAUMERE, 2023

Terpopuler

Artikel Terbaru