Jauh sebelum hiruk-pikuk kota bangun, di ketinggian sekitar 34 kilometer dari pusat kota, kesunyian Bukit Cinta perlahan terisi oleh langkah kaki yang berhati-hati. Dini hari Minggu, 26 Juli 2026, udara dingin menyapa kulit, diselimuti kabut tipis yang melayang lembut di antara hamparan pepohonan.
JEFRI, PALANGKA RAYA
DI SINILAH, momen matahari terbit terasa jauh lebih istimewa saat musim kemarau tiba. Langit yang biasanya keruh saat hujan, kini terbentang jernih, siap menyuguhkan pertunjukan cahaya yang tak ternilai harganya.
Sejak pukul 04.30 pagi, jalan setapak menuju puncak sudah mulai dilewati orang-orang. Ada yang membawa kamera, ada yang hanya ingin duduk diam menikmati angin, dan ada pula yang datang bersama sahabat untuk berbagi momen tenang ini. Semua menahan napas, menanti detik ketika cahaya pertama menyembul dari ufuk timur.
Perlahan namun pasti, semburat jingga keemasan mulai merobek kegelapan. Kabut tipis yang menyelimuti lembah seketika berubah berkilau diterpa sinar lembut, menciptakan pemandangan yang begitu dramatis dan menenangkan hati.
Reza, salah satu pengunjung yang datang bersama rekan kerjanya, mengaku sengaja berangkat dini hari agar tak melewatkan satu pun detik keajaiban ini.
“Kami berangkat subuh supaya bisa melihat matahari mulai muncul dari awal. Tepat pukul 05.00 pagi, matahari mulai terlihat perlahan. Suasananya masih sejuk, berkabut tipis, dan pemandangannya benar-benar indah,” ujarnya dengan mata yang masih memancarkan kekaguman.
Bagi Reza dan banyak pengunjung lainnya, musim kemarau memberikan keistimewaan tersendiri. Langit yang bersih membuat warna cahaya tampak lebih tajam, jelas, dan menyatu sempurna dengan rimbunnya hutan di bawah sana.
“Kalau cuaca cerah begini, warnanya lebih hidup dan pemandangannya terasa lebih dramatis. Sangat cocok untuk melepas penat sejenak bersama teman-teman,” tambahnya.
Tak sedikit yang mengabadikan momen itu lewat foto. Siluet punggung bukit, kabut yang perlahan menghilang, hingga bola api raksasa yang semakin tinggi—semuanya menjadi latar cerita yang tak terlupakan.
Bukit Cinta bukan sekadar tempat melihat matahari terbit. Bagi warga Palangka Raya dan wisatawan yang datang, ini adalah tempat beristirahat sejenak dari hiruk dunia, menyadari betapa indahnya memulai hari dengan menghargai ciptaan alam yang hadir begitu sederhana namun begitu memukau. (*)


