33.8 C
Jakarta
Wednesday, April 17, 2024

Pengakuan Alumni Poltekkes Palangka Raya Menjadi Sukarelawan di RSDC W

Sejak corona virus disease 2019 (Covid-19) mewabah ke seluruh dunia Maret 2020, tenaga medis
menjadi garda terdepan menangani virus yang berawal dari Wuhan, Tiongkok itu.
Di Indonesia, pemerintah harus mencari tambahan dokter
, perawat, dan lainnya untuk menjadi sukarelawan. Dari Kalimantan Tengah pun
mengirimkan sukarelawan ke Rumah Sakit Darurat Covid-19 (RSDC) Wisma Atlet,
Jakarta.

PADA Rabu (23/9) lalu, lima orang perawat yang merupakan alumni D3 Keperawatan Politeknik Kesehatan (Poltekkes) Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Palangka Raya berangkat ke Jakarta melalui Bandara Tjilik Riwut Palangka Raya. Mereka adalah Jeepry, Andra Eger, Aditya Wirayudha, Aisyah, dan Ayu Pitriani. Kelimanya menjadi tenaga sukarelawan di RSDC Wisma Atlet Kemayoran, Jakarta.

Sebelum berangkat, banyak hal yang membuat mereka ragu dan khawatir. Mulai dari izin orang tua, saudara, kekasih, hingga rasa takut akan keselamatan selama bertugas. Mengingat belum ditemukan vaksin dan banyak berita mengenai gugurnya tenaga medis akibat virus itu.

“Dengan membulatkan
hati, pikiran, dan tujuan, saya akhirnya memutuskan untuk berangkat. Saya
sangat bersemangat
, karena ini adalah
kesempatan emas bagi saya untuk memberikan tenaga saya
guna membantu bangsa Indonesia menghadapi
pandemi
,” kata Jeepry yang juga dibenarkan Aisyah.

Setiba di Jakarta, mereka diarahkan menginap di salah satu hotel yang disediakan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) sebagai tempat peralihan.

Baca Juga :  Semua Pihak Punya Tanggung Jawab Akhiri Pandemi

Keesokan harinya, Kamis (24/9) pukul 07.00 WIB setelah sarapan, mereka tergabung dalam sukarelawan
gelombang 43
Poltekkes Kemenkes se-Indonesia. Dijemput menggunakan bus menuju RSDC Wisma Atlet dan diarahkan menuju tower 2 lantai 2 untuk orientasi, medical check up, serta pembagian tim dan id card. Kegiatan tersebut dimulai pukul
08.00
hingga 17.00 WIB.

Setelah semuanya selesai, sukarelawan dibagikan kamar istirahat khusus. Yaitu tower 1 dan 3 untuk laki-laki dan tower 2 untuk perempuan.

Sukarelawan yang bertugas di RSDC Wisma Atlet Kemayoran adalah kiriman dari TNI,
Polri, Kemenkes, dan BUMN
se-Indonesia yang berprofesi medis. Seperti dokter, apoteker, perawat, gizi, rekam medis, ahli teknonogi laboratorium medik (ATLM), psikolog, serta profesi nonmedis.

Saat bertugas, sukarelawan ditempatkan pada 4 tower isolasi pasien. Di tower 6 menangani pasien instalasi gawat darurat (IGD), high care unit (HCU), dan VIP. Tower 7 menangani
pasien bergejala (simptomatik) dan dengan penyakit penyerta (
komorbid). Sedangkan tower 4 dan 5 menangani pasien
tanpa gejala (asimptomatik).

Sebelum mulai berdinas, sukarelawan harus menggunakan perlengkapan dinas atau alat pelindung
diri (APD).
Meliputi hazmat, google, face
shield, masker bedah, masker N95, sarung tangan bersih, sarung tangan steril,
kaus kaki, dan sepatu boots. Lama
waktu kerjanya delapan  jam. Dengan jadwal dinas pagi pukul
08.00-15.30, sore 15.30-23.00,
dan malam 23.00-08.00 WIB.

Baca Juga :  Mendirikan Pusat Isoman Terpadu, Menampung Hingga 40 Orang

Selama berdinas di ruangan, sukarelawan tak diperkenankan membuka hazmat dengan alasan
apa pun
demi keselamatan diri dari paparan virus.

“Saya tergabung dalam
tim D dan berdinas di tower 7 dan 4.
Selama berdinas, karena profesi saya sebagai perawat, pekerjaan saya
adalah melakukan tindakan keperawatan
. Seperti memonitor kondisi kesehatan pasien, mengatur diet makanan, dan memberikan obat sesuai
terapi
,” ungkap Jeepry
lagi
. Sedangkan Aisyah dan
yang lainnya bertugas di tower lain.

 

Banyak tantangan saat berdinas selama delapan jam. Hal-hal yang perlu disesuaikan adalah mengatur pola eliminasi
atau buang air
besar dan buang air kecil (BAB
/BAK), jam makan dan minum, mandi, serta menghindari terbukanya hazmat.

Melakukan tindakan keperawatan sambil menggunakan hazmat, bagi Jeepry, adalah pengalaman baru. Beberapa kali merasa kurang
nyaman
hingga mengalami dehidrasi. Bahkan kesulitan menahan gatal pada kulit tubuh.

“Sering kali tubuh
saya dibanjiri keringat. Sering saya mengeluh atas hal tersebut
.

Sejak corona virus disease 2019 (Covid-19) mewabah ke seluruh dunia Maret 2020, tenaga medis
menjadi garda terdepan menangani virus yang berawal dari Wuhan, Tiongkok itu.
Di Indonesia, pemerintah harus mencari tambahan dokter
, perawat, dan lainnya untuk menjadi sukarelawan. Dari Kalimantan Tengah pun
mengirimkan sukarelawan ke Rumah Sakit Darurat Covid-19 (RSDC) Wisma Atlet,
Jakarta.

PADA Rabu (23/9) lalu, lima orang perawat yang merupakan alumni D3 Keperawatan Politeknik Kesehatan (Poltekkes) Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Palangka Raya berangkat ke Jakarta melalui Bandara Tjilik Riwut Palangka Raya. Mereka adalah Jeepry, Andra Eger, Aditya Wirayudha, Aisyah, dan Ayu Pitriani. Kelimanya menjadi tenaga sukarelawan di RSDC Wisma Atlet Kemayoran, Jakarta.

Sebelum berangkat, banyak hal yang membuat mereka ragu dan khawatir. Mulai dari izin orang tua, saudara, kekasih, hingga rasa takut akan keselamatan selama bertugas. Mengingat belum ditemukan vaksin dan banyak berita mengenai gugurnya tenaga medis akibat virus itu.

“Dengan membulatkan
hati, pikiran, dan tujuan, saya akhirnya memutuskan untuk berangkat. Saya
sangat bersemangat
, karena ini adalah
kesempatan emas bagi saya untuk memberikan tenaga saya
guna membantu bangsa Indonesia menghadapi
pandemi
,” kata Jeepry yang juga dibenarkan Aisyah.

Setiba di Jakarta, mereka diarahkan menginap di salah satu hotel yang disediakan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) sebagai tempat peralihan.

Baca Juga :  Semua Pihak Punya Tanggung Jawab Akhiri Pandemi

Keesokan harinya, Kamis (24/9) pukul 07.00 WIB setelah sarapan, mereka tergabung dalam sukarelawan
gelombang 43
Poltekkes Kemenkes se-Indonesia. Dijemput menggunakan bus menuju RSDC Wisma Atlet dan diarahkan menuju tower 2 lantai 2 untuk orientasi, medical check up, serta pembagian tim dan id card. Kegiatan tersebut dimulai pukul
08.00
hingga 17.00 WIB.

Setelah semuanya selesai, sukarelawan dibagikan kamar istirahat khusus. Yaitu tower 1 dan 3 untuk laki-laki dan tower 2 untuk perempuan.

Sukarelawan yang bertugas di RSDC Wisma Atlet Kemayoran adalah kiriman dari TNI,
Polri, Kemenkes, dan BUMN
se-Indonesia yang berprofesi medis. Seperti dokter, apoteker, perawat, gizi, rekam medis, ahli teknonogi laboratorium medik (ATLM), psikolog, serta profesi nonmedis.

Saat bertugas, sukarelawan ditempatkan pada 4 tower isolasi pasien. Di tower 6 menangani pasien instalasi gawat darurat (IGD), high care unit (HCU), dan VIP. Tower 7 menangani
pasien bergejala (simptomatik) dan dengan penyakit penyerta (
komorbid). Sedangkan tower 4 dan 5 menangani pasien
tanpa gejala (asimptomatik).

Sebelum mulai berdinas, sukarelawan harus menggunakan perlengkapan dinas atau alat pelindung
diri (APD).
Meliputi hazmat, google, face
shield, masker bedah, masker N95, sarung tangan bersih, sarung tangan steril,
kaus kaki, dan sepatu boots. Lama
waktu kerjanya delapan  jam. Dengan jadwal dinas pagi pukul
08.00-15.30, sore 15.30-23.00,
dan malam 23.00-08.00 WIB.

Baca Juga :  Mendirikan Pusat Isoman Terpadu, Menampung Hingga 40 Orang

Selama berdinas di ruangan, sukarelawan tak diperkenankan membuka hazmat dengan alasan
apa pun
demi keselamatan diri dari paparan virus.

“Saya tergabung dalam
tim D dan berdinas di tower 7 dan 4.
Selama berdinas, karena profesi saya sebagai perawat, pekerjaan saya
adalah melakukan tindakan keperawatan
. Seperti memonitor kondisi kesehatan pasien, mengatur diet makanan, dan memberikan obat sesuai
terapi
,” ungkap Jeepry
lagi
. Sedangkan Aisyah dan
yang lainnya bertugas di tower lain.

 

Banyak tantangan saat berdinas selama delapan jam. Hal-hal yang perlu disesuaikan adalah mengatur pola eliminasi
atau buang air
besar dan buang air kecil (BAB
/BAK), jam makan dan minum, mandi, serta menghindari terbukanya hazmat.

Melakukan tindakan keperawatan sambil menggunakan hazmat, bagi Jeepry, adalah pengalaman baru. Beberapa kali merasa kurang
nyaman
hingga mengalami dehidrasi. Bahkan kesulitan menahan gatal pada kulit tubuh.

“Sering kali tubuh
saya dibanjiri keringat. Sering saya mengeluh atas hal tersebut
.

Terpopuler

Artikel Terbaru