24.5 C
Jakarta
Saturday, July 13, 2024
spot_img

Peserta Diperkirakan 2.000, Dayak se-Kalimantan Kirim Utusan

Pertemuan tokoh-tokoh
suku Dayak yang tinggal di tanah Borneo, termasuk dari Malaysia, kembali
digelar di Desa Tumbang Anoi. Reuni tersebut dalam rangka mengenang kembali atau
menapaktilasi sejarah penting bagi suku Dayak Kalimantan yang terjadi ratusan
tahun silam.   

 

ANNISA
B WAHDAH,
Palangka
Raya



TAHUN ini Kalteng kembali melaksanakan Tapak Tilas
Tumbang Anoi. Kegiatan itu dilaksanakan untuk memperingati perjanjian
perdamaian di Tumbang Anoi pada tahun 1894 silam. Ketua Dewan Adat Dayak (DAD)
Kalteng Agustiar Sabran melepas peserta di Betang Hapakat, Palangka Raya, Minggu
(21/7).

Diungkapkan Agustiar, tapak
tilas ini berguna untuk memperkuat kembali semangat persatuan masyarakat suku
Dayak di Kalimantan. Pasalnya, Tumbang Anoi merupakan cikal bakal persatuan
serta persamaan pandangan masyarakat Dayak.

“Perdamaian Tumbang
Anoi merupakan sesuatu yang bersejarah di Kalimantan, khususnya bagi masyarakat
suku Dayak,” katanya saat diwawancarai usai pelepasan, kemarin.

Baca Juga :  Upaya Pemprov Kalteng Meningkatkan Daya Saing UKM Untuk Masuk Pasar Mo

Dijelaskannya, hal ini
dilakukan untuk mengingatkan generasi kini suku Dayak agar tidak melupakan
sejarah. Kegiatan ini dilaksanakan di Desa Tumbang Anoi, Kecamatan Damang Batu,
Kabupaten Gunung Mas (Gumas) pada 22-24 Juli ini.

“Nantinya juga
dilaksanakan seminar internasional sekaligus membahas hal-hal penting, terutama
menjawab kebutuhan suku Dayak dengan menyesuaikan kondisi saat ini,” jelasnya.

Menurutnya, tujuan dari
tapak tilas ini, selain memperkuat persatuan, tapi juga untuk mempersiapkan
diri menghadapi perkembangan ke depan. Lebih lanjut dikatakannya, masyarakat suku
Dayak harus bisa bergabung dalam pembangunan daerah ini.

Sementara itu, Ketua
Panitia Seminar Internasional Tapak Tilas Tumbang Anoi, Dagut H Djunas
mengatakan, kegiatan ini akan diikuti sekitar 2.000 perserta yang datang dari
berbagai daerah. Kabupaten/kota se-Kalteng pun akan mengirim utusannya untuk menghadiri
kegiatan ini.

Baca Juga :  Momen Women’s Day, Intan Kusuma Hadie Bawa Spirit Perempuan Kuat

“Dahulu saat perjanjian
damai Tumbang Anoi dilaksanakan, dihadiri oleh utusan daerah lain yang masih
tergabung dalam Borneo, termasuk Malaysia yang masih satu kesatuan dengan
Kalimantan,” katanya.

Untuk itu, tapak tilas
yang dilakukan ini akan dihadiri utusan dari Kalimantan Barat (Kalbar),
Kalimantan Timur (Kaltim), Kalimantan Selatan (Kalsel), dan Kalimantan Utara
(Kaltara). Seminar internasional yang digelar nanti akan membahas bagaimana Dayak
bersikap menghadapi perkembangan zaman ke depan.

“Salah satunya yakni masyarakat lokal harus menjadi
tuan di rumah sendiri. Dalam artian, semua hak warga Dayak harus dipenuhi demi
meningkatkan kesejahteraan,” pungkasnya. (*/ce/ala)

Pertemuan tokoh-tokoh
suku Dayak yang tinggal di tanah Borneo, termasuk dari Malaysia, kembali
digelar di Desa Tumbang Anoi. Reuni tersebut dalam rangka mengenang kembali atau
menapaktilasi sejarah penting bagi suku Dayak Kalimantan yang terjadi ratusan
tahun silam.   

 

ANNISA
B WAHDAH,
Palangka
Raya



TAHUN ini Kalteng kembali melaksanakan Tapak Tilas
Tumbang Anoi. Kegiatan itu dilaksanakan untuk memperingati perjanjian
perdamaian di Tumbang Anoi pada tahun 1894 silam. Ketua Dewan Adat Dayak (DAD)
Kalteng Agustiar Sabran melepas peserta di Betang Hapakat, Palangka Raya, Minggu
(21/7).

Diungkapkan Agustiar, tapak
tilas ini berguna untuk memperkuat kembali semangat persatuan masyarakat suku
Dayak di Kalimantan. Pasalnya, Tumbang Anoi merupakan cikal bakal persatuan
serta persamaan pandangan masyarakat Dayak.

“Perdamaian Tumbang
Anoi merupakan sesuatu yang bersejarah di Kalimantan, khususnya bagi masyarakat
suku Dayak,” katanya saat diwawancarai usai pelepasan, kemarin.

Baca Juga :  Upaya Pemprov Kalteng Meningkatkan Daya Saing UKM Untuk Masuk Pasar Mo

Dijelaskannya, hal ini
dilakukan untuk mengingatkan generasi kini suku Dayak agar tidak melupakan
sejarah. Kegiatan ini dilaksanakan di Desa Tumbang Anoi, Kecamatan Damang Batu,
Kabupaten Gunung Mas (Gumas) pada 22-24 Juli ini.

“Nantinya juga
dilaksanakan seminar internasional sekaligus membahas hal-hal penting, terutama
menjawab kebutuhan suku Dayak dengan menyesuaikan kondisi saat ini,” jelasnya.

Menurutnya, tujuan dari
tapak tilas ini, selain memperkuat persatuan, tapi juga untuk mempersiapkan
diri menghadapi perkembangan ke depan. Lebih lanjut dikatakannya, masyarakat suku
Dayak harus bisa bergabung dalam pembangunan daerah ini.

Sementara itu, Ketua
Panitia Seminar Internasional Tapak Tilas Tumbang Anoi, Dagut H Djunas
mengatakan, kegiatan ini akan diikuti sekitar 2.000 perserta yang datang dari
berbagai daerah. Kabupaten/kota se-Kalteng pun akan mengirim utusannya untuk menghadiri
kegiatan ini.

Baca Juga :  Momen Women’s Day, Intan Kusuma Hadie Bawa Spirit Perempuan Kuat

“Dahulu saat perjanjian
damai Tumbang Anoi dilaksanakan, dihadiri oleh utusan daerah lain yang masih
tergabung dalam Borneo, termasuk Malaysia yang masih satu kesatuan dengan
Kalimantan,” katanya.

Untuk itu, tapak tilas
yang dilakukan ini akan dihadiri utusan dari Kalimantan Barat (Kalbar),
Kalimantan Timur (Kaltim), Kalimantan Selatan (Kalsel), dan Kalimantan Utara
(Kaltara). Seminar internasional yang digelar nanti akan membahas bagaimana Dayak
bersikap menghadapi perkembangan zaman ke depan.

“Salah satunya yakni masyarakat lokal harus menjadi
tuan di rumah sendiri. Dalam artian, semua hak warga Dayak harus dipenuhi demi
meningkatkan kesejahteraan,” pungkasnya. (*/ce/ala)

spot_img
spot_img

Terpopuler

spot_img

Artikel Terbaru