Bisa jadi, tidak ada
warga yang tidak tahu Bejo Motor. Showroom mobil terbesar di Kota Palanga Raya,
bahkan mungkin terbesar di Kalteng. Showroom berlanati dua ini berdiri megah di
Jalan Diponegoro. Namanya diambil dari nama depan owner-nya, Bejo. Tidak sulit untuk menemui pria 44 tahun itu.
Penulis berkesempatan mendengarkan kisah suksesnya membangun bisnis otomotif
selama 90 menit. Berikut tulisannya.
SUDIYONO, Palangka
Raya
======================
NAMA lengkapnya
Bejo Susilo Adi Suwarno. Sebenarnya sudah ada gelar haji di depan namanya. Tapi
ayah tiga putra itu jarang menggunakannya. Bejo terlahir di Desa Ngemplak,
Kecamatan Karangpandan, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah pada 6 November
1975.
Bejo yang terlahir
sebagai anak sulung dari enam bersaudara menanamkan prinsip; hidup adalah
pilihan. “Saya yang memilih, tetapi Allah yang menentukan,†katanya memulai
ceritanya.
Seperti kebanyakan
anak-anak desa lainnya, Bejo terlahir dalam kemiskinan. Bejo tidak berpendidikan
tinggi. Hanya tamat SD. Itu pun ditempuhnya selama tujuh tahun, karena di kelas
satu, Bejo kecil tinggal kelas (tidak naik).
“Saya disayang guru.
Saya senang karena nilainya bagus, ada yang berwarna merah,†cerita Bejo
disambut geerrr puluhan tamu yang dijamunya buka puasa saat itu. Postur tubuh
Bejo juga kerap jadi bahan ejekan. Dia kadang dipanggil dengan sebutan bocah cilik ireng (anak dengan postur
tubuh kecil berkulit gelap, red).
Terkait rendahnya nilai
di kelas 1 SD, Bejo menceritakan penyebabnya. Menurutnya, semasa kecil ia sering
terlambat masuk sekolah. Bukan karena malas atau bangun kesiangan, tapi justru
karena sudah bangun mulai pukul 05.00 pagi. Begitu bangun langung mencari kayu
bakar untuk dijual. Memang tidak seberapa Bejo mendapatkan uang dari jualan
kayu.
Singkat cerita, setelah
itu, sejak naik kelas dua hingga lulus SD, Bejo kecil selalu mendapat rangking
satu. Akan tetapi, kondisi ekonomi keluarga membuatnya tidak bisa melanjutkan
pendidikan formal.
“Saya memilih sekolah
lapangan, alias enam bulan tidak bersekolah,†ujarnya.
Bejo pun memutuskan
merantau ke Jakarta. Dia mengikuti tetangga desanya yang punya usaha di
Jakarta, membuat kerupuk berbahan kulit sapi (rambak). Selama bekerja ikut
tetangga desanya itu, Bejo tidak pernah diberi jawaban besaran upah. Meski
demikian, dia tetap rajin bekerja memotong kerupuk rambak mentah.
Sampai suatu ketika
tiba bulan puasa, Bejo mendapat tugas tambahan dari bosnya. Mengumpulkan kikil
(kulit kaki sapi). Tak semua jarak pengambilannya dekat. Alat transportasi
satu-satunya yang bisa digunakannya hanyalah sepeda. Di situlah otak bisnis
Bejo makin terbentuk. Bejo yang memegang teguh pesan orang tuanya agar tidak
mengambil yang bukan haknya, mulai berani berterus terang minta komisi atas
kikil yang diambilnya dari mitra bosnya.
Dia tidak minta uang, tetapi minta
kikil seberat 1 kg dari setiap tempat yang diambilnya. Permintaan itu disetujui
para pemilik kikil. Jadilah Bejo bisa mendapatkan penghasilan.
Satu ketika menjelang
Idulfitri, Bejo memberanikan diri pamit untuk pulang ke desanya. Saat malam
tabkiran itu, Bejo menuju sebuah terminal di ibu kota. Dengan sedikit uang yang
dikumpulkannya itu, dia sampai di terminal. Di tempat itu, lagi-lagi otak
cerdik Bejo bekerja. Dia merayu seorang kernet bus rute Jakarta–Solo.
Dia
merayu bukan supaya diberi tumpangan gratis, tetapi menawarkan kerja
menggantikan kernet. Karena memang sudah tidak bisa beli tiket bus.
“Awalnya kernetnya
tidak mau. Mereka tidak membolehkan dan harus tetap beli tiket. Padahal malam
takbiran itu kan sudah pada tutup loketnya,†cerita Bejo.
Berkat tawaran cerdas
Bejo, sang kernet setuju. Maka sepanjang perjalanan itu, Bejo menjadi kernet
pengganti saat kernet sebenarnya tidur. Perjalanan ke Solo lancar. Sampailah
bus bernama Jaya Putra itu di Terminal Tirtonadi, Solo. Bejo tidak mengira
kalau bus itu hanya berhenti di Tirtonadi.
“Biasanya ada yang sampai Matesih,†katanya. (*/bersambung)