Enam Ruang Kelas Baru Hangus Terbakar: Nasib Belajar Siswa MTs Darul Ulum di Ujung Tanduk

Satu hari merayakan semangat tahun ajaran baru, harapan para siswa MTs Darul Ulum untuk belajar di ruangan yang nyaman seketika runtuh. Bagaimana tidak? Musibah kebakaran yang melanda kawasan Jalan Murjani, Gang Sari 45 pada Minggu (12/7/2026) kemarin, tak hanya menghanguskan rumah warga, tapi juga merusak parah enam ruang kelas madrasah yang baru saja digunakan satu semester.

ANANDRI – PALANGKARAYA

BAGI Syamsuri, Kepala MTs Darul Ulum sekaligus pengelola Yayasan Darul Ulum, melihat atap bangunan yang baru rampung dibangun itu mulai roboh adalah pemandangan yang menyayat hati.

“Padahal serah terimanya pun belum selesai sepenuhnya. Belum sempat kami nikmati sepenuhnya manfaat gedung baru ini, sudah harus menghadapi kenyataan pahit begini,” ujarnya dengan nada berat saat disambangi media, Senin (13/7/2026).

Kini, dari total sepuluh ruang kelas yang dimiliki madrasah, hanya empat yang masih layak pakai. Enam lainnya tak bisa disentuh karena atapnya rusak parah, struktur bangunan lembap tersiram air pemadaman, dan menyimpan risiko bahaya jika dipaksa digunakan. Di tengah keterbatasan itu, sekolah tak boleh berhenti berjalan.

Baca Juga :  Serunya Mengikuti Kontes, Bazar, dan Lelang Durian di Kabupaten Blitar

“Untuk sementara ada enam ruang kelas yang tidak bisa digunakan. Padahal saat ini tahun ajaran baru sudah dimulai sehingga kami harus mencari solusi agar kegiatan belajar mengajar tetap berjalan,”katanya.

“Kami tak boleh membiarkan anak-anak putus sekolah hanya karena ruang belajar terbatas,” tambah Syamsuri.

Electronic money exchangers listing

Pihaknya pun segera menyusun jalan keluar. Pembelajaran akan tetap berlangsung secara bergantian. Sebagian dilakukan secara daring, sementara sisanya akan berbagi ruang dengan Madrasah Aliyah yang gedungnya selamat dari api. Bahkan kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) pun tetap diselenggarakan dengan penyesuaian jadwal.

“MPLS tetap dilaksanakan. Nanti pengaturannya akan bergantian dengan Madrasah Aliyah yang gedungnya tidak terdampak kebakaran. Saat ini panitia sedang menyusun mekanismenya,” ucapnya.

Disinggung mengenai kerugian yang ditimbulkan, ia pun mengaku sangat besar dan diperkirakan mencapai Rp600 juta hingga Rp700 juta.  Sebab, tak hanya bangunan, puluhan meja dan kursi siswa turut hangus. Namun ada satu hal yang membuat Syamsuri bersyukur, yakni seluruh arsip sekolah, dokumen siswa, dan data penting tersimpan aman di ruang kantor yang tidak terkena dampak api.

Baca Juga :  Video Adegan Mesra Siswa di Ruang Kelas Viral! Kadisdik Kalteng Wacanakan Pemasangan CCTV

Harapan satu-satunya kini hanya tertuju pada dukungan pemerintah dan masyarakat. Sebagian besar siswa di sini menurutnya berasal dari keluarga yang berjuang keras setiap hari, seperti halnya anak buruh harian, pedagang kecil, tukang becak, hingga pemulung.

“Sangat berat jika pembangunan kembali harus mengandalkan dukungan dari wali murid,” ujar Syamsuri.

Di tengah asap yang belum sepenuhnya hilang, semangat belajar para siswa tetap menyala. Mereka menanti waktu, hingga ruang kelas yang hangus itu kembali tegak, dan mereka bisa kembali duduk dengan tenang untuk mengejar cita-cita.(*)

Satu hari merayakan semangat tahun ajaran baru, harapan para siswa MTs Darul Ulum untuk belajar di ruangan yang nyaman seketika runtuh. Bagaimana tidak? Musibah kebakaran yang melanda kawasan Jalan Murjani, Gang Sari 45 pada Minggu (12/7/2026) kemarin, tak hanya menghanguskan rumah warga, tapi juga merusak parah enam ruang kelas madrasah yang baru saja digunakan satu semester.

ANANDRI – PALANGKARAYA

BAGI Syamsuri, Kepala MTs Darul Ulum sekaligus pengelola Yayasan Darul Ulum, melihat atap bangunan yang baru rampung dibangun itu mulai roboh adalah pemandangan yang menyayat hati.

Electronic money exchangers listing

“Padahal serah terimanya pun belum selesai sepenuhnya. Belum sempat kami nikmati sepenuhnya manfaat gedung baru ini, sudah harus menghadapi kenyataan pahit begini,” ujarnya dengan nada berat saat disambangi media, Senin (13/7/2026).

Kini, dari total sepuluh ruang kelas yang dimiliki madrasah, hanya empat yang masih layak pakai. Enam lainnya tak bisa disentuh karena atapnya rusak parah, struktur bangunan lembap tersiram air pemadaman, dan menyimpan risiko bahaya jika dipaksa digunakan. Di tengah keterbatasan itu, sekolah tak boleh berhenti berjalan.

Baca Juga :  Serunya Mengikuti Kontes, Bazar, dan Lelang Durian di Kabupaten Blitar

“Untuk sementara ada enam ruang kelas yang tidak bisa digunakan. Padahal saat ini tahun ajaran baru sudah dimulai sehingga kami harus mencari solusi agar kegiatan belajar mengajar tetap berjalan,”katanya.

“Kami tak boleh membiarkan anak-anak putus sekolah hanya karena ruang belajar terbatas,” tambah Syamsuri.

Pihaknya pun segera menyusun jalan keluar. Pembelajaran akan tetap berlangsung secara bergantian. Sebagian dilakukan secara daring, sementara sisanya akan berbagi ruang dengan Madrasah Aliyah yang gedungnya selamat dari api. Bahkan kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) pun tetap diselenggarakan dengan penyesuaian jadwal.

“MPLS tetap dilaksanakan. Nanti pengaturannya akan bergantian dengan Madrasah Aliyah yang gedungnya tidak terdampak kebakaran. Saat ini panitia sedang menyusun mekanismenya,” ucapnya.

Disinggung mengenai kerugian yang ditimbulkan, ia pun mengaku sangat besar dan diperkirakan mencapai Rp600 juta hingga Rp700 juta.  Sebab, tak hanya bangunan, puluhan meja dan kursi siswa turut hangus. Namun ada satu hal yang membuat Syamsuri bersyukur, yakni seluruh arsip sekolah, dokumen siswa, dan data penting tersimpan aman di ruang kantor yang tidak terkena dampak api.

Baca Juga :  Video Adegan Mesra Siswa di Ruang Kelas Viral! Kadisdik Kalteng Wacanakan Pemasangan CCTV

Harapan satu-satunya kini hanya tertuju pada dukungan pemerintah dan masyarakat. Sebagian besar siswa di sini menurutnya berasal dari keluarga yang berjuang keras setiap hari, seperti halnya anak buruh harian, pedagang kecil, tukang becak, hingga pemulung.

“Sangat berat jika pembangunan kembali harus mengandalkan dukungan dari wali murid,” ujar Syamsuri.

Di tengah asap yang belum sepenuhnya hilang, semangat belajar para siswa tetap menyala. Mereka menanti waktu, hingga ruang kelas yang hangus itu kembali tegak, dan mereka bisa kembali duduk dengan tenang untuk mengejar cita-cita.(*)

Terpopuler

Artikel Terbaru