Tahun 2018 menjadi titik balik yang mengubah seluruh jalan hidup Indrawati. Perempuan berusia 50 tahun asal Pulang Pisau itu, pernah berjuang melawan sakit tumor yang membuat bagian mulutnya bengkak hebat. Ia bolak-balik rumah sakit, disarankan operasi, namun rasa sakit selalu kembali begitu efek obat habis. Hingga akhirnya, ibunya mencarikan obat tradisional berbahan akar-akaran. Hanya dalam waktu seminggu meminumnya, pembengkakan itu pun kempes. Tubuhnya terasa kembali segar. Pengalaman menyembuhkan diri sendiri inilah yang kemudian melahirkan tekad besar di hatinya. Ia ingin berbagi kesembuhan kepada sesama.
Jefri Pratama, Palangka Raya
SUDAH sembilan tahun berlalu. Indrawati tetap setia melayani pembeli di Pasar Kahayan, Kota Palangka Raya, melalui usahanya yang dikenal sebagai Toko Bajakah Official Kalteng. Perjalanannya tak selamanya mulus. Pernah ia sempat ingin berhenti berjualan saat nama bajakah tak lagi sepopuler masa jayanya. Namun, seorang pelanggan justru menasihatinya agar tetap bertahan. Kini ia menetap di kawasan Pasar Kahayan, menyediakan bajakah dan beragam bahan herbal yang sebagian diambil dari kawasan Bukit Tangkiling.
Bagi Indrawati, berdagang bukan sekadar mencari untung. Ia kerap melayani tawaran harga pembeli dengan lapang dada, selama tak merugi.
“Kalau pembeli menawar, saya pernah merasa sakit juga, tapi saya kasih selagi saya tidak rugi. Saya senang menolong orang. Yang penting bisa sembuh,” ucapnya saat dibincangi Prokalteng.co, Rabu (12/8/2026)
Ketulusan hatinya pun membawa berkah. Pembeli datang bukan hanya karena viral, melainkan atas rekomendasi mereka yang sudah merasakan khasiatnya. Produknya kini dikirim ke berbagai penjuru, bahkan hingga ke Papua dan luar pulau.
Di samping itu, dukungan keluarga menjadi kekuatan yang tak ternilai. Kakak kandungnya membantu menyiapkan barang di rumah. Sementara anak-anaknya turut mengembangkan usaha lewat media sosial, membuatkan akun Instagram sekaligus mendesain kemasan agar tampak lebih menarik.
“Sekarang anak yang bantu promosikan lewat Instagram. Awalnya dia yang bikinkan, termasuk desain kemasannya,” ujar Indrawati.
Dari hasil jerih payahnya inilah, empat anaknya berhasil ia sekolahkan. Salah satunya bahkan telah lulus kuliah dan kini mengabdi menjadi seorang guru.
“Untuk penghidupan sangat membantu. Dari jualan ini saya bisa membiayai anak-anak sampai lulus,” ungkapnya dengan bangga.
Bagi Indrawati, menjual herbal adalah perjalanan panjang berbagi kasih. Apa yang ia jalani bukan sekadar usaha dagang saja. Tetapi baginya adalah menyembuhkan diri sendiri, kemudian mengulurkan tangan untuk membantu sebanyak mungkin orang yang membutuhkan.(*)


