25.6 C
Jakarta
Thursday, June 13, 2024
spot_img

Ketagihan Memfoto dari Ekor Pesawat di Ketinggian Ribuan Meter

Berawal dari F-16 di
darat, Sandriani Permani sudah terbang jauh bersama kameranya: mulai mengambil
gambar di ekor pesawat Hercules sampai memotret pesawat yang sedang berlatih di
malam hari.

SAHRUL YUNIZAR, Jakarta

TIDAK dibutuhkan
waktu lama bagi Sandriani Permani untuk lulus dari Darwis Triadi School of
Photography. Membulatkan tekad belajar memotret 2010 silam, tahun itu pula dia
menuntaskan kursus di sekolah tersebut.

Motivasi perempuan yang
biasa dipanggil Sasan itu untuk belajar memotret juga sederhana. Tidak ingin
tempat-tempat yang dia kunjungi lewat begitu saja. Dia memang hobi berkeliling
banyak tempat, jalan-jalan.

Keterampilan memotret
itu akhirnya membawa Sasan kini dikenal nyaris semua pimpinan satuan TNI-AU.
Jepretannya membuat mereka terkagum-kagum sehingga terus dimintai tolong
memotret berbagai kegiatan matra udara. ’’Pertama masuk lingkungan militer
2011,’’ kata perempuan yang berulang tahun tiap 14 November itu kepada Jawa Pos
(Grup Kalteng Pos).

Skuadron Udara 3
Pangkalan Udara TNI-AU Iswahyudi menjadi tempat perdana Sasan untuk memotret
pesawat militer. Objeknya pesawat tempur F-16.

Hanya di darat memang.
Namun, kesempatan itu benar-benar dimaksimalkan. Hasilnya, pimpinan skuadron
tersebut suka. Tersebarlah foto-foto itu. Berikut nama fotografernya. Dari
mulut ke mulut, nama Sasan disebut. Sejak itu, alumnus Politeknik Negeri
Bandung tersebut dikenal jajaran TNI-AU.

Nyaris setiap TNI-AU
punya acara, Sasan hadir. Mulai latihan sampai operasi-operasi tertentu.
Belakangan, potret perempuan berdarah Sunda itu ramai menjadi bahan
perbincangan di jagat maya.

Mengenakan setelan
Dinas Penerangan TNI-AU, dia tampak duduk asyik di ekor pesawat Hercules.
Lengkap dengan kamera di tangannya. Dari kejauhan, tampak pula pesawat Boeing
milik Angkatan Udara terbang.

Sempat dikira personel
TNI-AU, Sasan menegaskan bahwa dirinya fotografer sipil. Hanya karena
bertahun-tahun memotret pesawat-pesawat tempur, Sasan diberi setelan Dinas
Penerangan TNI-AU.

Baca Juga :  Orientasi Berkesenian Jangan untuk Materi atau Uang, tapi Sebagai Sebu

’’Akses aja sebenarnya,
supaya nggak ribet,’’ kata dia.

Melihat potret Sasan di
ekor pesawat Hercules, banyak orang yang memuji. Walau dengan pengamanan
memadai, tidak banyak yang berani.

Bagi Sasan, itu biasa
saja. Sebab, ketika memutuskan menjadikan pesawat-pesawat TNI sebagai objek
spesial, dia harus siap.

Sampai-sampai sekarang
malah ketagihan memotret dari ekor pesawat TNI-AU atau dari ujung pintu
helikopter. Tantangan yang membuat dia kadang repot justru bukan ketinggian.
Melainkan cuaca saat mengambil gambar.

Pertengahan Agustus
lalu, misalnya, Federasi Aero Sport Indonesia (FASI) yang dibina TNI meminta
Sasan untuk memotret mereka. Bukan untuk acara biasa: pemecahan rekor Muri
pengibaran bendera Merah Putih di udara.

Momen itu istimewa
karena dilaksanakan untuk menyambut HUT Ke-75 RI. Di ketinggian 2.020 dari atas
permukaan laut, Sasan harus mengabadikan gambar paramotor terjun dari pesawat,
kemudian mengibarkan bendera.

Memotret di ketinggian
tersebut, kata Sasan, tidak cuma butuh pengalaman serta keberanian. Dibutuhkan
pula ketangkasan dan kecepatan untuk membidik objek.

’’Karena paramotornya
cepat banget,’’ imbuhnya.

Selain itu, suhu turut
menjadi tantangan. ’’Ketinggian segitu dingin sekali,’’ tambah dia.

Belum lagi durasi
penerjunan yang cepat. Tantangan-tantangan seperti itu, lanjut dia, lebih berat
ketimbang mengambil gambar dari ujung ekor pesawat.

Meski begitu, tak
berarti pula memotret pesawat yang tengah melesat dengan kecepatan ekstratinggi
adalah perkara gampang. Walau sudah menjadi hal biasa bagi Sasan, tetap saja
semua itu harus dilakukan dengan hati-hati.

Bukan hanya faktor
keamanan, hasil jepretan pun tidak boleh sia-sia. Sebab, sekali pesawat TNI terbang,
ada anggaran negara yang dipakai. Apalagi kalau urusannya sudah dengan pesawat
tempur.

Baca Juga :  Kisah Pahit Ojol Saat Mendapat Order Fiktif

Perempuan yang pernah
terpilih sebagai pasukan pengibar bendera di Bandung, Jawa Barat, itu mengakui
bahwa memotret pesawat tempur tidaklah mudah.

Apalagi saat latihan
atau operasi terbang malam. Kemampuan kamera dan fotografer benar-benar diuji.
Kali terakhir dia dipanggil TNI-AU September lalu. Saat mereka melaksanakan
latihan sikatan daya di Lumajang, Jawa Timur.

Dalam latihan itu,
Sasan harus mengabadikan pesawat-pesawat TNI-AU beroperasi di malam hari. Tak
cuma butuh kejelian, Sasan juga harus putar otak lantaran minim cahaya.

Ditambah pergerakan
pesawat yang sangat cepat, dia tidak boleh lengah sedikit pun.
Pengalaman-pengalaman itu, lanjut Sasan, membuat dirinya bisa terus belajar.
Walau foto-fotonya sudah diakui Angkatan Udara, dia tidak cepat berpuas diri.

Sasan memang bukan
tipikal orang yang senang mematok target. ’’Nanti nggak kesampaian, kecewa,’’
candanya.

Kini, selain memotret
pesawat-pesawat TNI-AU, dia menjadi pengajar tetap Darwis Triadi School of
Photography. Selain mengajar, di sana Sasan menambah pengalaman sebagai
fotografer.

Kepala Dinas Penerangan
TNI-AU Marsekal Pertama TNI Fajar Adriyanto mengungkapkan, Sasan sudah lama
membantu TNI-AU. ’’Dia suka datang ke (Pangkalan Udara) Halim (Perdanakusuma)
saat ada acara fly pass pesawat-pesawat tempur,’’ kata Fajar. Perwira tinggi
bintang satu TNI-AU itu mengakui hasil jepretan Sasan memang memukau. ’’Lalu,
2011 Sasan mulai kami ajak untuk foto-foto beberapa kegiatan TNI-AU,’’
sambungnya.

Dari sana, hubungan
Sasan dengan TNI-AU tidak pernah putus. Fajar menyebut Sasan termasuk
fotografer yang berdedikasi tinggi. ’’Pemberani, foto-fotonya tajam, dan punya
rasa seni tinggi dalam mengambil sudut pemotretan,’’ kata dia.

Untuk urusan pemotretan
bersama presiden pun, TNI-AU memercayakan kepada Sasan. ’’Foto pesawat tempur,
pesawat VIP, angkut, helikopter, kalender TNI-AU juga,’’ bebernya. 

Berawal dari F-16 di
darat, Sandriani Permani sudah terbang jauh bersama kameranya: mulai mengambil
gambar di ekor pesawat Hercules sampai memotret pesawat yang sedang berlatih di
malam hari.

SAHRUL YUNIZAR, Jakarta

TIDAK dibutuhkan
waktu lama bagi Sandriani Permani untuk lulus dari Darwis Triadi School of
Photography. Membulatkan tekad belajar memotret 2010 silam, tahun itu pula dia
menuntaskan kursus di sekolah tersebut.

Motivasi perempuan yang
biasa dipanggil Sasan itu untuk belajar memotret juga sederhana. Tidak ingin
tempat-tempat yang dia kunjungi lewat begitu saja. Dia memang hobi berkeliling
banyak tempat, jalan-jalan.

Keterampilan memotret
itu akhirnya membawa Sasan kini dikenal nyaris semua pimpinan satuan TNI-AU.
Jepretannya membuat mereka terkagum-kagum sehingga terus dimintai tolong
memotret berbagai kegiatan matra udara. ’’Pertama masuk lingkungan militer
2011,’’ kata perempuan yang berulang tahun tiap 14 November itu kepada Jawa Pos
(Grup Kalteng Pos).

Skuadron Udara 3
Pangkalan Udara TNI-AU Iswahyudi menjadi tempat perdana Sasan untuk memotret
pesawat militer. Objeknya pesawat tempur F-16.

Hanya di darat memang.
Namun, kesempatan itu benar-benar dimaksimalkan. Hasilnya, pimpinan skuadron
tersebut suka. Tersebarlah foto-foto itu. Berikut nama fotografernya. Dari
mulut ke mulut, nama Sasan disebut. Sejak itu, alumnus Politeknik Negeri
Bandung tersebut dikenal jajaran TNI-AU.

Nyaris setiap TNI-AU
punya acara, Sasan hadir. Mulai latihan sampai operasi-operasi tertentu.
Belakangan, potret perempuan berdarah Sunda itu ramai menjadi bahan
perbincangan di jagat maya.

Mengenakan setelan
Dinas Penerangan TNI-AU, dia tampak duduk asyik di ekor pesawat Hercules.
Lengkap dengan kamera di tangannya. Dari kejauhan, tampak pula pesawat Boeing
milik Angkatan Udara terbang.

Sempat dikira personel
TNI-AU, Sasan menegaskan bahwa dirinya fotografer sipil. Hanya karena
bertahun-tahun memotret pesawat-pesawat tempur, Sasan diberi setelan Dinas
Penerangan TNI-AU.

Baca Juga :  Orientasi Berkesenian Jangan untuk Materi atau Uang, tapi Sebagai Sebu

’’Akses aja sebenarnya,
supaya nggak ribet,’’ kata dia.

Melihat potret Sasan di
ekor pesawat Hercules, banyak orang yang memuji. Walau dengan pengamanan
memadai, tidak banyak yang berani.

Bagi Sasan, itu biasa
saja. Sebab, ketika memutuskan menjadikan pesawat-pesawat TNI sebagai objek
spesial, dia harus siap.

Sampai-sampai sekarang
malah ketagihan memotret dari ekor pesawat TNI-AU atau dari ujung pintu
helikopter. Tantangan yang membuat dia kadang repot justru bukan ketinggian.
Melainkan cuaca saat mengambil gambar.

Pertengahan Agustus
lalu, misalnya, Federasi Aero Sport Indonesia (FASI) yang dibina TNI meminta
Sasan untuk memotret mereka. Bukan untuk acara biasa: pemecahan rekor Muri
pengibaran bendera Merah Putih di udara.

Momen itu istimewa
karena dilaksanakan untuk menyambut HUT Ke-75 RI. Di ketinggian 2.020 dari atas
permukaan laut, Sasan harus mengabadikan gambar paramotor terjun dari pesawat,
kemudian mengibarkan bendera.

Memotret di ketinggian
tersebut, kata Sasan, tidak cuma butuh pengalaman serta keberanian. Dibutuhkan
pula ketangkasan dan kecepatan untuk membidik objek.

’’Karena paramotornya
cepat banget,’’ imbuhnya.

Selain itu, suhu turut
menjadi tantangan. ’’Ketinggian segitu dingin sekali,’’ tambah dia.

Belum lagi durasi
penerjunan yang cepat. Tantangan-tantangan seperti itu, lanjut dia, lebih berat
ketimbang mengambil gambar dari ujung ekor pesawat.

Meski begitu, tak
berarti pula memotret pesawat yang tengah melesat dengan kecepatan ekstratinggi
adalah perkara gampang. Walau sudah menjadi hal biasa bagi Sasan, tetap saja
semua itu harus dilakukan dengan hati-hati.

Bukan hanya faktor
keamanan, hasil jepretan pun tidak boleh sia-sia. Sebab, sekali pesawat TNI terbang,
ada anggaran negara yang dipakai. Apalagi kalau urusannya sudah dengan pesawat
tempur.

Baca Juga :  Kisah Pahit Ojol Saat Mendapat Order Fiktif

Perempuan yang pernah
terpilih sebagai pasukan pengibar bendera di Bandung, Jawa Barat, itu mengakui
bahwa memotret pesawat tempur tidaklah mudah.

Apalagi saat latihan
atau operasi terbang malam. Kemampuan kamera dan fotografer benar-benar diuji.
Kali terakhir dia dipanggil TNI-AU September lalu. Saat mereka melaksanakan
latihan sikatan daya di Lumajang, Jawa Timur.

Dalam latihan itu,
Sasan harus mengabadikan pesawat-pesawat TNI-AU beroperasi di malam hari. Tak
cuma butuh kejelian, Sasan juga harus putar otak lantaran minim cahaya.

Ditambah pergerakan
pesawat yang sangat cepat, dia tidak boleh lengah sedikit pun.
Pengalaman-pengalaman itu, lanjut Sasan, membuat dirinya bisa terus belajar.
Walau foto-fotonya sudah diakui Angkatan Udara, dia tidak cepat berpuas diri.

Sasan memang bukan
tipikal orang yang senang mematok target. ’’Nanti nggak kesampaian, kecewa,’’
candanya.

Kini, selain memotret
pesawat-pesawat TNI-AU, dia menjadi pengajar tetap Darwis Triadi School of
Photography. Selain mengajar, di sana Sasan menambah pengalaman sebagai
fotografer.

Kepala Dinas Penerangan
TNI-AU Marsekal Pertama TNI Fajar Adriyanto mengungkapkan, Sasan sudah lama
membantu TNI-AU. ’’Dia suka datang ke (Pangkalan Udara) Halim (Perdanakusuma)
saat ada acara fly pass pesawat-pesawat tempur,’’ kata Fajar. Perwira tinggi
bintang satu TNI-AU itu mengakui hasil jepretan Sasan memang memukau. ’’Lalu,
2011 Sasan mulai kami ajak untuk foto-foto beberapa kegiatan TNI-AU,’’
sambungnya.

Dari sana, hubungan
Sasan dengan TNI-AU tidak pernah putus. Fajar menyebut Sasan termasuk
fotografer yang berdedikasi tinggi. ’’Pemberani, foto-fotonya tajam, dan punya
rasa seni tinggi dalam mengambil sudut pemotretan,’’ kata dia.

Untuk urusan pemotretan
bersama presiden pun, TNI-AU memercayakan kepada Sasan. ’’Foto pesawat tempur,
pesawat VIP, angkut, helikopter, kalender TNI-AU juga,’’ bebernya. 

spot_img
spot_img

Terpopuler

spot_img

Artikel Terbaru