29 C
Jakarta
Thursday, June 13, 2024
spot_img

Orientasi Berkesenian Jangan untuk Materi atau Uang, tapi Sebagai Sebu

Russella Narpan M Apoi
merupakan salah satu aktor penting di balik kesuksesan tim kolaborasi tari Hyang
Dadas di Istana Negara, Sabtu (17/8). Kendati dalam usia senjanya, ia tetap
semangat berkiprah dalam dunia pertunjukan tari.

 

EMANUEL
LIU,

Jakarta

======================–

SATU per satu
gerakan mulai diperagakan oleh para penari yang tergabung dalam kolaborasi tari
Hyang Dadas, saat peringatan detik-detik proklamasi 17 Agustus 2019, di Istana
Negara, Jakarta. Tamu undangan dibuat kagum. Terpukau dengan penampilan yang
diperagakan 257 penari Kalteng saat itu. Melangkah dan berayun sembari
melenggak-lenggok. Tarian berdurasi 15 menit tersebut menyampaikan banyak pesan.

Yang paling menyita
perhatian adalah sosok penari senior berusia 80 tahun. Meski telah uzur usia, tapi tak menjadi
penghalang baginya untuk bergerak anggun saat menari. Maestro tari Kalteng, Russella
Narpan M Apoi, bergerak seolah tak terhalang tulang dan kulit yang semakin
mengeriput. Tetap semangat menunjukkan gerakan tari yang indah dipandang.

“Saya memperagakan tari
Kinyah Mandau Bawi, satu sajian atau kolaborasi dengan tari Hyang Dadas,” katanya
ketika berbincang-bincang dengan Kalteng Pos usai penampilan itu.

Sebagai seorang maestro
tari wanita Kalteng, yang terus ingin memberikan contoh dan melestarikan budaya
Bumi Tambun
Bungai, Rusella merupakan penari dengan
spesifikasi tari Kinyah Mandau Bawi. Bahkan ia sudah menari saat peletakan batu
pertama di Palangka Raya oleh Presiden Soekarno pada 1957 silam.

Baca Juga :  Ketika PSBB Bikin Kesenian Beralih ke Dunia Maya

“Tahun 2007 juga pernah
ikut dalam penampilan indoor di Istana Negara, Bogor, dalam acara Jamuan Coffee
Morning bersama Presiden SBY dan mendiang Ani Yudhoyono serta seluruh duta besar,”
celetuk salah satu putra Russella Narpan M Apoi, Erliansyah.

Rusella mengantongi segudang
pengalaman. Sederet kisah ibu kelahiran Kuala Kapuas, 8 November 1939 tersebut,
di antaranya menjadi penari dalam ajang Pekan Pemuda di Surabaya (event
nasional pertama yang diikuti Kalteng pada 1957). Selain itu, menjadi penari dalam
acara penyambutan duta besar, presiden, menteri-menteri, serta tamu-tamu
penting negara saat berkunjung ke Kabupaten Kapuas. Ia pun sering mengikuti festival-festival
tarian nasional.

Kesetiaannya pada dunia
tari mengantarnya bisa menerima berbagai penghargaan. Di antaranya, Anugerah Kebudayaan
dan Maestro Seni Tradisi, Penghargaan 10 Inspirasi Permata In dan Women
Inspiration Seni Tradisi.

Ibu tujuh anak tersebut
juga mengisahkan, dirinya dilahirkan dari orang tua yang juga mendedikasikan diri
untuk seni budaya Dayak Ngaju. Ayahnya merupakan Basir Upu pelaksana inti ritual
Balian. Suaminya (alm) Narpan M Apoi mengabdi sebagai damang kepala adat dan
perintis pelopor kesenian Kabupaten Kapuas yang menjadi cikal bakal kesenian Kalteng.

Kecintaannya terhadap
seni budaya tidak semata karena keturunan dan darah seni yang mengalir dalam
dirinya. Akan tetapi lebih pada panggilan jiwa dan kesadarannya untuk menjaga
dan melestarikan seni budaya sebagai kearifan lokal, yang patut dipertahankan sebagai
jati diri budaya Dayak.

Baca Juga :  Semua Pihak Punya Tanggung Jawab Akhiri Pandemi

Ia meminta generasi
muda Kalteng terus melestarikan kesenian daerah dengan hati yang tulus dan
ikhlas, beretika dalam berkesenian dengan tetap menjaga nilai-nilai keaslian
(originalities), serta tidak malu dengan budaya sendiri.

“Orientasi berkesenian
jangan untuk materi atau uang, tapi sebagai sebuah tuntutan jiwa. Hidup untuk
berkesenian, bukan berkesenian untuk hidup. Selalu rendah hati dan jangan
merasa hebat dengan ilmu serta pengalaman yang sudah didapat. Terus gali
potensi diri dan kembangkan dalam karya yang tetap berpijak pada ragam asli,
karena itulah pakemnya,” tuturnya.

Menurutnya, kendala-kendala
yang dihadapi dalam berkesenian merupakan tantangan mental yang harus dihadapi
dengan kepala dingin dan sabar. Jangan pernah menyerah.

Kegigihannya
melestarikan tari Kalteng, mengantarkan Russella sebagai koreografer tari Hyang
Dadas (Abib Igal) untuk tampil di Istana Negara saat peringatan HUT ke-74
Kemerdekaan RI tahun ini.

“Saat penampilan di Istana
Negara 17 Agustus lalu, menggunakan tameng atau talawang (perisai) yang sama
saat peletakan batu pertama di Palangka Raya pada 1957. Kemudian menggunakan
busana Sangkarut Blusuh berusia 157 tahun yang merupakan warisan ayah,” terangnya.

Sebelum mengakhiri perbincangannya, Rusella
kembali menegaskan, dedikasi di dunia tari yang terus dijalaninya hingga kini, merupakan
caranya menyebarkan semangat kepada generasi muda untuk melestarikan budaya dan
menjaga warisan leluhur. (*/ce)

Russella Narpan M Apoi
merupakan salah satu aktor penting di balik kesuksesan tim kolaborasi tari Hyang
Dadas di Istana Negara, Sabtu (17/8). Kendati dalam usia senjanya, ia tetap
semangat berkiprah dalam dunia pertunjukan tari.

 

EMANUEL
LIU,

Jakarta

======================–

SATU per satu
gerakan mulai diperagakan oleh para penari yang tergabung dalam kolaborasi tari
Hyang Dadas, saat peringatan detik-detik proklamasi 17 Agustus 2019, di Istana
Negara, Jakarta. Tamu undangan dibuat kagum. Terpukau dengan penampilan yang
diperagakan 257 penari Kalteng saat itu. Melangkah dan berayun sembari
melenggak-lenggok. Tarian berdurasi 15 menit tersebut menyampaikan banyak pesan.

Yang paling menyita
perhatian adalah sosok penari senior berusia 80 tahun. Meski telah uzur usia, tapi tak menjadi
penghalang baginya untuk bergerak anggun saat menari. Maestro tari Kalteng, Russella
Narpan M Apoi, bergerak seolah tak terhalang tulang dan kulit yang semakin
mengeriput. Tetap semangat menunjukkan gerakan tari yang indah dipandang.

“Saya memperagakan tari
Kinyah Mandau Bawi, satu sajian atau kolaborasi dengan tari Hyang Dadas,” katanya
ketika berbincang-bincang dengan Kalteng Pos usai penampilan itu.

Sebagai seorang maestro
tari wanita Kalteng, yang terus ingin memberikan contoh dan melestarikan budaya
Bumi Tambun
Bungai, Rusella merupakan penari dengan
spesifikasi tari Kinyah Mandau Bawi. Bahkan ia sudah menari saat peletakan batu
pertama di Palangka Raya oleh Presiden Soekarno pada 1957 silam.

Baca Juga :  Ketika PSBB Bikin Kesenian Beralih ke Dunia Maya

“Tahun 2007 juga pernah
ikut dalam penampilan indoor di Istana Negara, Bogor, dalam acara Jamuan Coffee
Morning bersama Presiden SBY dan mendiang Ani Yudhoyono serta seluruh duta besar,”
celetuk salah satu putra Russella Narpan M Apoi, Erliansyah.

Rusella mengantongi segudang
pengalaman. Sederet kisah ibu kelahiran Kuala Kapuas, 8 November 1939 tersebut,
di antaranya menjadi penari dalam ajang Pekan Pemuda di Surabaya (event
nasional pertama yang diikuti Kalteng pada 1957). Selain itu, menjadi penari dalam
acara penyambutan duta besar, presiden, menteri-menteri, serta tamu-tamu
penting negara saat berkunjung ke Kabupaten Kapuas. Ia pun sering mengikuti festival-festival
tarian nasional.

Kesetiaannya pada dunia
tari mengantarnya bisa menerima berbagai penghargaan. Di antaranya, Anugerah Kebudayaan
dan Maestro Seni Tradisi, Penghargaan 10 Inspirasi Permata In dan Women
Inspiration Seni Tradisi.

Ibu tujuh anak tersebut
juga mengisahkan, dirinya dilahirkan dari orang tua yang juga mendedikasikan diri
untuk seni budaya Dayak Ngaju. Ayahnya merupakan Basir Upu pelaksana inti ritual
Balian. Suaminya (alm) Narpan M Apoi mengabdi sebagai damang kepala adat dan
perintis pelopor kesenian Kabupaten Kapuas yang menjadi cikal bakal kesenian Kalteng.

Kecintaannya terhadap
seni budaya tidak semata karena keturunan dan darah seni yang mengalir dalam
dirinya. Akan tetapi lebih pada panggilan jiwa dan kesadarannya untuk menjaga
dan melestarikan seni budaya sebagai kearifan lokal, yang patut dipertahankan sebagai
jati diri budaya Dayak.

Baca Juga :  Semua Pihak Punya Tanggung Jawab Akhiri Pandemi

Ia meminta generasi
muda Kalteng terus melestarikan kesenian daerah dengan hati yang tulus dan
ikhlas, beretika dalam berkesenian dengan tetap menjaga nilai-nilai keaslian
(originalities), serta tidak malu dengan budaya sendiri.

“Orientasi berkesenian
jangan untuk materi atau uang, tapi sebagai sebuah tuntutan jiwa. Hidup untuk
berkesenian, bukan berkesenian untuk hidup. Selalu rendah hati dan jangan
merasa hebat dengan ilmu serta pengalaman yang sudah didapat. Terus gali
potensi diri dan kembangkan dalam karya yang tetap berpijak pada ragam asli,
karena itulah pakemnya,” tuturnya.

Menurutnya, kendala-kendala
yang dihadapi dalam berkesenian merupakan tantangan mental yang harus dihadapi
dengan kepala dingin dan sabar. Jangan pernah menyerah.

Kegigihannya
melestarikan tari Kalteng, mengantarkan Russella sebagai koreografer tari Hyang
Dadas (Abib Igal) untuk tampil di Istana Negara saat peringatan HUT ke-74
Kemerdekaan RI tahun ini.

“Saat penampilan di Istana
Negara 17 Agustus lalu, menggunakan tameng atau talawang (perisai) yang sama
saat peletakan batu pertama di Palangka Raya pada 1957. Kemudian menggunakan
busana Sangkarut Blusuh berusia 157 tahun yang merupakan warisan ayah,” terangnya.

Sebelum mengakhiri perbincangannya, Rusella
kembali menegaskan, dedikasi di dunia tari yang terus dijalaninya hingga kini, merupakan
caranya menyebarkan semangat kepada generasi muda untuk melestarikan budaya dan
menjaga warisan leluhur. (*/ce)

spot_img
spot_img

Terpopuler

spot_img

Artikel Terbaru