Teduh di Bawah Kubah Kecubung: Lebih dari Sekadar Tempat Sujud

AWAN mendung berarak pelan di langit Kota Palangka Raya siang itu, Jumat (3/4/2026).  Cuaca tersebut seolah memberi payung alami bagi ribuan langkah kaki yang menuju satu titik ke  Masjid Agung Kubah Kecubung Darurrahman. Masjid yang kini berdiri anggun di Jalan RTA Milono itu, bukan sekadar bangunan megah saja, melainkan sebuah pelabuhan ketenangan bagi siapa saja yang datang.

Anandri, Palangka Raya

Di balik kemegahan arsitektur bergaya Timur Tengah yang dipadukan dengan sentuhan klasik-modern, tersimpan kisah tentang kesabaran. Pembangunannya bukanlah perjalanan yang singkat. Pasalnya, dimulai sejak tahun 2011, masjid ini sempat terhenti langkahnya karena kendala anggaran hingga hantaman pandemi COVID-19.

Butuh waktu 12 tahun lamanya hingga akhirnya pada tahun 2023, pintu-pintunya terbuka lebar untuk jemaah. Masa penantian panjang itu kini terbayar dengan kehadiran sebuah ikon religi yang bisa menyatukan hati masyarakat Kota Palangka Raya

Baca Juga :  Satpol PP Siap Jaga Keamanan Paskah Nasional 2024

Terbukti, kenyamanan masjid ini dirasakan betul oleh Arif, seorang warga asal Seruyan yang sedang singgah di Palangka Raya. Baginya, ada getaran berbeda saat bersujud di lantai masjid ini.

“Saya sangat suka beribadah di sini, tempatnya nyaman dan suasananya juga tenang,” ungkapnya tulus.

Harapan Arif sangat sederhana namun mendalam. Yakni ia ingin tempat tersbeut menjadi titik temu bagi seluruh jemaah Muslim di Kalimantan Tengah dalam mempererat persaudaraan.

Electronic money exchangers listing

Tepat pukul 11.30 WIB, suara khutbah pun mulai menggema, mengajak jemaah merenungi pentingnya akidah dan akhlak. Pesan yang disampaikan Khatib siang itu terasa begitu relevan dengan suasana masjid. Ya, tentang pentingnya berbuat baik kepada sesama manusia dan meningkatkan ketakwaan sebagai umat muslim.

Pemandangan di dalam masjid pun menghangatkan hati. Di antara barisan saf, terlihat para orang tua yang dengan telaten membimbing anak-anak mereka mengenal rumah Tuhan sejak dini. Ada sebuah estafet iman yang sedang diajarkan di sana.

Baca Juga :  Dua Dokter yang Meninggal Kemarin karena Covid-19

Kini, hadirnya Masjid Kubah Kecubung ini bukan lagi sekadar tempat singgah untuk menunaikan kewajiban salat. Tempat tersebut telah tumbuh menjadi pusat aktivitas keagamaan yang mempererat ikatan masyarakat di Kota Palangka Raya.

Dengan fasilitas yang kian lengkap, masjid yang mulai dibangun di era Wali Kota Palangka Raya, Riban Satia (2008—2013 dan 2013—2018) itu, menawarkan tempat spritual bagi setiap jiwa yang lelah di tengah hiruk-pikuk dunia.

Di bawah kubahnya yang berwarna ungu menawan, setiap orang diterima dengan tangan terbuka. Di sana akan menemukan keteduhan yang sama, dan pulang dengan hati yang lebih tenang. (*/hnd)

 

AWAN mendung berarak pelan di langit Kota Palangka Raya siang itu, Jumat (3/4/2026).  Cuaca tersebut seolah memberi payung alami bagi ribuan langkah kaki yang menuju satu titik ke  Masjid Agung Kubah Kecubung Darurrahman. Masjid yang kini berdiri anggun di Jalan RTA Milono itu, bukan sekadar bangunan megah saja, melainkan sebuah pelabuhan ketenangan bagi siapa saja yang datang.

Anandri, Palangka Raya

Di balik kemegahan arsitektur bergaya Timur Tengah yang dipadukan dengan sentuhan klasik-modern, tersimpan kisah tentang kesabaran. Pembangunannya bukanlah perjalanan yang singkat. Pasalnya, dimulai sejak tahun 2011, masjid ini sempat terhenti langkahnya karena kendala anggaran hingga hantaman pandemi COVID-19.

Electronic money exchangers listing

Butuh waktu 12 tahun lamanya hingga akhirnya pada tahun 2023, pintu-pintunya terbuka lebar untuk jemaah. Masa penantian panjang itu kini terbayar dengan kehadiran sebuah ikon religi yang bisa menyatukan hati masyarakat Kota Palangka Raya

Baca Juga :  Satpol PP Siap Jaga Keamanan Paskah Nasional 2024

Terbukti, kenyamanan masjid ini dirasakan betul oleh Arif, seorang warga asal Seruyan yang sedang singgah di Palangka Raya. Baginya, ada getaran berbeda saat bersujud di lantai masjid ini.

“Saya sangat suka beribadah di sini, tempatnya nyaman dan suasananya juga tenang,” ungkapnya tulus.

Harapan Arif sangat sederhana namun mendalam. Yakni ia ingin tempat tersbeut menjadi titik temu bagi seluruh jemaah Muslim di Kalimantan Tengah dalam mempererat persaudaraan.

Tepat pukul 11.30 WIB, suara khutbah pun mulai menggema, mengajak jemaah merenungi pentingnya akidah dan akhlak. Pesan yang disampaikan Khatib siang itu terasa begitu relevan dengan suasana masjid. Ya, tentang pentingnya berbuat baik kepada sesama manusia dan meningkatkan ketakwaan sebagai umat muslim.

Pemandangan di dalam masjid pun menghangatkan hati. Di antara barisan saf, terlihat para orang tua yang dengan telaten membimbing anak-anak mereka mengenal rumah Tuhan sejak dini. Ada sebuah estafet iman yang sedang diajarkan di sana.

Baca Juga :  Dua Dokter yang Meninggal Kemarin karena Covid-19

Kini, hadirnya Masjid Kubah Kecubung ini bukan lagi sekadar tempat singgah untuk menunaikan kewajiban salat. Tempat tersebut telah tumbuh menjadi pusat aktivitas keagamaan yang mempererat ikatan masyarakat di Kota Palangka Raya.

Dengan fasilitas yang kian lengkap, masjid yang mulai dibangun di era Wali Kota Palangka Raya, Riban Satia (2008—2013 dan 2013—2018) itu, menawarkan tempat spritual bagi setiap jiwa yang lelah di tengah hiruk-pikuk dunia.

Di bawah kubahnya yang berwarna ungu menawan, setiap orang diterima dengan tangan terbuka. Di sana akan menemukan keteduhan yang sama, dan pulang dengan hati yang lebih tenang. (*/hnd)

 

Terpopuler

Artikel Terbaru