Sudah 5 Kali Reshuffle, Pengamat: Kabinet Prabowo Masih Terlalu Gemuk

PALANGKA RAYA, PROKALTENG.CO – Sudah lima kali reshuffle Kabinet Merah Putih dilakukan dalam 1,5 tahun pemerintahan Prabowo-Gibran. Namun, langkah tersebut dinilai belum menyelesaikan persoalan utama, yakni postur kabinet yang terlalu gemuk dan belum efisien.

Pengamat politik Ricky Zulfauzan menilai, reshuffle kabinet seharusnya tidak sekadar bongkar pasang posisi menteri. Menurutnya, pemerintah justru perlu fokus pada perampingan kabinet agar kinerja lebih efektif.

“Bayangkan saja ada 109 orang yang duduk, baik sebagai menteri maupun wakil menteri. Ini memecahkan rekor kabinet terbanyak di Indonesia,” ujar Ricky, Rabu (29/4/2026).

Akademisi UPR itu menegaskan, esensi pemerintahan seharusnya mengedepankan efisiensi. Namun, kondisi Kabinet Merah Putih saat ini dinilai masih jauh dari harapan.

Baca Juga :  Anggota DPRD PDIP se Kalteng Ikuti Workshop Peningkatan Kapasitas

Ia juga mengungkap sejumlah faktor yang memicu reshuffle dilakukan berulang kali, baik dari sisi manajerial maupun dinamika politik.

“Pertama, kegagalan menjalankan arahan Presiden. Kedua, ketidakmampuan bekerja sama di dalam tim kabinet. Ketiga, faktor politik, biasanya ada permintaan dari partai pengusung menteri,” jelasnya.

Ricky menambahkan, label “kabinet gemuk” yang sejak awal disematkan masih relevan hingga sekarang.

Electronic money exchangers listing

Menurutnya, dengan jumlah personel yang besar dan frekuensi reshuffle yang tinggi, pemerintah perlu melakukan evaluasi lebih mendasar.

“Istilah kabinet gemuk itu masih sangat relevan. Seharusnya bukan reshuffle yang diutamakan, tetapi perampingan kabinet agar lebih efektif,” pungkasnya. (her)

PALANGKA RAYA, PROKALTENG.CO – Sudah lima kali reshuffle Kabinet Merah Putih dilakukan dalam 1,5 tahun pemerintahan Prabowo-Gibran. Namun, langkah tersebut dinilai belum menyelesaikan persoalan utama, yakni postur kabinet yang terlalu gemuk dan belum efisien.

Pengamat politik Ricky Zulfauzan menilai, reshuffle kabinet seharusnya tidak sekadar bongkar pasang posisi menteri. Menurutnya, pemerintah justru perlu fokus pada perampingan kabinet agar kinerja lebih efektif.

“Bayangkan saja ada 109 orang yang duduk, baik sebagai menteri maupun wakil menteri. Ini memecahkan rekor kabinet terbanyak di Indonesia,” ujar Ricky, Rabu (29/4/2026).

Electronic money exchangers listing

Akademisi UPR itu menegaskan, esensi pemerintahan seharusnya mengedepankan efisiensi. Namun, kondisi Kabinet Merah Putih saat ini dinilai masih jauh dari harapan.

Baca Juga :  Anggota DPRD PDIP se Kalteng Ikuti Workshop Peningkatan Kapasitas

Ia juga mengungkap sejumlah faktor yang memicu reshuffle dilakukan berulang kali, baik dari sisi manajerial maupun dinamika politik.

“Pertama, kegagalan menjalankan arahan Presiden. Kedua, ketidakmampuan bekerja sama di dalam tim kabinet. Ketiga, faktor politik, biasanya ada permintaan dari partai pengusung menteri,” jelasnya.

Ricky menambahkan, label “kabinet gemuk” yang sejak awal disematkan masih relevan hingga sekarang.

Menurutnya, dengan jumlah personel yang besar dan frekuensi reshuffle yang tinggi, pemerintah perlu melakukan evaluasi lebih mendasar.

“Istilah kabinet gemuk itu masih sangat relevan. Seharusnya bukan reshuffle yang diutamakan, tetapi perampingan kabinet agar lebih efektif,” pungkasnya. (her)

Terpopuler

Artikel Terbaru