Kesetiaan di Ujung Sikat: Kisah Herman dalam Melawan Waktu

DI sudut Kota Palangka Raya, saat matahari mulai meninggi, seorang pria paruh baya tampak berjalan perlahan dengan tas yang setia di bawanya. Namanya Herman. Di usianya yang menginjak 59 tahun, ia adalah salah satu penjaga sisa-sisa tradisi yang kian pudar. Ya, jasa semir sepatu keliling.

Jefri, Palangka Raya

LAHIR di Barabai, Kalimantan Selatan pada tahun 1966 silam, Herman bukanlah orang baru dalam kerasnya kehidupan jalanan. Jiwa merantaunya telah membawanya menapaki aspal Sumatra, hiruk-pikuk Jakarta, hingga dinginnya Bandung. Namun, sejak tahun 1993, hatinya mulai tertambat di Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah.

“Saya sudah terbiasa merantau dan bergaul dengan orang di berbagai daerah,” kenangnya dengan nada bicara yang tenang saat dibincangi Prokalteng.co, Kamis (2/4/2026).

Pengalaman hidup itulah yang membentuknya menjadi sosok yang ulet dan penuh tata krama. Selama 16 tahun terakhir, tas perlengkapan semir adalah napasnya. Ada satu detail kecil yang menunjukkan betapa ia sangat menghargai pelanggannya. Yaitu di dalam tas tersebut, ia selalu menyiapkan sandal untuk dipinjamkan kepada pelanggan. Sebab, ia tak ingin pelanggannya bertelanjang kaki saat menunggu sepatu mereka ia buat mengkilap kembali.

Baca Juga :  Kisah Pedagang Pasar Kahayan, 11 Tahun Jualan, Baru Sekarang Lapak Kebanjiran

Namun, zaman berubah lebih cepat dari gerakan sikatnya. Herman bercerita dengan jujur bahwa minat masyarakat kini sudah merosot tajam hingga 70 persen terhadap jasanya itu.

“Dulu sepatu kulit banyak dipakai, sekarang sudah jarang,” keluhnya pelan.

Electronic money exchangers listing

Bagi Herman, dari jasanya itu bukan lagi soal mematok harga. Saat ditanya tarif, ia hanya tersenyum. Menurutnya biasa ia menerima kisaran Rp3000 hingga Rp10000  atau berapapun yang diberikan pelanggan dengan sukarela.

“Dikasih berapa saja, yang penting halal,” ucapnya lirih.

Kalimat itu bukan sekadar bumbu percakapan. Sebagai kepala keluarga dengan seorang istri dan tiga anak, Herman terbukti telah memikul beban yang nyata. Di usia senjanya, ia menyadari bahwa mencari pekerjaan baru bukanlah perkara mudah. Maka, bertahan adalah satu-satunya pilihan yang ia miliki saat ini.

Baca Juga :  Bikin Waktu Lebih Menyenangkan, Ini 8 Ide Ngabuburit Asyik Jelang Buka Puasa Ramadan

Melihat sosok Herman, adalah potret nyata dari ketekunan yang mulai perlahan terlupakan. Di tengah kepungan tren alas kaki modern dan gaya hidup serba cepat, ia tetap memilih untuk berjalan kaki keliling kota, menawarkan jasanya dari kantor ke kantor.

Meski penghasilannya tak lagi menentu, ada satu hal yang membuatnya tetap tegak. Yaitu kepercayaan pelanggan lamanya yang masih mengingat terhadap sentuhan tangannya. Di tangan Herman, menyemir sepatu bukan sekadar membersihkan kotoran, melainkan cara ia merawat martabat dan menjaga dapur tetap mengepul dengan penuh keikhlasan. (*/hnd)

 

DI sudut Kota Palangka Raya, saat matahari mulai meninggi, seorang pria paruh baya tampak berjalan perlahan dengan tas yang setia di bawanya. Namanya Herman. Di usianya yang menginjak 59 tahun, ia adalah salah satu penjaga sisa-sisa tradisi yang kian pudar. Ya, jasa semir sepatu keliling.

Jefri, Palangka Raya

LAHIR di Barabai, Kalimantan Selatan pada tahun 1966 silam, Herman bukanlah orang baru dalam kerasnya kehidupan jalanan. Jiwa merantaunya telah membawanya menapaki aspal Sumatra, hiruk-pikuk Jakarta, hingga dinginnya Bandung. Namun, sejak tahun 1993, hatinya mulai tertambat di Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah.

Electronic money exchangers listing

“Saya sudah terbiasa merantau dan bergaul dengan orang di berbagai daerah,” kenangnya dengan nada bicara yang tenang saat dibincangi Prokalteng.co, Kamis (2/4/2026).

Pengalaman hidup itulah yang membentuknya menjadi sosok yang ulet dan penuh tata krama. Selama 16 tahun terakhir, tas perlengkapan semir adalah napasnya. Ada satu detail kecil yang menunjukkan betapa ia sangat menghargai pelanggannya. Yaitu di dalam tas tersebut, ia selalu menyiapkan sandal untuk dipinjamkan kepada pelanggan. Sebab, ia tak ingin pelanggannya bertelanjang kaki saat menunggu sepatu mereka ia buat mengkilap kembali.

Baca Juga :  Kisah Pedagang Pasar Kahayan, 11 Tahun Jualan, Baru Sekarang Lapak Kebanjiran

Namun, zaman berubah lebih cepat dari gerakan sikatnya. Herman bercerita dengan jujur bahwa minat masyarakat kini sudah merosot tajam hingga 70 persen terhadap jasanya itu.

“Dulu sepatu kulit banyak dipakai, sekarang sudah jarang,” keluhnya pelan.

Bagi Herman, dari jasanya itu bukan lagi soal mematok harga. Saat ditanya tarif, ia hanya tersenyum. Menurutnya biasa ia menerima kisaran Rp3000 hingga Rp10000  atau berapapun yang diberikan pelanggan dengan sukarela.

“Dikasih berapa saja, yang penting halal,” ucapnya lirih.

Kalimat itu bukan sekadar bumbu percakapan. Sebagai kepala keluarga dengan seorang istri dan tiga anak, Herman terbukti telah memikul beban yang nyata. Di usia senjanya, ia menyadari bahwa mencari pekerjaan baru bukanlah perkara mudah. Maka, bertahan adalah satu-satunya pilihan yang ia miliki saat ini.

Baca Juga :  Bikin Waktu Lebih Menyenangkan, Ini 8 Ide Ngabuburit Asyik Jelang Buka Puasa Ramadan

Melihat sosok Herman, adalah potret nyata dari ketekunan yang mulai perlahan terlupakan. Di tengah kepungan tren alas kaki modern dan gaya hidup serba cepat, ia tetap memilih untuk berjalan kaki keliling kota, menawarkan jasanya dari kantor ke kantor.

Meski penghasilannya tak lagi menentu, ada satu hal yang membuatnya tetap tegak. Yaitu kepercayaan pelanggan lamanya yang masih mengingat terhadap sentuhan tangannya. Di tangan Herman, menyemir sepatu bukan sekadar membersihkan kotoran, melainkan cara ia merawat martabat dan menjaga dapur tetap mengepul dengan penuh keikhlasan. (*/hnd)

 

Terpopuler

Artikel Terbaru