Harga Plastik Meroket Dua Kali Lipat, Pelaku UMKM di Lamandau “Menjerit”

NANGA BULIK, PROKALTENG.CO – Kelompok pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Kabupaten Lamandau kini tengah menghadapi situasi sulit. Kenaikan harga plastik yang meroket memaksa para pedagang untuk memutar otak dan merelakan margin keuntungan mereka menipis demi menjaga loyalitas pelanggan.

Kenaikan harga ini dirasakan sangat signifikan, terutama memasuki bulan April. Salah satu pelaku usaha jasa boga, Mama Revan, pemilik usaha Gorengan Mama Revan, mengungkapkan bahwa fenomena ini merupakan yang terparah selama sepuluh tahun ia bergelut di dunia usaha.

“Kemarin dapat info memang akan ada kenaikan setelah Lebaran. Pas saya cek kemarin, harganya sudah naik sekitar 25%,” ujarnya saat dikonfirmasi pada Senin (20/04/2026).

Baca Juga :  NDX AKA Buka Expo Lamandau 2025, Hotel dan Penginapan di Nanga Bulik Penuh Dipesan

Mama Revan merincikan bahwa beberapa jenis plastik mengalami kenaikan harga yang cukup drastis. Sebagai contoh, plastik jenis ziplock yang semula dibanderol Rp 100.000 per pak, kini melonjak menjadi Rp 125.000.

“Dari 100 ribu naik ke 125 ribu, itu sudah naik 25%. Ini rekor tertinggi selama 10 tahun saya jualan,” jelasnya.

Kondisi ini menempatkan para pelaku UMKM di posisi yang serba salah. Di satu sisi, biaya operasional dan pengemasan membengkak, namun di sisi lain, mereka khawatir jika menaikkan harga jual, pelanggan akan lari.

Ia menjelaskan. Bahwa saat ini strategi yang diambil adalah mengurangi keuntungan bersih. Hal ini dilakukan agar harga dagangannya tetap terjangkau oleh masyarakat luas, meski risiko pendapatan yang didapat tidak sebanding dengan jerih payah seperti biasanya.

Electronic money exchangers listing
Baca Juga :  Bupati Lamandau Serahkan Dana Hibah Kepada Pelaku UMKM

“Kami Para pelaku UMKM di Lamandau berharap pemerintah daerah melalui dinas terkait, dapat memantau stok dan harga di pasaran, serta memberikan solusi atau subsidi bagi para pengusaha kecil agar roda ekonomi kerakyatan tetap bisa berputar di tengah tekanan harga bahan baku dan pendukung,” tandasnya. (bib)

NANGA BULIK, PROKALTENG.CO – Kelompok pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Kabupaten Lamandau kini tengah menghadapi situasi sulit. Kenaikan harga plastik yang meroket memaksa para pedagang untuk memutar otak dan merelakan margin keuntungan mereka menipis demi menjaga loyalitas pelanggan.

Kenaikan harga ini dirasakan sangat signifikan, terutama memasuki bulan April. Salah satu pelaku usaha jasa boga, Mama Revan, pemilik usaha Gorengan Mama Revan, mengungkapkan bahwa fenomena ini merupakan yang terparah selama sepuluh tahun ia bergelut di dunia usaha.

“Kemarin dapat info memang akan ada kenaikan setelah Lebaran. Pas saya cek kemarin, harganya sudah naik sekitar 25%,” ujarnya saat dikonfirmasi pada Senin (20/04/2026).

Electronic money exchangers listing
Baca Juga :  NDX AKA Buka Expo Lamandau 2025, Hotel dan Penginapan di Nanga Bulik Penuh Dipesan

Mama Revan merincikan bahwa beberapa jenis plastik mengalami kenaikan harga yang cukup drastis. Sebagai contoh, plastik jenis ziplock yang semula dibanderol Rp 100.000 per pak, kini melonjak menjadi Rp 125.000.

“Dari 100 ribu naik ke 125 ribu, itu sudah naik 25%. Ini rekor tertinggi selama 10 tahun saya jualan,” jelasnya.

Kondisi ini menempatkan para pelaku UMKM di posisi yang serba salah. Di satu sisi, biaya operasional dan pengemasan membengkak, namun di sisi lain, mereka khawatir jika menaikkan harga jual, pelanggan akan lari.

Ia menjelaskan. Bahwa saat ini strategi yang diambil adalah mengurangi keuntungan bersih. Hal ini dilakukan agar harga dagangannya tetap terjangkau oleh masyarakat luas, meski risiko pendapatan yang didapat tidak sebanding dengan jerih payah seperti biasanya.

Baca Juga :  Bupati Lamandau Serahkan Dana Hibah Kepada Pelaku UMKM

“Kami Para pelaku UMKM di Lamandau berharap pemerintah daerah melalui dinas terkait, dapat memantau stok dan harga di pasaran, serta memberikan solusi atau subsidi bagi para pengusaha kecil agar roda ekonomi kerakyatan tetap bisa berputar di tengah tekanan harga bahan baku dan pendukung,” tandasnya. (bib)

Terpopuler

Artikel Terbaru