25.8 C
Jakarta
Thursday, July 25, 2024
spot_img

Lebaran dan Akhlak Memuliakan Pahlawan Pangan

Oleh Mul Sujarwo dan Destika Cahyana*)

BARU saja umat Islam merayakan Hari Raya Idul Fitri 2024. Di Tanah Air, Idul Fitri identik dengan ketersediaan makanan dan minuman yang berlimpah ruah.

Hal itu dapat dipahami karena memang salah satu makna fitri berasal dari kata ifthar yaitu makan kembali setelah dalam jangka waktu panjang berhenti. Ifthar kemudian diartikan berbuka atau sarapan.

Pendek kata Idul Fitri dapat juga dimaknai sebagai hari raya makanan di samping bermakna hari raya yang suci.

Menikmati makan dan minum di kala Lebaran mengingatkan kepada siapa pemberi pangan tersebut. Tentu secara hakikat pemberi pangan tersebut adalah Tuhan Yang Maha Esa.

Namun, di balik itu terdapat pihak-pihak yang menjadi wasilah atau perantara sehingga pangan tersebut dapat terhidang di meja makan.

Mereka adalah petani, peternak, pemasok benih dan pupuk, pedagang, ekspedisi, hingga koki di dapur yang mengolah pangan tersebut sehingga dapat dinikmati.

Jika koki di dapur berada di rumah, maka juru masak tersebut adalah ibu atau asisten rumah tangga.

Demikian pula ketika koki itu di warung atau restoran, maka chef tersebut para pegawainya. Para koki itu dapat berada di rumah keluarga, kerabat, sahabat, dan tetangga yang berjasa menyediakan pangan.

Pada konteks inilah artikel ini dibuat sebagai ajakan pada saat Lebaran untuk membiasakan menghargai dan berterima kasih pada semua pihak yang telah menyediakan pangan dari hulu hingga ke hilir.

Dalam tradisi Islam, doa sebelum makan yang paling populer adalah yang tertulis pada Kitab Al Azkar yang ditulis oleh Imam Nawawi.

Pada kitab yang berisi doa-doa tersebut, Imam Nawawi menulis bahwa Rasulullah membaca doa sebelum makan yaitu Allaahumma baarik lanaa fii maa razaqtanaa wa qinaa ażaaban naar, bismillaahir rahmaanir rahiim dengan makna kurang lebih: “Ya Allah, berkahilah kami pada rezeki yang telah Kau karuniakan untuk kami dan lindungilah kami dari siksa neraka. Dengan nama Allah yang maha pengasih dan maha penyayang.”

Untaian doa tersebut begitu populer, tetapi terkesan hanya berdoa untuk diri sendiri atau kumpulan orang yang hendak makan bersama meskipun menggunakan kata ganti nahnu atau kami.

Baca Juga :  2 Kecelakaan Maut di Banjarmasin terjadi selama Libur Lebaran

Doa tersebut belum secara eksplisit mengungkapkan penghormatan, penghargaan, serta terima kasih kepada pihak-pihak yang menyediakan pangan.

Padahal, tradisi Islam begitu kaya. Banyak yang terlupa bahwa di kitab tersebut terdapat beragam adab dan doa terkait dengan makanan dan minuman termasuk terhadap pihak-pihak yang mengundang dan menyediakan makanan.

Salah satu doa di kitab tersebut adalah ketika selesai makan dalam sebuah undangan perjamuan bersama-sama, umat Islam, disunahkan membaca doa: Allaahumma baariklahum fiimaa razaqtahum waghfirlahum warhamhum, yang artinya “Ya Allah, berkahilah mereka (yang memberi makan aku) pada nikmat yang Kau anugerahkan kepada mereka. Ampuni dan rahmatilah mereka.”

Kitab tersebut mengajak bahwa ketika saudara, teman, sahabat, tetangga, atau siapa pun memberi makanan atau mentraktir makan, maka umat Islam dibiasakan untuk menghormati serta mengucapkan terima kasih dengan mendoakan pihak-pihak yang telah menyediakan makanan dan minuman tersebut agar memperoleh kebaikan-kebaikan.

Penghormatan, ucapan terima kasih, dan doa kepada pihak-pihak yang memberi makan merupakan cermin dari akhlak mulia.

Ajakan ini sederhana, tetapi penting agar umat Islam agar terbiasa memuliakan makanan dan minuman termasuk kepada para pihak yang menyediakan pangan.

Sampah makanan

Empat tahun lalu, Kiai M. Faizi, pengasuh Pesantren An-Nuqayah Daerah Sabajarin (Al-Furqan) di Sumenep, Madura, pernah menulis sebuah buku berjudul Merusak Bumi dari Meja Makan yang intinya mengungkap bahwa banyak adab makan dan minum yang terlupa untuk dilakukan oleh umat Islam sehingga merusak Bumi.

Kiai M. Faizi misalnya menyebut bahwa sampah makanan berupa sisa makanan sejak dulu dilarang oleh para leluhur bangsa ini yang mayoritas umat Islam.

Nasi yang tercecer sering digambarkan kakek dan nenek menangis. Ia menangis karena sedih telah melewati proses panjang sejak disemai petani di sawah, tumbuh, dipanen, diangkut pedagang, ditumbuk, ditanak oleh ibu di dapur, tetapi kemudian mubazir karena tidak disantap manusia sehingga terbuang percuma.

Tentu saat ini manusia modern sadar bahwa sampah makanan (food waste) menjadi problem yang sulit diatasi justru ketika bangsa ini masih mengimpor beras.

Banyak ahli pangan menyatakan jika Indonesia berhasil mengatasi food waste dan food loss, maka sesungguhnya bangsa ini tidak perlu mengimpor karena sudah cukup.

Baca Juga :  Tetap Bersyukur! Dilarang Open Hause tapi Diperbolehkan Mudik

Food loss adalah istilah pangan yang hilang sejak proses panen, pengangkutan, pengemasan, hingga proses penyediaan.

Di buku tersebut M. Faizi juga mengingatkan bahwa para ulama terdahulu menganggap ritual makan begitu sakral.

Ritual makan dimuliakan seperti kebiasaan para ulama terdahulu mewajibkan santrinya menggunakan kopiah (peci). Ritual makan sarapan, makan siang, makan malam sama sakralnya dengan sembahyang atau shalat.

Guru M. Faizi, misalnya, menyebut dengan gaya bahasa metafora melalui sebuah pepatah (mahfudzat): “Saya makan itu saya shalat”. Hal tersebut menggambarkan bahwa ritual makan adalah ritual ibadah yang harus dimuliakan.

Tradisi Islam yang kaya dan luhur terkait makanan itu mengingatkan pada tradisi yang juga dikenal dunia yaitu tradisi makan di Jepang.

Masyarakat Jepang sebelum makan dan minum akan mengucapkan itadakimasu yang maknanya bukan sekadar selamat makan.

Ucapan itadakimasu merupakan bentuk penghormatan dan penghargaan terhadap para pihak yang telah menyediakan pangan termasuk penghormatan pada bahan pangan yang hendak dikonsumsi serta pada Bumi yang menyediakan bahan pangan.

Demikian pula setelah makan dan minum mengucapkan gochisousamadeshita yang maknanya terima kasih terhadap semua pihak yang telah menyediakan pangan dari hulu hingga ke hilir.

Ucapan gochisousamadeshita diucapkan kepada orang yang telah mentraktir atau diucapkan pada kasir ketika membayar makanan setelah menyantapnya.

Pada bulan Syawal ini, dengan momentum Idul Fitri 1445 Hijriah, ajakan menghormati makanan dan ritual makan tersebut menjadi relevan.

Oleh karena itu, pada Lebaran tahun ini marilah membiasakan diri berterima kasih kepada para penyedia pangan dari petani, peternak, penyedia benih dan pupuk, pedagang, ekspedisi, hingga para koki di dapur maupun keluarga dan sahabat yang kerap mentraktir makan melalui untaian doa setelah makan.

Mereka adalah pahlawan-pahlawan pangan bagi umat manusia. Hanya bangsa yang menghormati pangan dan memuliakan para pahlawan pangan yang mampu berdaulat pangan.

*) Mul Sujarwo adalah Wakil Ketua DPP Gema Mathla’ul Anwar dan Destika Cahyana merupakan peneliti di Pusat Riset Tanaman Pangan, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN)

Oleh Mul Sujarwo dan Destika Cahyana*)

BARU saja umat Islam merayakan Hari Raya Idul Fitri 2024. Di Tanah Air, Idul Fitri identik dengan ketersediaan makanan dan minuman yang berlimpah ruah.

Hal itu dapat dipahami karena memang salah satu makna fitri berasal dari kata ifthar yaitu makan kembali setelah dalam jangka waktu panjang berhenti. Ifthar kemudian diartikan berbuka atau sarapan.

Pendek kata Idul Fitri dapat juga dimaknai sebagai hari raya makanan di samping bermakna hari raya yang suci.

Menikmati makan dan minum di kala Lebaran mengingatkan kepada siapa pemberi pangan tersebut. Tentu secara hakikat pemberi pangan tersebut adalah Tuhan Yang Maha Esa.

Namun, di balik itu terdapat pihak-pihak yang menjadi wasilah atau perantara sehingga pangan tersebut dapat terhidang di meja makan.

Mereka adalah petani, peternak, pemasok benih dan pupuk, pedagang, ekspedisi, hingga koki di dapur yang mengolah pangan tersebut sehingga dapat dinikmati.

Jika koki di dapur berada di rumah, maka juru masak tersebut adalah ibu atau asisten rumah tangga.

Demikian pula ketika koki itu di warung atau restoran, maka chef tersebut para pegawainya. Para koki itu dapat berada di rumah keluarga, kerabat, sahabat, dan tetangga yang berjasa menyediakan pangan.

Pada konteks inilah artikel ini dibuat sebagai ajakan pada saat Lebaran untuk membiasakan menghargai dan berterima kasih pada semua pihak yang telah menyediakan pangan dari hulu hingga ke hilir.

Dalam tradisi Islam, doa sebelum makan yang paling populer adalah yang tertulis pada Kitab Al Azkar yang ditulis oleh Imam Nawawi.

Pada kitab yang berisi doa-doa tersebut, Imam Nawawi menulis bahwa Rasulullah membaca doa sebelum makan yaitu Allaahumma baarik lanaa fii maa razaqtanaa wa qinaa ażaaban naar, bismillaahir rahmaanir rahiim dengan makna kurang lebih: “Ya Allah, berkahilah kami pada rezeki yang telah Kau karuniakan untuk kami dan lindungilah kami dari siksa neraka. Dengan nama Allah yang maha pengasih dan maha penyayang.”

Untaian doa tersebut begitu populer, tetapi terkesan hanya berdoa untuk diri sendiri atau kumpulan orang yang hendak makan bersama meskipun menggunakan kata ganti nahnu atau kami.

Baca Juga :  2 Kecelakaan Maut di Banjarmasin terjadi selama Libur Lebaran

Doa tersebut belum secara eksplisit mengungkapkan penghormatan, penghargaan, serta terima kasih kepada pihak-pihak yang menyediakan pangan.

Padahal, tradisi Islam begitu kaya. Banyak yang terlupa bahwa di kitab tersebut terdapat beragam adab dan doa terkait dengan makanan dan minuman termasuk terhadap pihak-pihak yang mengundang dan menyediakan makanan.

Salah satu doa di kitab tersebut adalah ketika selesai makan dalam sebuah undangan perjamuan bersama-sama, umat Islam, disunahkan membaca doa: Allaahumma baariklahum fiimaa razaqtahum waghfirlahum warhamhum, yang artinya “Ya Allah, berkahilah mereka (yang memberi makan aku) pada nikmat yang Kau anugerahkan kepada mereka. Ampuni dan rahmatilah mereka.”

Kitab tersebut mengajak bahwa ketika saudara, teman, sahabat, tetangga, atau siapa pun memberi makanan atau mentraktir makan, maka umat Islam dibiasakan untuk menghormati serta mengucapkan terima kasih dengan mendoakan pihak-pihak yang telah menyediakan makanan dan minuman tersebut agar memperoleh kebaikan-kebaikan.

Penghormatan, ucapan terima kasih, dan doa kepada pihak-pihak yang memberi makan merupakan cermin dari akhlak mulia.

Ajakan ini sederhana, tetapi penting agar umat Islam agar terbiasa memuliakan makanan dan minuman termasuk kepada para pihak yang menyediakan pangan.

Sampah makanan

Empat tahun lalu, Kiai M. Faizi, pengasuh Pesantren An-Nuqayah Daerah Sabajarin (Al-Furqan) di Sumenep, Madura, pernah menulis sebuah buku berjudul Merusak Bumi dari Meja Makan yang intinya mengungkap bahwa banyak adab makan dan minum yang terlupa untuk dilakukan oleh umat Islam sehingga merusak Bumi.

Kiai M. Faizi misalnya menyebut bahwa sampah makanan berupa sisa makanan sejak dulu dilarang oleh para leluhur bangsa ini yang mayoritas umat Islam.

Nasi yang tercecer sering digambarkan kakek dan nenek menangis. Ia menangis karena sedih telah melewati proses panjang sejak disemai petani di sawah, tumbuh, dipanen, diangkut pedagang, ditumbuk, ditanak oleh ibu di dapur, tetapi kemudian mubazir karena tidak disantap manusia sehingga terbuang percuma.

Tentu saat ini manusia modern sadar bahwa sampah makanan (food waste) menjadi problem yang sulit diatasi justru ketika bangsa ini masih mengimpor beras.

Banyak ahli pangan menyatakan jika Indonesia berhasil mengatasi food waste dan food loss, maka sesungguhnya bangsa ini tidak perlu mengimpor karena sudah cukup.

Baca Juga :  Tetap Bersyukur! Dilarang Open Hause tapi Diperbolehkan Mudik

Food loss adalah istilah pangan yang hilang sejak proses panen, pengangkutan, pengemasan, hingga proses penyediaan.

Di buku tersebut M. Faizi juga mengingatkan bahwa para ulama terdahulu menganggap ritual makan begitu sakral.

Ritual makan dimuliakan seperti kebiasaan para ulama terdahulu mewajibkan santrinya menggunakan kopiah (peci). Ritual makan sarapan, makan siang, makan malam sama sakralnya dengan sembahyang atau shalat.

Guru M. Faizi, misalnya, menyebut dengan gaya bahasa metafora melalui sebuah pepatah (mahfudzat): “Saya makan itu saya shalat”. Hal tersebut menggambarkan bahwa ritual makan adalah ritual ibadah yang harus dimuliakan.

Tradisi Islam yang kaya dan luhur terkait makanan itu mengingatkan pada tradisi yang juga dikenal dunia yaitu tradisi makan di Jepang.

Masyarakat Jepang sebelum makan dan minum akan mengucapkan itadakimasu yang maknanya bukan sekadar selamat makan.

Ucapan itadakimasu merupakan bentuk penghormatan dan penghargaan terhadap para pihak yang telah menyediakan pangan termasuk penghormatan pada bahan pangan yang hendak dikonsumsi serta pada Bumi yang menyediakan bahan pangan.

Demikian pula setelah makan dan minum mengucapkan gochisousamadeshita yang maknanya terima kasih terhadap semua pihak yang telah menyediakan pangan dari hulu hingga ke hilir.

Ucapan gochisousamadeshita diucapkan kepada orang yang telah mentraktir atau diucapkan pada kasir ketika membayar makanan setelah menyantapnya.

Pada bulan Syawal ini, dengan momentum Idul Fitri 1445 Hijriah, ajakan menghormati makanan dan ritual makan tersebut menjadi relevan.

Oleh karena itu, pada Lebaran tahun ini marilah membiasakan diri berterima kasih kepada para penyedia pangan dari petani, peternak, penyedia benih dan pupuk, pedagang, ekspedisi, hingga para koki di dapur maupun keluarga dan sahabat yang kerap mentraktir makan melalui untaian doa setelah makan.

Mereka adalah pahlawan-pahlawan pangan bagi umat manusia. Hanya bangsa yang menghormati pangan dan memuliakan para pahlawan pangan yang mampu berdaulat pangan.

*) Mul Sujarwo adalah Wakil Ketua DPP Gema Mathla’ul Anwar dan Destika Cahyana merupakan peneliti di Pusat Riset Tanaman Pangan, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN)

spot_img
spot_img

Terpopuler

spot_img

Artikel Terbaru